Distribusi Gas Elpiji Subsidi Salah Sasaran

img
Gas Elpiji 3 kg atau tabung melon bersubsidi. Foto. Ist.

Harianmomentum.com--Warga Bandarlampung kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kg. Langkanya gas melon ini diduga akibat distribusinya salah sasaran. Gas bersubsidi banyak dinikmati kalangan industri dan masyarakat kelas menengah ke atas.

Kabid Humas Hiswana Migas Lampung Tri Purnomo 

Kesenjangan harga gas elpiji subsidi dengan nonsubsidi menjadi pemicu banyaknya masyarakat menengah ke atas yang mengambil jatah gas bagi warga kurang mampu itu.

Kabid Humas Hiswana Migas Lampung Tri Purnomo mengatakan, selisih harga gas subsidi dan nonsubsidi memang cukup jauh. Untuk tabung ukuran tabung 3 kg (subsidi) harganya Rp16.500. Artinya, untuk 12 kg butuh 4 tabung dengan harga Rp66 ribu. Sedangkan untuk gas tabung elpiji 12 kg (nonsubsidi) harganya Rp140 ribu.

“Jadi, harganya lebih dua kali lipat. Disparitas itulah yang membuat ibu-ibu rumah tangga (menengah ke atas) ikut beralih ke gas subsidi. Ini artinya kesadaran masyarakat masih rendah,” ujar Tri, Minggu (09/9/2018).

Tri menuturkan, yang paling banyak menggunakan gas subsidi itu masyarakat menengah ke atas. Pihaknya mengalami kesulitan mendata pembeli dari kalangan masyarakat mampu atau bukan, karena yang membeli pembantu rumah tangganya.

Sebenarnya Hiswana Migas Lampung sudah membuat ketentuan distribusi gas elpiji. Sejak awal konversi minyak tanah ke elpiji, gas subsidi diperuntukkan bagi warga menengah ke bawah. Setiap pangkalan juga punya buku yang diisi para pembeli tetap.

“60 persen kami wajibkan untuk lingkungan sekitar pangkalan, dan 40 persen itu ada pengecer. Tapi sekarang ada yang menjual Rp20 ribu sampai Rp27 ribu, itu di tingkat pengecer, bukan di pangkalan. Apabila ada pangkalan kami yang menjual di atas Rp16 ribu, silakan dilaporkan. Di situ ada papan nama penjual, laporkan ke kami atau Pertamina, akan kami tindak tegas,” tegasnya.

Sudah lima pangkalan yang diputus kerjasama lantaran melanggar aturan HET (harga eceran tertinggi). Terkait hotel, kafe atau industri yang masih menggunakan gas subsidi, Tri mengatakan, pihaknya rutin menggelar sidak dengan menggandeng Dinas Perdagangan.

“Apabila ditemukan akan dicabut surat izin usahanya. Tapi sejauh ini memang belum ada yang diputus. Ini tetap dilakukan sebagai pembelajaran masyarakat, tapi kan tidak langsung,” kata dia.

Lebih lanjut Tri mengungkapkan, kedepan distribusi gas elpiji akan menggunakan sistem tertutup. Dengan begitu penyaluran elpiji 3 kg bersubsidi bisa tepat sasaran. Pertamina akan menggunakan sistem ini mulai Oktober mendatang. (ira).



Leave a Comment