MOMENTUM, Panaragan--Penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) dikeluhkan wali murid.
Makanan yang tiba sejak pukul 07.15 WIB dinilai terlalu pagi, sehingga banyak siswa tidak mengonsumsinya.
Berdasarkan pantauan Harianmomentum.com, Selasa (13-10-2026), ompreng berisi MBG dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Panaraganjaya 3, Kecamatan Tulangbawang Tengah, sudah berada di teras sekolah sejak pagi.
Seorang guru MIN 1 Tubaba mengatakan, pola distribusi tersebut telah berlangsung lebih dari satu bulan. Siswa diminta mengonsumsi makanan sekitar pukul 09.00 WIB, sementara ompreng sudah diambil kembali oleh pihak dapur sebelum pukul 10.00 WIB.
“Sekitar jam 9 pagi, MBG ini sudah harus dimakan oleh para siswa. Sebelum jam 10 siang, omprengnya sudah diambil oleh pihak dapur MBG,” ujar seorang guru di sekolah tersebut, Senin (12-10-2026).
Sejumlah wali murid menilai waktu pembagian tersebut tidak tepat, karena sebagian besar siswa sudah sarapan dari rumah. Akibatnya, makanan yang disediakan tidak seluruhnya dikonsumsi.
“Banyak anak-anak sekolah yang tidak makan MBG, termasuk anak saya, karena masih terlalu pagi. Anak-anak sudah sarapan dari rumah, jadi masih kenyang,” kata seorang wali murid.
Wali murid lainnya, berharap distribusi MBG dilakukan menjelang siang, sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 WIB, agar makanan dapat dikonsumsi siswa dan tidak terbuang.
“Kalau banyak yang tidak dimakan, sayang. Makanan itu akhirnya terbuang. Sama saja menghamburkan uang negara,” ujarnya.
Pengawas Produksi dan Kualitas sekaligus ahli gizi SPPG Panaraganjaya 3 Miranda Selvia menjelaskan, proses memasak MBG dimulai pukul 02.30 WIB dan ditargetkan selesai sebelum pukul 06.00 WIB. Lalu, distribusi ke sekolah dimulai pukul 06.00 WIB.
Namun, menurut Miranda, pengambilan kembali ompreng tidak harus dilakukan terburu-buru. Waktu pengambilan dapat disesuaikan dengan perkiraan selesainya makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat.
“Soal tim distribusi mengambil ompreng di sekolah, tidak harus buru-buru. Menyesuaikan saja mana yang menurut mereka sudah selesai dikonsumsi oleh para penerima manfaat,” katanya mewakili Kepala SPPG Panaraganjaya 3, M. Ardi Kurniawan.
Miranda menyebut SPPG Panaraganjaya 3 melayani 2.210 penerima manfaat: pelajar, guru, dan peserta posyandu di wilayah Kelurahan Panaraganjaya dan sekitarnya. Jumlah tersebut tersebar di 12 sekolah dan empat posyandu, dengan total 16 titik distribusi. (**)
Editor: Munizar
