MOMENTUM, Margapunduh--PT Permodalan Nasional Madani (PNM) memperkuat dukungan terhadap pengembangan usaha kakao di Kabupaten Pesawaran, Lampung, melalui penyaluran pembiayaan Rp318 juta kepada 50 pelaku usaha tani kakao serta bantuan alat pengering tenaga surya (solar dryer).
Dukungan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas usaha petani, memperbaiki kualitas hasil panen, dan mendorong peningkatan nilai jual kakao melalui penguatan proses pascapanen.
Pemimpin Regional 1 PNM Endang Nurjani, yang mewakili Direktur Utama PNM, menyampaikan rencana realisasi pembiayaan tersebut dalam kegiatan pemberdayaan desa wisata dan pengembangan ekonomi berbasis kakao di Pekon Ampai, Kecamatan Marga Punduh, Kamis (8/10/2026).
Pembiayaan itu diharapkan membantu petani mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan pendapatan melalui pengelolaan komoditas yang lebih produktif.
Di tingkat daerah, PNM mencatat memiliki 29.383 nasabah PNM Mekaar di Kabupaten Pesawaran dengan outstanding pembiayaan sekitar Rp125,86 miliar. Untuk mendukung pelayanan kepada nasabah, perusahaan tersebut didukung 11 cabang, 148 pendamping, dan 1.940 kelompok nasabah di wilayah itu.
Sementara di Provinsi Lampung, PNM memiliki sekitar 490.000 nasabah dengan outstanding pembiayaan sekitar Rp2 triliun hingga September 2026. Penyaluran pembiayaan sepanjang 2026 tercatat mencapai Rp2,04 triliun.
Selain pembiayaan, PNM menyalurkan bantuan alat pengering kakao bertenaga surya untuk mendukung petani di tiga desa, yakni Sidodadi, Pekon Ampai, dan Desa Maja.
Fasilitas tersebut ditujukan untuk mengatasi kendala pengeringan biji kakao, terutama saat musim hujan. Selama ini, keterbatasan sarana pascapanen membuat sebagian petani terpaksa menjual kakao dalam kondisi basah dengan harga lebih rendah.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, pengeringan merupakan tahapan penting dalam meningkatkan nilai ekonomi kakao. Harga kakao basah dalam kondisi tertentu berkisar Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilogram, sedangkan kakao kering dapat mencapai Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram.
Menurutnya, dukungan teknologi pascapanen perlu diikuti pengembangan industri pengolahan agar manfaat ekonomi komoditas kakao dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah penghasil.
Ia berharap Pekon Ampai dapat berkembang menjadi pusat pengembangan dan produksi solar dryer yang dapat direplikasi untuk mendukung sentra kakao lain di sepanjang pesisir Lampung.
Bupati Pesawaran Nanda Indira Bastian menyambut baik dukungan PNM dan kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekonomi masyarakat. Ia meminta penerima manfaat menjaga dan merawat fasilitas tersebut agar dapat digunakan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung Ety Eliati menyebut Pesawaran memiliki lahan kakao sekitar 25.000,8 hektare dengan produksi sekitar 21.000 ton per tahun.
OJK mendorong pengembangan kakao melalui skema closed-loop, yakni ekosistem usaha yang menghubungkan petani dengan akses pembiayaan, pendampingan, industri pengolahan, serta kepastian pasar melalui pembeli atau offtaker.
Melalui dukungan pembiayaan dan fasilitas pascapanen, PNM diharapkan dapat memperkuat peran petani dalam rantai usaha kakao, tidak hanya sebagai produsen bahan baku, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan komoditas bernilai tambah di tingkat lokal.(*)
Editor: Muhammad Furqon
