MOMENTUM, Bandarlampung -- PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 7 menjadi penyokong utama pencapaian kinerja PTPN I dengan kontribusi 60 persen dari total penjualan. Region Head PTPN I Regional 7, Tuhu Bangun, menyampaikan apresiasi kepada seluruh karyawan atas kerja keras dan dedikasi mereka di tengah tantangan 2025.
"Ini adalah hasil jerih payah kita yang penuh tantangan. Alhamdulillah, kita bisa bertumbuh dari sisi laba," kata Tuhu Bangun pada Acara Culture Booster Refleksi Kinerja Tahun 2025, dan Strategi Pencapain Kinerja Tahun 2026, di Komplek Perumahan, Minggu (4/1/2026).
Tuhu Bangun sebut manajemen telah maksimal ciptakan atmosfer kerja kondusif, naikkan insentif dan fasilitas untuk tenaga kerja borong. "Kunci kinerja positif adalah faktor tenaga kerja," kata Tuhu Bangun.
Permasalahan yang ada saat ini masih adanya lost opportunity dimana masih ada lahan yang tidak terpanen. Kedepan tidak ada lagi lahan yang lost opportunity. Harus 100 persen terpanen.
Ia berharap, di tahun 2026 insan PTPN I Reg 7 makin solid dengan kerjasama antar karyawan. Tantangan kedepan masih ada beberapa yang harus dilakukan, pertama fluktuasi, iklim yang tidak bersahabat, tantangan dari luar yang ingin menguasai lahan PTPN, dan banyak lahan yang masih belum terpanen.
Dalam laporan kinerjanya, Operational head Wiyoso menyatakan tertantang dengan RKAP yang telah ditetapkan Direksi. Beberapa celah yang selama ini masih belum tergali, kata dia, harus dikejar dengan berbagai strategi di 2026.
“Dari evaluasi yang dilakukan secara rigid di lapangan, masih ada celah yang tahu lalu harus kita kejar. Yakni, ada beberapa hanca lowong dengan potensial losses sekitar delapan ton per hari, antisipasi terhadap cuaca (hari hujan), dan antisipasi pencurian. Kita harus lebih ketat lagi,” kata dia.
Secara umum, Wiyoso mengatakan kinerja karet di Regional 7 masih sangat baik sebagai backbone pendapatan. Di on farm (budi daya kebun), beberapa Kebun (unit kerja regional) menunjukkan kinerja terbaiknya. Meski belum mencapai 100 persen dari RKAP, Wiyoso menyebut Kebun Musi Landas, Tebenan, Kedaton, Way Berulu, Way Lima, dan beberapa kebun lain masih bisa melampaui produksi tahun sebelumnya. Sedangkan untuk off farm (pabrik), secara kumulatif mencatat kenaikan produksi 119 persen dibanding tahun lalu. Pabrik Kedaton, Pematang Kiwah, Tulung Buyut, Way Berulu, Tebenan, Musi Landas, Padang Pelawi masih dalam performa yang baik.
“Untuk produksi RSS (rubber smoked sheet) Pabrik Kedaton masih menduduki peringkat terbaik dan produktif. Sedangkan untuk produk SIR-20 (standar Indonesian rubber), pabrik Pewa (Pematang Kiwah, Natar, Lampung Selatan) yang terproduktif. Terutama prestasi dalam menyerap atau pembelian bokar (karet rakyat), Pewa naik 149 persen. Secara kumulatif, tahun 2025 pembelian karet PTPN I Regional 7 naik 170 persen. Dari semua itu, PTPN I Regional 7 berpotensi bisa mencapai keuntungan Rp 351 miliar," kata Wiyoso.
Di luar operasional produksi, Wiyoso mengingatkan seluruh unsur pimpinan untuk peka dan peduli terhadap keberadaan aset perusahaan. Wiyoso mengatakan, potensi kehilangan aset, terutama lahan, pada tahun-tahun mendatang akan menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian khusus.
“Saya ingatkan kepada seluruh karyawan pimpinan, bahwa soal keamanan aset dari upaya pihak lain untuk mengabil alih menjadi atensi penting manajemen. Saya minta semua unit sampai yang paling bawah, untuk mendata dan mengecek semua aset secara detail.
Pada kesempatan itu, dilaksanakan penyerahan santuan kepada anak-anak panti Asuhan Riyadhus Sholihin. Dan penyerahan pemenang lomba lingkungan IKBI PTPN I. Juara I lomba Rumah Sehat IKBI PTPN I. Juara Favorit Rumah Sehat IKBI PTPN I,dan penyerahan tropi sebagai Juara Umum Lomba yang digelar PTPN I kepada Ketua Umum IKBI PTPN I Reg 7. (*)
Editor: Harian Momentum
