Program Telkomsel Jaga Bumi, Upaya Kolaboratif Jaga Kelestarian Lingkungan

img
Telkomsel berkerja sama dengan PlusTik mengolah sampah plastik.

MOMENTUM, Bali -- Telkomsel berkomitmen untuk menghadirkan dampak positif melalui berbagai inovasi yang mengedepankan proses bisnis berkelanjutan (sustainable business).

Untuk mengukuhkan komitmen tersebut, Telkomsel menghadirkan program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) yang bertajuk “Telkomsel Jaga Bumi”.

Program tersebut dihadirkan Telkomsel untuk membuka peluang bagi seluruh masyarakat Indonesia agar dapat terlibat langsung dalam menjaga kelestarian dan masa depan bumi.

Hal tersebut juga menjadi langkah konkrit Telkomsel sebagai pelaku industri yang menerapkan prinsip berkelanjutan yang mengacu pada prinsip environment, social and governance (ESG) pada setiap proses bisnis perusahaan.

Sebagai langkah awal, Telkomsel berfokus pada isu pengelolaan waste management dengan menjalin kolaborasi bersama platform PlusTik untuk mendaur ulang hasil limbah kartu perdana yang berbahan material plastik seperti kemasan kartu perdana dan cangkang simcard menjadi new non single use product, di antaranya smartphone holder dan pavement blocks.

Vice President Corporate Communications Telkomsel Saki Hamsat Bramono mengatakan, di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat, Indonesia masih terus dihadapi oleh permasalahan lingkungan yang mengancam kehidupan di masa depan.

Diperlukannya collective actions, melalui upaya dan kolaborasi antara seluruh stakeholder dalam mengimplementasikan strategi dan solusi untuk mencapai tujuan bersama tersebut. Telkomsel berkomitmen menjalankan bisnis secara seimbang dan berkelanjutan.

“Salah satu yang menjadi perhatian Telkomsel adalah permasalahan atas dampak pengelolaan sampah plastik. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 2021 total sampah plastik Indonesia mencapai 11,6 juta ton, atau sampah plastik menyumbang sebesar 17 persen dari total sampah nasional yang mencapai 68,5 juta ton," jelasnya melalui rilisnya, Senin 24 Oktober 2022.

Melalui aksi kolaboratif bersama PlusTik, Telkomsel mengambil langkah terdepan untuk menghadirkan solusi atas persoalan limbah plastik di Indonesia. Upaya ini sekaligus menjadi langkah Telkomsel dalam membantu pemerintah, sekaligus dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan yang menjadi salah satu pembahasan utama pada forum G20.

Founder dan CEO PlusTik, Reza Hasfinanda mengaku senang ketika Telkomsel mengajak PlusTik berkolaborasi untuk mengurus sampah plastik, terutama sampah bermateri plastik dari produk Telkomsel. Yaitu limbah hasil kemasan dan cangkang kartu perdananya.

"Sementara yang lain sibuk menyelesaikan masalah botol plastik, kolaborasi ini menunjukkan bahwa Telkomsel benar-benar peduli dan bertanggung jawab terhadap sampah plastik yang mereka hasilkan,” katanya.

Melalui kolaborasi bersama PlusTik dalam permasalahan waste management, Telkomsel berupaya menghadirkan solusi untuk setiap limbah plastik yang dihasilkan dari kartu perdana bekas pakai, baik itu kemasan maupun cangkang simcard dari Telkomsel dan seluruh provider yang ada di mitra outlet reseller Telkomsel akan didaur ulang menjadi new non single use product.

Telkomsel terlebih dahulu akan mengumpulkan dan mendata jumlah sampah plastik dari limbah kartu perdana bekas pakai maupun yang berhasil dikumpulkan pada setiap periode tertentu. Sampah plastik tersebut kemudian akan diambil oleh PlusTik untuk didaur ulang menjadi sejumlah produk seperti smartphone holder dan pavement blocks.

Smartphone holder hasil daur ulang akan didistribusikan kembali ke outlet-outlet reseller dan dapat digunakan untuk smartphone yang mereka display. Kemudian untuk produk pavement blocks yang dihasilkan akan digunakan oleh Telkomsel sebagai bahan material untuk kebutuhan renovasi maupun pembangunan fasilitas gedung baru di masa mendatang.

Dengan langkah tersebut, Telkomsel mengaplikasikan konsep circular economy dalam program waste management tersebut, dengan menggunakan sumber daya, bahan baku maupun produk yang bisa dipakai ulang selama mungkin, dan menghasilkan sampah atau limbah seminimal mungkin.

PlusTik sendiri merupakan sebuah startup yang mempunyai tujuan untuk mengurangi sampah plastik rendah nilai tanpa dipilah dari tempat pembuangan akhir (TPA) dan menggunakan sampah plastik rendah nilai tersebut untuk dijadikan barang baru yang tidak sekali pakai. PlusTik kini beroperasi di TPA Galuga Bogor dan mengambil sampah plastik rendah nilai hingga 5 ton perhari.

Upaya Telkomsel dalam menghadirkan inovasi dan proses bisnis yang berkelanjutan guna menjaga kestabilan lingkungan hidup nantinya akan terus dikembangkan untuk sejumlah solusi permasalahan yang berdampak pada lingkungan.

Setidaknya akan ada dua inisiatif lainnya yang dalam waktu dekat akan turut diimplementasikan sebagai bagian dari program Telkomsel Jaga Bumi. Kedua inisiatif tersebut di antaranya berkaitan dengan upaya penyeimbangan nilai emisi (carbon offset) dan digitalisasi kawasan hutan mangrove.

“Telkomsel Jaga Bumi menjadi salah satu bukti bahwa setiap proses bisnis yang berjalan di Telkomsel dapat beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan yang tidak boleh dikesampingkan," katanya.

Usaha tersebut diharapkan menjadi penggerak bagi banyak perusahaan di Indonesia untuk menciptakan proses bisnis yang seimbang dan berkelanjutan dengan terus mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan. "Kami ingin mendorong seluruh masyarakat untuk bergerak bersama Telkomsel, mari bantu jaga bumi demi keberlangsungan masa depan kita semua,” kata Saki. (*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos