MOMENTUM, Jakarta--Belanja negara dalam RAPBN 2027 untuk pertama kalinya menembus Rp4.000 triliun. Di saat yang sama, pemerintah memproyeksikan defisit anggaran mencapai Rp671,2 triliun.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan belanja negara 2027 dirancang sebesar Rp4.097,2 triliun. Angka itu tumbuh 3,9 persen dibandingkan outlook 2026.
“Ini pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia belanja negara melebihi Rp4.000 triliun. Ini bukan hanya sekadar belanja yang besar, tetapi juga adalah tanggung jawab yang besar,” kata Suahasil dalam ANTARA Business Forum di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Dari total tersebut, Belanja Pemerintah Pusat mencapai Rp3.362,2 triliun. Sementara Transfer ke Daerah (TKD) dialokasikan Rp735 triliun.
Menurut Suahasil, belanja negara akan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program pendidikan, kesehatan, produktivitas dan perlindungan sosial.
Anggaran juga digunakan untuk mendukung layanan penunjang, termasuk pembangunan dan konektivitas infrastruktur.
Di sisi lain, pemerintah akan menjalankan kebijakan belanja dengan bersinergi bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan otoritas sektor keuangan lainnya.
Untuk membiayai belanja tersebut, pendapatan negara dalam RAPBN 2027 diproyeksikan mencapai Rp3.426 triliun. Angka ini tumbuh 6,8 persen dibandingkan outlook 2026.
Pendapatan itu terdiri atas penerimaan perpajakan Rp2.908 triliun, PNBP Rp517,4 triliun dan hibah Rp0,7 triliun.
Penerimaan perpajakan berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp2.591,4 triliun serta kepabeanan dan cukai Rp316,6 triliun.
Dengan belanja Rp4.097,2 triliun dan pendapatan Rp3.426 triliun, pemerintah menetapkan defisit anggaran sebesar Rp671,2 triliun atau 2,40 persen terhadap PDB.
Pemerintah menyatakan Belanja Pemerintah Pusat akan diarahkan pada belanja berkualitas dengan tetap menjaga pelayanan publik dan daya beli masyarakat. Sementara TKD ditujukan untuk memperkuat kualitas belanja daerah dan pemerataan pembangunan.(*)
Editor: Muhammad Furqon
