MOMENTUM, Blambanganumpu--Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Waykanan menggalang kekuatan lintas sektor untuk mendorong industri kopi naik kelas.
Melalui inovasi Kopi Hilir Bangkit, pengembangan kopi diarahkan tidak berhenti pada produksi biji, tetapi berlanjut hingga pengolahan dan pemasaran produk bernilai tambah.
Kepala Disperindag Waykanan Riva Adi Candra mengatakan, penguatan industri kopi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari petani, pengepul, pelaku industri kecil dan menengah (IKM), hingga pemerintah dan lembaga pembiayaan.
Upaya itu dilakukan melalui Taking Ownership Proyek Perubahan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II. Kegiatan tersebut menjadi forum untuk menyatukan komitmen dan membagi peran stakeholder dalam menjalankan inovasi Kopi Hilir Bangkit.
Kopil Hilir Bangkit merupakan akronim dari Kolaborasi Optimalisasi Potensi Industri Kopi melalui Hilirisasi dan Tata Kelola Sentra IKM Kopi Kecamatan Banjit Berbasis Kinerja dan Terintegrasi.
Program tersebut menyasar penguatan ekosistem industri kopi dari hulu hingga hilir, khususnya Sentra IKM Kopi Kecamatan Banjit. Tujuannya meningkatkan pengolahan, nilai tambah, daya saing, sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Taking Ownership melibatkan mentor proyek perubahan, Asisten Administrasi Umum Setdakab Waykanan Rinaldi, bersama sejumlah stakeholder: BPS, Bappeda, BPKAD, BKPSDM, Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi dan UMKM, Bagian Organisasi, Bagian Hukum, KCP Bank Lampung Baradatu, pelaku IKM kopi, petani, pengepul, serta tim internal Disperindag.
Masing-masing stakeholder memberikan dukungan dan masukan sesuai tugas serta kewenangannya. Dukungan tersebut mencakup penyediaan data, perencanaan dan penganggaran, penguatan kelembagaan, pengembangan sumber daya manusia, regulasi, pembiayaan, hingga pemasaran produk kopi.
Riva menegaskan, proyek perubahan tersebut tidak akan berjalan maksimal jika hanya mengandalkan satu perangkat daerah.
"Kopi Hilir Bangkit bukan hanya proyek perubahan Dinas Perindag, tetapi gerakan kolaboratif. Kita ingin membangun ekosistem industri kopi yang terintegrasi dari hulu sampai hilir sehingga kopi Waykanan memiliki nilai tambah, daya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Menurut dia, keterlibatan banyak pihak menjadi modal penting agar inovasi tersebut tidak berhenti sebagai gagasan. Setiap stakeholder diharapkan menjalankan perannya secara terukur dan berkelanjutan.
Hal senada disampaikan mentor proyek perubahan Rinaldi. Dia mendukung penguatan ownership stakeholder karena sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar proyek perubahan memberi dampak lebih luas terhadap pembangunan ekonomi daerah.
Komitmen serupa juga dibangun di internal Disperindag. Sekretaris Dinas, para kepala bidang, pejabat fungsional, dan staf diarahkan memahami tugas masing-masing dalam mendukung implementasi program.
Dengan terbentuknya komitmen lintas sektor tersebut, Kopi Hilir Bangkit ditargetkan menjadi model pengembangan Sentra IKM Kopi Kecamatan Banjit yang berbasis kinerja, terintegrasi, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Program itu sekaligus diharapkan mampu mendorong hilirisasi kopi Waykanan, memperkuat industri pengolahan, memperluas pemasaran produk IKM, serta meningkatkan nilai ekonomi komoditas kopi daerah. “Bersama kita bangun ekosistem kopi Waykanan dari hulu hingga hilir,” tegas Riva. (**)
Editor: Munizar
