Lampung Utara Peringkat Kedua Nasional Perluasan Tebu, 2.700 Hektare Siap Panen

img
Petani tebu Lampung Utara. Foto: Hamsah.

MOMENTUM, Kotabumi -- Pemerintah Kabupaten Lampung Utara mencatat capaian signifikan dalam program swasembada pangan nasional, khususnya komoditas gula. Daerah ini menempati peringkat kedua nasional dalam perluasan lahan tebu rakyat.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Lampung Utara, M. Rizki, mengatakan hamparan tebu tahap pertama seluas 2.700 hektare akan segera memasuki masa panen dalam waktu dekat.

“Panen tahap pertama akan dilakukan pada lahan seluas 2.700 hektare dari total program pengembangan tebu rakyat yang mencapai 5.808 hektare pada tahun tanam 2025/2026,” ujar Rizki didampingi Sekretaris Disbunak, Ria Yuliza, di ruang kerjanya, Senin (20/4/2026).

Ria Yuliza menambahkan, capaian tersebut menempatkan Lampung Utara di posisi kedua secara nasional dalam perluasan areal tebu rakyat dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Program pengembangan tebu di Lampung Utara terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama seluas 2.700 hektare yang segera dipanen, sementara tahap kedua mencapai 3.061,85 hektare. Sisanya merupakan lahan bongkar ratoon (BR).

“Setiap petani mendapatkan bantuan bibit sebanyak 60 ribu per hektare serta insentif tenaga kerja untuk penanaman awal,” jelas Ria.

Program ini merupakan bagian dari upaya mendukung kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan, khususnya gula pasir.

Bendahara Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Lampung Utara, Andre, mengaku program tersebut sangat membantu petani, baik dari sisi penyediaan bibit maupun pembukaan lahan.

“Kami sebagai petani merasa terbantu. Harapannya program ini bisa berkelanjutan,” kata dia.

Andre juga menyoroti perlunya dukungan sarana irigasi ke depan, terutama menghadapi potensi perubahan iklim.

“Jika terjadi peralihan musim akibat El Nino, petani membutuhkan pompa air untuk menjaga produktivitas pascapanen,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dedi Utama Putra, petani asal Desa Handuyang Ratu, Kecamatan Bunga Mayang. Ia mengaku mendapat manfaat langsung dari program tersebut.

“Selain bantuan bibit dan biaya tanam, hasil panen juga terserap langsung oleh pabrik gula, sehingga petani lebih terbantu,” kata Dedi.

Ia menambahkan, pendampingan dari pemerintah daerah dan pihak pabrik gula dilakukan sejak masa tanam hingga panen, sehingga meningkatkan keberhasilan program. (**)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos