Sungai Wain, Hutan yang Menyimpan Napas Balikpapan

img
Sungai Wain di Balikpapan. Foto: Ist.

Oleh: Majid Lintang

PAGI belum sepenuhnya menjadi pagi ketika kabut menggantung rendah di antara pepohonan. Jalan menuju Hutan Lindung Sungai Wain masih basah oleh embun. Dari kejauhan, suara burung terdengar seperti percakapan rahasia yang hanya dipahami oleh mereka yang telah lama tinggal di dalam rimba.

Di sinilah Balikpapan menyimpan bagian dirinya yang paling tua.

Bukan di gedung-gedung tinggi. Bukan di jalan raya yang sibuk. Bukan pula di kawasan industri yang menggerakkan ekonomi kota.

Tetapi di balik pepohonan.

Di Hutan Lindung Sungai Wain—HLSW—hutan tropis yang bertahan di tengah pertumbuhan kota dan perubahan zaman.

Luasnya hampir 10.000 hektare. Di dalamnya masih terdapat hutan primer, sungai, rawa, pohon-pohon tua, serta kehidupan liar yang menjadikan rimba ini rumah.

Bagi orang kota, hutan mungkin tampak seperti sekumpulan pohon.

Tetapi bagi Sungai Wain, setiap pohon adalah bagian dari sebuah sistem kehidupan.

Setiap akar menahan tanah.

Setiap daun bekerja menangkap cahaya.

Setiap aliran air membawa kehidupan.

Dan setiap kesunyian menyimpan suara yang belum tentu pernah didengar manusia.

Jalan Masuk ke Kesunyian

Memasuki Sungai Wain terasa seperti perlahan meninggalkan dunia yang kita kenal.

Suara kendaraan semakin jauh. Sinyal telepon mungkin mulai kehilangan kekuatannya. Bangunan-bangunan menghilang di belakang.

Sebagai gantinya, muncul batang-batang pohon yang menjulang seperti tiang-tiang raksasa sebuah katedral tanpa atap.

Cahaya matahari jatuh dalam pecahan-pecahan kecil.

Tanah lembap.

Daun kering berderak di bawah sepatu.

Udara terasa berbeda.

Ada aroma tanah, kayu, air dan dedaunan yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.

Hutan memiliki bahasa sendiri.

Ia tidak berbicara melalui kalimat.

Ia berbicara melalui suara ranting patah, kepak burung, desir daun, dan air yang mengalir di antara bebatuan.

Mungkin karena itulah orang yang terlalu lama hidup di tengah kebisingan kota kadang merasa aneh ketika pertama kali memasuki hutan.

Kesunyian ternyata bukan ketiadaan suara.

Kesunyian adalah ketika kita akhirnya mampu mendengar.

Sungai yang Menjadi Nadi

Namanya Sungai Wain.

Sebuah sungai yang tidak hanya memberi nama kepada hutan, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan ekologis kawasan tersebut.

Air mengalir dari hutan.

Pelan, terus-menerus.

Tidak tergesa.

Tidak pernah meminta perhatian.

Namun justru dari sesuatu yang tampak sederhana itulah kehidupan kota bergantung.

Hutan menyimpan air ketika hujan turun. Tanah menyerapnya. Akar menahannya. Sungai mengalirkannya.

Hutan dan air seperti dua sahabat lama yang tidak pernah saling meninggalkan.

Karena itu, menyusuri sungai di HLSW bukan sekadar kegiatan wisata.

Ia adalah perjalanan untuk melihat dari dekat bagaimana alam bekerja.

Kita mungkin datang untuk mencari foto.

Tetapi sungai mengajarkan sesuatu yang lebih penting:

bahwa kehidupan kota sebenarnya mempunyai akar yang jauh lebih dalam daripada beton dan aspal.

Ketika Hutan Mulai Bergerak

Di hutan, manusia bukan pemeran utama.

Ini pelajaran pertama yang harus diterima setiap pengunjung.

Kita berjalan di jalur yang sama, tetapi satwa mempunyai jalan mereka sendiri.

Seekor tupai mungkin menghilang di balik batang pohon.

Burung enggang melintas di atas kanopi.

Suara monyet terdengar dari kejauhan.

Daun bergerak meski angin hampir tidak terasa.

Lalu kita berhenti.

Menunggu.

Barangkali ada sesuatu di balik semak.

Barangkali tidak.

Dan justru di situlah petualangan dimulai.

Hutan tidak pernah memberikan pertunjukan sesuai jadwal wisatawan.

Orangutan tidak muncul karena kita telah menyiapkan kamera.

Beruang madu tidak datang karena kita ingin melihatnya.

Macan dahan tidak peduli apakah lensa kamera kita sudah siap.

Hutan mempunyai waktunya sendiri.

Karena itu, seorang pengunjung yang datang dengan kesabaran mungkin pulang membawa pengalaman lebih besar daripada mereka yang datang hanya untuk berburu foto.

Rumah bagi Mereka yang Tak Bisa Bicara

Sungai Wain menjadi habitat berbagai satwa khas Kalimantan.

Orangutan Kalimantan.

Beruang madu.

Bekantan.

Lutung.

Owa.

Berbagai jenis burung hutan.

Dan kehidupan lain yang mungkin tidak pernah kita lihat, tetapi sesungguhnya berada tidak jauh dari langkah kaki kita.

Ada sesuatu yang menyentuh ketika menyadari bahwa di tengah kota yang terus berkembang, masih ada ruang bagi makhluk lain untuk hidup menurut hukumnya sendiri.

Mereka tidak memiliki sertifikat tanah.

Tidak mempunyai pagar.

Tidak memiliki kendaraan.

Tidak mengenal rapat.

Namun mereka mempunyai rumah.

Dan rumah itu adalah hutan.

Karena itu, menjaga Sungai Wain sesungguhnya bukan hanya menjaga pohon.

Kita sedang menjaga hak makhluk lain untuk tetap mempunyai tempat tinggal.

Jejak di Tanah Basah

Pagi menjelang siang.

Di sebuah bagian jalur, pemandu tiba-tiba berhenti.

Ia menunjuk tanah.

Sebuah jejak.

Bagi mata biasa, mungkin hanya bekas pijakan yang sebentar lagi hilang diterpa hujan.

Tetapi bagi mereka yang memahami hutan, jejak adalah cerita.

Siapa yang lewat?

Dari mana?

Ke mana?

Kapan?

Apakah sendirian?

Hutan adalah buku besar yang tidak pernah dicetak.

Halaman-halamannya berupa tanah.

Tulisannya berupa jejak.

Dan siapa pun yang mampu membacanya akan mengetahui bahwa kehidupan di dalam rimba tidak pernah benar-benar tidur.

Pohon-Pohon yang Lebih Tua daripada Kita

Berjalan lebih jauh, pohon-pohon besar mulai mendominasi pandangan.

Meranti.

Bangkirai.

Keruing.

Ulin.

Sebagian tumbuh jauh sebelum kita mengenal tempat ini sebagai sebuah kota.

Pohon tidak mempunyai ambisi untuk terkenal.

Ia tumbuh.

Tahun demi tahun.

Musim demi musim.

Akarnya semakin kuat.

Batangnya semakin besar.

Daunnya terus bekerja.

Kemudian manusia datang membawa papan nama dan menyebutnya hutan lindung.

Padahal hutan itu tidak pernah meminta dilindungi.

Kitalah yang membutuhkan perlindungan darinya.

Ironi paling indah dari konservasi mungkin terletak di sini:

manusia merasa sedang menyelamatkan hutan, padahal dalam banyak hal, manusialah yang sedang menyelamatkan masa depannya sendiri.

Sungai Wain dan Waktu

Ada hutan yang hilang karena gergaji.

Ada yang lenyap karena api.

Ada yang perlahan terdesak oleh pembangunan.

Tetapi Sungai Wain masih bertahan.

Ia telah melewati perubahan zaman.

Dari masa ketika kawasan ini masih jauh dari wajah Balikpapan hari ini, hingga zaman ketika jalan raya, kawasan industri dan permukiman berkembang semakin dekat.

Dalam perjalanan panjang itu, HLSW bukan sekadar bentang alam.

Ia adalah arsip hidup.

Di dalam batang-batang pohonnya tersimpan waktu.

Di dalam sungainya tersimpan perjalanan air.

Di dalam suara burung tersimpan kesinambungan kehidupan.

Dan di dalam kesunyian hutannya, mungkin tersimpan pertanyaan paling penting bagi manusia:

sampai kapan kita mampu hidup tanpa merusak rumah yang membuat kita tetap hidup?

Petualangan yang Tidak Berisik

Wisata ke Sungai Wain bukan wisata yang membutuhkan banyak suara.

Tidak perlu musik keras.

Tidak perlu pengeras suara.

Tidak perlu keramaian.

Yang dibutuhkan hanya sepatu yang nyaman, air minum, kamera, teropong bila ada, dan kesediaan untuk berjalan perlahan.

Sebab hutan tidak bisa dinikmati dengan tergesa-gesa.

Ia harus didekati seperti membaca buku tua.

Satu halaman.

Satu jejak.

Satu suara.

Satu pohon.

Sampai akhirnya kita mengerti bahwa perjalanan sebenarnya bukan sekadar menuju suatu tempat.

Perjalanan adalah cara melihat kembali diri sendiri.

Pulang dengan Sesuatu yang Tak Terlihat

Menjelang sore, cahaya matahari menembus sela pepohonan.

Hutan mulai berubah warna.

Suara burung terdengar semakin jarang.

Kita berjalan kembali menuju pintu keluar.

Kota perlahan muncul lagi.

Kendaraan.

Bangunan.

Suara mesin.

Telepon kembali berbunyi.

Dunia manusia mengambil alih.

Tetapi ada sesuatu yang tertinggal di dalam kepala.

Suara air.

Aroma tanah.

Bayangan pohon besar.

Dan kesadaran bahwa tidak jauh dari kehidupan kota yang sibuk, masih ada sebuah hutan yang bekerja dalam diam.

Sungai Wain tidak pernah meminta kita untuk mengaguminya.

Ia hanya meminta satu hal:

jangan menghancurkannya.

Sebab suatu hari, ketika manusia telah membangun gedung yang lebih tinggi, jalan yang lebih lebar dan kota yang lebih padat, kita mungkin baru menyadari bahwa yang paling mahal bukanlah apa yang telah kita bangun.

Melainkan apa yang telah kita kehilangan.

Dan selama Sungai Wain masih mengalir, selama pohon-pohon tuanya masih berdiri, selama burung-burung masih menyebut pagi dari kanopi hutan, Balikpapan masih memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: sebuah napas panjang dari masa lalu yang menjaga masa depan.(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos