Dari New Normal Muncul Asimilasi

img
Ilustrasi/ist

MOMENTUM, Bandarlampung--Beragam persepsi mengenai covid-19 bermunculan di tengaj masyarakat. Covid-19 memicu masyarakat untuk turut responsif terhadap keadaan yang terjadi sebagaimana setiap ada aksi pasti muncul reaksi. 

Ada yang berasumsi Covid-19 sebagai konspirasi global atau justru bencana kemanusiaan yang melanda umat manusia.

Covid-19 tak selalu positif, tak juga selalu negatif. Selalu ada dua sisi di balik Covid-19 seperti halnya manis dengan pahit dan begitulah seterusnya secara alamiah. 

Segala sesuatu di dunia ini tercipta dalam satu paket yang utuh dengan berpasangan, karena itu covid-19 memiliki dua sisi berbeda yang terdapat untung dan rugi.

Masyarakat yang skeptis akan memandang covid-19 dengan pandangan yang negatif. Covid-19 hanya melukai dinamika masyarakat secara ekonomi, politik, maupun pendidikan di berbagai negara. 

Masyarakat merasa berpangku tangan dengan keadaan karena serangan covid-19 pada kehidupannya.Masyarakat lebih sulit memenuhi kebutuhan primernya apalagi sekundernya dengan kebijakan lockdown atau stay at home tanpa kegiatan produktif untuk terpenuhinya kebutuhan hidup. 

Berbeda lagi dengan cara pandang masyarakat yang optimis terhadap covid-19. Bagi masyarakat optimis tentu akan memandang Covid-19 secara positif. Kebijakan lockdown atau stay at home tak membuat masyarakat ikut tertahan aktivitas produktifnya dalam sehari-hari. 

Justru yang muncul tepatnya suatu hikmah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, hikmah lebih harmonis dengan bersama keluarga di rumah, lebih peduli terhadap Pola Hidup Bersih dan Sehat, dan melek teknologi.

Hikmah covid-19 yang membuat masyarakat untuk lebih progresif lagi justru sebenarnya lebih baik dijadikan pegangan dalam hidup. 

Masyarakat lebih baik berpikir jernih dalam memandang Covid-19 karena kualitas usaha dan hasil akan ikut menyesuaikan.berpikir positif untuk berbagai hal yang lebih baik untuk dilakukan dalam keseharian. 

Membangun budaya masyarakat bukanlah perkara mudah, terlebih covid-19 yang telah melanda masyarakat. 

Masyarakat yang terpapar covid-19 akan lebih banyak merasa cultural shock daripada cultural productive, jika budaya masyarakat tidak segera ditata kembali. Budaya masyarakat sebagaimana masyarakat yang positif memandang Covid-19 justru lebih baik dan lebih membangun budaya yang progresif dengan asimilasi dalam new normal.

Masyarakat kian lebih progresif dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang positif dengan lebih harmonis bersama keluarga di rumah, lebih peduli terhadap Pola Hidup Bersih dan Sehat, dan melek teknologi.

Fase asimilasi dalam new normal membuat budaya lama berbaur dengan budaya baru yang lebih positif terhadap realitas di masyarakat sebagaimana masyarakat yang lebih harmonis bersama keluarga di rumah, lebih peduli terhadap Pola Hidup Bersih dan Sehat, dan melek teknologi. 

Bagaimana tidak, masyarakat yang harus stay at home tentu akan lebih sering berjumpa bersama keluarga di rumah daripada teman sekolah atau teman kantor. Masyarakat lebih rajin mencuci tangan dengan handsanitizer atau handsoap ketika beraktivitas di dalam maupun di luar rumah. 

Masyarakat pun akan terbiasa dengan platform tertentu seperti halnya para pelajar yang melangsungkan kegiatan belajar mengajarnya melalui google meet, google classroom, dan zoom.

Kebiasaan-kebiasaan baru yang muncul akibat fase asimilasi ini tentu harus menjadi dorongan bagi perkembangan budaya masyarakat yang baik. Budaya masyarakat yang sadar dan tersadarkan yang disebabkan fase asimilasi akan lebih efektif bagi kelangsungan hidup.

Segala sesuatu yang berasal dari hati nurani tentu akan lebih mudah dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana kebiasaan baik yang sudah menjadi karakter masyarakat yang unggul dan kokoh. (**)

Penulis: Finka Setiana Adiwisastra (Mahasiswa S1 Hubungan Internasional Universitas Lampung dan Penulis Buku Mahakarya Untuk Indonesia)



Leave a Comment