MOMENTUM, Kotabumi--Tangis keluarga pecah di ruang UGD Rumah Sakit Maria Regina Kotabumi, Senin (28/9/2026). Suparno, yang juga disebut Paino, meninggal dunia hanya sekitar 29 menit setelah masuk UGD.
Keluarga mempertanyakan penanganan terhadap Suparno. Sebab, saat tiba di rumah sakit, Suparno masih dapat berjalan sendiri tanpa bantuan kursi roda.
Istri korban, Sulyati, mengatakan suaminya masuk UGD sekitar pukul 12.40 WIB dalam kondisi masih bisa berjalan.
"Suami saya masuk UGD jam 12.40 WIB tanpa bantuan, tanpa kursi roda. Masih bisa jalan sendiri," kata Sulyati.
Menurut Sulyati, setelah mendapat obat dari pihak rumah sakit, kondisi suaminya kemudian memburuk. Sekitar pukul 13.09 WIB, Suparno dinyatakan meninggal dunia.
Istri korban, Sulyati. Foto: Hamsah.
"Setelah minum obat dari RS, suami saya meninggal. Sebagai istri, saya tidak terima suami saya meninggal seperti ini," tegas Sulyati.
Keluarga kemudian mempertanyakan obat yang diberikan kepada Suparno serta alasan medis pemberian obat tersebut.
Saat dikonfirmasi di ruangannya, Humas RS Maria Regina, Maria Umi Yati, mengatakan obat yang diberikan kepada Suparno merupakan obat jantung.
"Obat yang diberikan sesuai tindakan medis dan sesuai kebutuhan pasien. Obat jantung," kata Maria.
Namun, ketika ditanya mengenai diagnosis pasti Suparno hingga diberikan obat jantung, Maria tidak menjelaskan secara rinci. Ia mengatakan persoalan medis merupakan kewenangan tim medis yang menangani pasien.
"Soal medis, pihak medis yang bisa menjelaskan. Yang paham tim medis," ujarnya.
Maria mengatakan pihak rumah sakit telah memanggil keluarga Suparno untuk memberikan penjelasan mengenai penanganan pasien.
"Sudah panggil pihak keluarga pasien, sudah kita jelaskan semuanya kepada keluarga," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen RS Maria Regina belum memberikan keterangan resmi tertulis mengenai diagnosis pasien, jenis obat yang diberikan, serta penyebab pasti kematian Suparno.
Keluarga kini masih mempertanyakan penanganan yang diterima Suparno sebelum akhirnya meninggal dunia.(*)
Editor: Muhammad Furqon
