Panen Gadu Belum Optimal, Kenaikan Harga Beras Dorong Inflasi Lampung Agustus 2026

img
Ilustrasi inflasi di Provinsi Lampung.

MOMENTUM, Bandarlampung--Kenaikan harga beras menjadi penyumbang utama laju inflasi di Provinsi Lampung pada Agustus 2026. Beras mencatatkan andil sebesar 0,09 persen terhadap total inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Lampung yang berada di angka 0,23 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menjelaskan bahwa lonjakan harga beras dipicu oleh meningkatnya harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat penggilingan. Kondisi ini terjadi akibat hasil panen gadu yang belum optimal di tengah musim kemarau serta adanya gangguan hama pada musim tanam kedua.

"Secara tahunan (year-on-year), inflasi Lampung mencapai 3,53 persen. Kenaikan harga beras menjadi salah satu komoditas utama yang mendorong pergerakan angka tersebut," ujar Bimo melalui siaran pers resminya.

Selain beras, komoditas pangan lain yang ikut menyumbang inflasi di antaranya daging ayam ras (0,05 persen), kacang panjang (0,05 persen), dan jagung manis (0,04 persen). Kendati demikian, laju inflasi sedikit tertahan oleh masuknya masa panen komoditas hortikultura seperti bawang merah dan tomat yang mengalami penurunan harga.

Guna mengendalikan gejolak harga bahan pokok—khususnya beras—Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Lampung langsung mengintensifkan langkah intervensi pasar.

"Langkah konkret dilakukan melalui optimalisasi operasi pasar beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), pemantauan pasokan secara berkala, hingga penguatan Kerja Sama Antardaerah (KAD) untuk menjaga kestabilan pasokan beras di masyarakat," kata Bimo.

BI dan TPID Lampung mengimbau masyarakat untuk tidak panik karena ketersediaan pasokan beras akan terus dijaga. Pihaknya optimistis inflasi Provinsi Lampung hingga akhir 2026 tetap dapat terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 persen.(**)






Editor: Agus Setyawan





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos