Kembali ke Khittah

img
Andi Panjaitan, Pemred Harian Momentum.

MOMENTUM, Bandarlampung--Pasangan bakal calon walikota dan wakil walikota Bandarlampung dari jalur independen, Firmansyah Y Alfian-Bustomi Rosadi, dinyatakan gugur.

Dari total 55.555 berkas tambahan dukungan yang mereka serahkan ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, 9.043 diantaranya dinyatakan tidak lengkap.

Hanya 46.518 dukungan yang memenuhi syarat. Sementara angka minimal yang harus dipenuhi dalam penyerahan tahap dua (perbaikan) itu sebanyak 53.210. Kurang 6.692 dukungan.

Apa boleh buat. Regulasi membuat langkah mereka terhenti sampai di tahap ini. Program “Cerdas Berjamaah” yang diusung pasangan ini tak dapat direalisasikan.

Kecuali, jika nanti walikota terpilih periode 2021-2026 tertarik dengan gagasan yang mereka miliki. Bisa saja program mulia itu diadopsi.

Meskipun kemungkinan hal itu sangat kecil. Karena calon walikota lainnya tentu sudah punya program kerja sendiri.

Tak mengapa. Toh bang Firman—panggilan saya kepada Firmansyah Y Alfian, masih bisa mengaplikasikannya di Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya. Perguruan tinggi yang kini dia naungi. 

Semangat pembangunan kota Bandarlampung yang sejatinya akan dilakukan bersama seluruh komponen masyarakat, bisa digantikan para mahasiswa di kampusnya.

Setidaknya, semangat “hijrah” yang kini dia tekuni bisa ditularkan kepada para penimba ilmu disana. Sehingga akan banyak tercipta generasi handal dan beriman jebolan dari “kampus biru” tersebut.

Mampu menjaga generasi penerus bangsa yang bertaqwa, sama saja dengan sukses berinvestasi dunia dan akhirat.

Pun begitu dengan Bustomi Rosadi. Dosen Universitas Lampung (Unila) bergelar Profesor bidang pengelolaan air itu masih tetap bisa mengaplikasikan ilmunya kepada mahasiswanya. Di Fakultas Pertanian Unila.

Kegagalan untuk menjadi calon pemimpin di Bandarlampung bukanlah segalanya. Mungkin Allah SWT punya rencana yang lebih baik terhadap kakanda berdua. Kembali ke Khittah, tetap fokus di bidang pendidikan. 

Bukan hal yang mustahil. Jika dikemudian hari justru para mahasiswa kakanda berdua yang menjadi pemimpin di kota ini.

Bukankah hakikat seorang pemimpin itu sukses menciptakan pemimpin selanjutnya? Itu saja. Tabikpun. (***)



Berita Terkait

Leave a Comment