AI dan Integritas Riset Jadi Bahasan Seri Literasi ke-8 Perpustakaan UIN Gusdur

img
Yoga Rifai Hamzah, praktisi teknologi informasi, digital, dan literasi. Foto: Ist.

MOMENTUM, Pekalongan — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah cara mahasiswa belajar dan melakukan penelitian. Teknologi ini dapat mempercepat pekerjaan akademik, tetapi penggunaannya tanpa verifikasi dan kendali juga berisiko mengganggu integritas riset.

Persoalan tersebut menjadi bahasan dalam Seri Literasi ke-8 Perpustakaan UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) Pekalongan, Rabu (7/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di lantai 3 Perpustakaan UIN Gusdur itu menghadirkan praktisi teknologi informasi, digital, dan literasi, Yoga Rifai Hamzah, sebagai pembicara.

Sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah pertanyaan dan pandangan kritis peserta mengenai penggunaan AI untuk kebutuhan akademik dan penelitian.

Koordinator Pengembangan SDM Perpustakaan sekaligus Penanggung Jawab Seri Literasi, Khusnu Asirah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program literasi yang rutin diselenggarakan Perpustakaan UIN Gusdur.

Menurutnya, Seri Literasi menjadi ruang bagi perpustakaan untuk menghadirkan tema yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Seri ke-8 secara khusus mengangkat tema AI dan Integritas Riset agar mahasiswa tidak hanya memahami kemampuan AI, tetapi juga batas etis penggunaannya dalam kegiatan akademik.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan UIN Gusdur, Hj. Junaeti, menekankan pentingnya peran perpustakaan dalam mendukung kebutuhan akademik mahasiswa di tengah perkembangan teknologi.

Perpustakaan, kata dia, tidak hanya berfungsi sebagai tempat mencari dan menyimpan sumber informasi, tetapi juga menjadi ruang belajar untuk meningkatkan literasi informasi dan kemampuan mahasiswa memilah informasi secara kritis.

AI Bukan Pengganti Peneliti

Dalam paparannya, Yoga mengajak mahasiswa menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti pekerjaan intelektual manusia.

Ia memperkenalkan sejumlah fungsi AI dalam proses penelitian, antara lain sebagai brainstorming partner, research assistant, Socratic tutor, dan devil's advocate. AI dapat digunakan untuk memetakan ide, mencari perspektif, merangkum informasi, hingga menguji kelemahan sebuah argumen.

Namun, Yoga mengingatkan risiko cognitive offloading, yakni ketika beban berpikir secara bertahap dialihkan kepada mesin.

Mahasiswa, menurutnya, perlu membedakan penggunaan AI untuk membantu berpikir dengan penggunaan AI untuk menggantikan proses berpikir.

"AI seharusnya memperpendek pekerjaan mekanis, tetapi memperdalam pekerjaan intelektual," ujarnya.

Ia mengajak mahasiswa melakukan uji sederhana: jika AI dimatikan, apakah mereka masih menguasai penelitian yang sedang dikerjakan?

Pertanyaan tersebut digunakan untuk mengukur apakah AI masih berfungsi sebagai alat bantu belajar atau justru telah menjadi "joki digital".

Seri Literasi ke-8 Perpustakaan UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) Pekalongan. Foto: Ist.

Mahasiswa Praktik Verifikasi Referensi

Yoga tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak peserta melakukan simulasi verifikasi referensi.

Peserta diminta meminta AI memberikan sejumlah referensi jurnal lengkap dengan DOI. Referensi tersebut kemudian diperiksa melalui sumber akademik seperti Google Scholar dan GARUDA.

Praktik itu menunjukkan bahwa jawaban AI tidak otomatis menjadi fakta hanya karena disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.

"AI boleh menawarkan kemungkinan. Peneliti yang menentukan mana yang benar," katanya.

Yoga juga memperkenalkan alur kerja penelitian Ask – Explore – Verify – Think – Challenge – Write – Check. Dalam alur tersebut, manusia tetap menjadi pengendali proses, mulai dari menentukan pertanyaan riset, menggunakan AI untuk eksplorasi, menelusuri sumber asli, membaca dan menyintesis informasi, menguji argumen, menulis, hingga melakukan pemeriksaan akhir.

Menurutnya, persoalan utama bukan pada boleh atau tidaknya mahasiswa menggunakan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan dan siapa yang tetap memegang kendali atas proses intelektual.

Jangan Percaya Begitu Saja Referensi AI

Dalam sesi sumber akademik, peserta juga diajak memahami perbedaan AI generatif dengan database akademik.

AI dapat membantu menemukan arah penelitian, kata kunci, perspektif, dan kemungkinan argumen. Namun, sumber akademik tetap harus ditelusuri melalui artikel asli, data empiris, dan sumber yang dapat diverifikasi.

Sejumlah sumber yang diperkenalkan antara lain Google Scholar, GARUDA, SINTA, DOAJ, Scopus, dan Web of Science.

Peserta juga diperkenalkan dengan lima langkah memeriksa keluaran AI, yakni menelusuri sumber, melakukan cek silang, mengaudit metode, memeriksa tahun terbit, serta memastikan kewajaran sitasi dan keberadaan jurnal maupun penulis yang disebutkan.

Seri Literasi ke-8 Perpustakaan UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) Pekalongan. Foto: Ist.

Penggunaan AI Harus Etis

Pembahasan juga mencakup persoalan disclosure atau keterbukaan mengenai penggunaan AI dalam penelitian.

Penggunaan AI untuk curah gagasan, memperbaiki bahasa, menerjemahkan, merangkum literatur, hingga melakukan analisis memiliki konsekuensi etis yang berbeda. Karena itu, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebijakan kampus, jurnal, dan penerbit.

Yoga juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati memasukkan data penelitian ke layanan AI publik. Data responden, transkrip wawancara, data pribadi, naskah yang belum diterbitkan, serta data yang memiliki batasan lisensi tidak boleh dimasukkan secara sembarangan.

Kegiatan yang dipandu M. Nashrullah dari bagian IT Perpustakaan UIN Gusdur itu berlangsung sekitar dua jam, mulai pukul 09.30 hingga 11.30 WIB.

Di akhir sesi, Yoga mengajak mahasiswa tidak takut terhadap AI, tetapi juga tidak menggunakannya secara membabi buta.

"Jadilah sutradara. Bukan operator," ujarnya.

Pesan tersebut menjadi benang merah materi bahwa AI dapat membantu mempercepat pekerjaan mekanis dan memperluas eksplorasi, tetapi kendali atas proses berpikir dan integritas karya ilmiah tetap berada pada peneliti.

"Pikir dulu. Prompt kemudian. Verifikasi selalu," tutupnya. (*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos