Usai BBM Nonsubsidi Naik, ESDM Lampung Pastikan Biosolar Tetap Aman

img

MOMENTUM, Bandarlampung--Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Lampung memastikan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Dexlite dan Pertamina Dex tidak berdampak pada ketersediaan maupun distribusi BBM subsidi, khususnya Biosolar.

Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Lampung Sopian Atiek mengatakan, penyesuaian harga hanya berlaku untuk solar nonsubsidi. Sementara kuota Biosolar di Lampung hingga saat ini masih dalam kondisi normal.

“Iya, yang naik itu kan Dexlite dan Pertamina Dex, artinya solar yang nonsubsidi. Untuk sementara aman-aman saja karena kuota Biosolar kita masih normal, tidak dikurangi, belum ditambah, bahkan penyalurannya sedikit lebih dari kuota. Artinya kuota terpenuhi,” kata Sopian, Senin (20-4-2026).

Menurut dia, dampak kenaikan harga tersebut relatif kecil karena pengguna Dexlite dan Pertamina Dex mayoritas kendaraan pribadi dengan spesifikasi tertentu. Termasuk mobil-mobil keluaran terbaru.

“Secara persentase saya pikir tidak lebih dari 5 persen yang menggunakan itu. Jadi kalaupun ada migrasi ke Biosolar, saya kira tidak banyak, paling 1 sampai 2 persen. Itu pun berisiko pada kendaraan karena mobil-mobil baru biasanya tidak direkomendasikan pakai Biosolar,” jelasnya.

Dia juga memastikan hingga dua hari pascakenaikan harga, belum terlihat adanya lonjakan antrean di SPBU. Realisasi penyaluran Biosolar sampai Maret 2026 pun masih dalam batas wajar.

“Sampai Maret itu masih normal. Setelah kenaikan ini kan baru dua hari, jadi kita belum bisa simpulkan. Nanti kita review di akhir bulan, awal Mei baru kelihatan apakah ada pergeseran konsumsi dari Dexlite dan Pertamina Dex ke Biosolar,” sebutnya.

Dari sisi pasokan, stok BBM nonsubsidi di Terminal BBM Panjang juga dinyatakan aman.

“Sampai minggu kemarin stok di Terminal Panjang itu antara 5 sampai 10 hari. Jadi masih kondisi aman. Pertamina Dex, Pertamax, dan lainnya aman,” tuturnya.

Dia juga membuka kemungkinan penambahan kuota jika konsumsi terus meningkat hingga akhir tahun.

“Kalau melihat prediksi sampai akhir tahun, kuota kita bisa saja harus ditambah. Konsumsinya mungkin naik sekitar 5 sampai 10 persen,” tutupnya.

Sementara, Sekretaris Hiswana Migas Lampung Subhan Efendi memastikan, kondisi di lapangan masih terkendali. Hingga kini belum ada laporan antrean panjang Biosolar di SPBU.

“Alhamdulillah sampai hari ini belum ada laporan antrean panjang. Masih batas normal, masih terkendali. Distribusi juga lancar, tidak ada gangguan berarti,” kata Subhan.

Dia menilai, kenaikan BBM nonsubsidi tidak otomatis mendorong lonjakan konsumsi Biosolar karena perbedaan segmen pengguna.

“Secara logika, kendaraan yang biasa pakai Dex atau Dexlite itu spesifikasinya berbeda. Tidak mungkin sembarangan beralih ke Biosolar karena bisa berdampak ke mesin. Jadi pergeserannya tidak signifikan,” jelasnya.

Dia menambahkan, sistem barcode dan pendataan kendaraan pengguna BBM subsidi yang telah berjalan selama ini dinilai efektif menjaga penyaluran tetap tepat sasaran.

“Semua sudah berbasis barcode dan nomor kendaraan. Selama sesuai data, SPBU wajib melayani. Itu sudah jadi SOP dan berlaku lama,” terangnya.

Pengawasan di tingkat SPBU juga terus diperkuat. Kabid SPBU Hiswana Migas Lampung, Nursalim, menyebut setiap transaksi terpantau melalui CCTV dan sistem pelaporan berkala ke BPH Migas.

“Setiap transaksi terpantau, ada CCTV, ada sistem pelaporan juga. Jadi ruang untuk penyimpangan itu sangat kecil,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, ESDM dan Hiswana Migas Lampung mengimbau masyarakat tetap tenang dan menggunakan BBM sesuai peruntukan tanpa melakukan pembelian berlebihan.

“Kami pastikan distribusi Biosolar lancar dan antrean masih normal. Selama masyarakat bijak, kondisi ini akan tetap kondusif,” tutupnya. (**)









Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos