MOMENTUM, Gedongtataan--Komoditas bawang merah mulai menjadi mesin ekonomi baru bagi warga Desa Sukadadi, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Hamparan lahan budidaya bawang merah di Sukadadi, kini mencapai 16 hektare. Tercatat 33 petani mengembangkan komoditas tersebut, dengan produksi panen terakhir menembus lebih dari 20 ton.
Pertumbuhan itu menunjukkan pergeseran pola usaha tani. Sejumlah petani yang sebelumnya mengandalkan padi, mulai beralih ke bawang merah karena dinilai memiliki prospek ekonomi lebih menjanjikan.
Kepala Desa Sukadadi Rudi Maryoto mengatakan, perkembangan bawang merah dalam dua tahun terakhir cukup pesat. Bukan hanya luas lahan yang bertambah, kemampuan petani mengelola tanaman juga semakin matang.
“Semakin ke sini semakin bagus. Semakin luas hamparannya, petaninya juga bertambah. Peningkatannya luar biasa,” kata Rudi, Selasa (18-8-2026).
Menurutnya, kini para petani sudah lebih menguasai teknik pengolahan lahan, penanaman hingga perawatan bawang merah. Kondisi itu berbeda dengan masa awal pengembangan ketika masyarakat masih minim pengalaman.
“Dua tahun terakhir masyarakat sudah pintar mengelola tanah bawang merah. Awalnya memang sulit karena masih awam, sekarang rata-rata sudah paham cara perawatan dan pengolahannya,” ungkapnya.
Petani sebelumnya mencoba sejumlah varietas dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun, varietas yang paling cocok dengan karakter tanah Sukadadi akhirnya lebih banyak dipilih.
Dari sisi pasar, peluangnya masih terbuka lebar. Produksi bawang merah dari Sukadadi saat ini baru dipasarkan di wilayah lokal. Diperkirakan hanya menyumbang sekitar 0,7-0,8 persen kebutuhan bawang merah Lampung. Artinya, ruang untuk meningkatkan produksi masih sangat besar.
Meski demikian, petani bawang merah masih menghadapi persoalan klasik: air dan hama. Saat kemarau, ketersediaan air menjadi kendala karena kebutuhan pengairan meningkat. Serangan ulat juga berpotensi menekan produksi, sekaligus menaikkan biaya usaha tani.
Walau begitu, hasil panen masih menunjukkan potensi yang kuat. Pada panen terakhir, produksi bawang merah dari Sukadadi mencapai lebih dari 20 ton. Bahkan, ada petani yang mampu menghasilkan sekitar lima ton dalam sekali panen.
Potensi tersebut mulai menarik perhatian luar daerah. Sejumlah pihak dari Jambi dan Palembang, bahkan datang langsung melihat pengembangan bawang merah di Sukadadi.
“Walaupun hamparannya masih kecil, nama Sukadadi sudah dikenal keluar. Dari Jambi dan Palembang sudah pernah datang ke sini,” kata Rudi.
Rudi berharap, pemerintah daerah memperkuat pengembangan komoditas tersebut, terutama melalui akses pemasaran dan pembangunan infrastruktur pendukung.
Menurutnya, penjualan langsung dari lahan dapat memperbaiki posisi tawar petani dan membuka peluang harga yang lebih menguntungkan.
Lebih jauh, Sukadadi ingin mengembangkan bawang merah bukan sekadar sebagai komoditas pertanian, tetapi menjadi wisata edukasi pertanian.
“Harapannya bukan hanya disebut petani bawang merah, tetapi nanti bisa menjadi wisata bawang merah. Kalau itu terjadi, sangat menjanjikan dan harga juga bisa lebih tinggi,” harapnya.
Upaya pengembangan bawang merah di Sukadadi bukan tanpa kegagalan. Program bantuan yang pernah dilakukan pemerintah desa pada tahun 2020 belum berhasil karena petani masih dalam tahap belajar.
Setelah evaluasi dan belajar dari daerah lain, budidaya kembali dikembangkan pada 2022. Kini, petani mulai mampu mengelolanya secara mandiri.
Pada akhir Agustus 2026, bawang merah Sukadadi juga akan ditampilkan dalam kegiatan Kampung Pancasila bertema ketahanan pangan.
Momentum tersebut diharapkan menjadi etalase baru bagi komoditas bawang merah dari Sukadadi, sekaligus memperkuat posisi Kabupaten Pesawaran sebagai daerah penghasil pangan. (**)
Editor: Munizar
