MOMENTUM, Lampung--Upaya menekan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terus digencarkan melalui pendekatan berbasis alam. Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK kini mengembangkan program strategis berupa pembangunan pagar sarang lebah di sepanjang perbatasan kawasan konservasi.
Inovasi ini tidak hanya berfungsi menghalau gajah keluar dari habitatnya, tetapi juga bertujuan mendongkrak perekonomian warga desa penyangga melalui budidaya lebah Apis cerana.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, menjelaskan bahwa pembangunan pagar perbatasan ini merupakan langkah taktis untuk meredam konflik klasik antara manusia dan gajah yang telah terjadi sejak dekade 1980-an.
"Konflik ini merupakan masalah kompleks yang dipicu oleh krisis keanekaragaman hayati serta dinamika pembangunan. Karena itu, diperlukan solusi terpadu melalui teknologi, pemanfaatan kawasan satwa, dan pemanduan konservasi berbasis komunitas," ungkap Brigjen TNI Sriyanto.
Metode pagar sarang lebah ini mengadopsi praktik konservasi dari Afrika yang memanfaatkan insting alami gajah. Suara dengungan dan ancaman sengatan lebah terbukti efektif membuat gajah memilih menjauh tanpa menimbulkan risiko cedera pada satwa dilindungi tersebut.
Selain menjaga fungsi ekologi, program ini menitikberatkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa penyangga. Lebah madu lokal jenis Apis cerana dipilih karena sangat cocok dengan iklim tropis dan memiliki nilai ekonomis tinggi, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan madu nasional sebesar 10 hingga 15 persen per tahun.
Satu koloni Apis cerana diperkirakan mampu menghasilkan 5 hingga 8 kilogram madu per tahun. Dengan asumsi harga jual Rp150.000 per kilogram, warga yang mengelola 10 koloni lebah berpotensi mengantongi tambahan penghasilan hingga Rp7,5 juta sampai Rp15 juta per tahun.
Tak hanya memberikan nilai tambah finansial bagi UMKM lokal, keberadaan lebah juga memperkuat sektor pertanian warga. Merujuk data FAO, sekitar 75 persen tanaman pangan sangat bergantung pada proses penyerbukan lebah.
"Keberadaan lebah ini menjaga ekosistem sekaligus membantu proses penyerbukan tanaman di perkebunan warga sekitar kawasan," pungkas Sriyanto.(**)
Editor: Agus Setyawan
