MOMENTUM, Liwa--Menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasar Liwa, Kecamatan Balikbukit, Kabupaten Lampung Barat, kembali menuai keluhan dari sejumlah wali murid penerima manfaat (PM).
Keluhan muncul karena pihak SPPG dinilai kurang transparan terkait informasi menu yang disalurkan. Dalam setiap paket MBG, tidak disertakan keterangan mengenai kandungan nilai gizi maupun rincian biaya penyediaan makanan.
Selain itu, SPPG Pasa Liwa juga dinilai minim menyebarkan informasi melalui media sosial. Padahal, Badan Gizi Nasional (BGN) menganjurkan setiap SPPG mempublikasikan menu MBG yang disalurkan setiap hari sebagai bentuk transparansi.
Sejumlah wali murid juga mempertanyakan komposisi makanan dalam setiap paket yang dinilai sangat terbatas. Mereka meragukan apakah menu tersebut telah memenuhi standar gizi yang ditetapkan.
Salah satu wali murid penerima manfaat dari SDN 3 Waymengaku mengaku kerap mempertanyakan isi menu MBG yang diterima anaknya, terutama selama bulan Ramadan ketika menu yang dibagikan berupa makanan kering.
“Kadang menunya membuat kami bertanya-tanya. Apakah ini sudah sesuai dengan standar gizi dan anggaran yang dikucurkan,” ujarnya.
Dia mencontohkan menu MBG yang dibagikan pada Senin, 2 Maret 2026, yang hanya berisi tiga komponen dalam satu paket, yakni satu buah jeruk, dua bungkus biskuit Malkist Roma, dan dua butir telur rebus.
“Waktu itu memang ada dua kotak susu, tapi itu sebenarnya untuk jatah hari Jumat dan Sabtu yang terlambat disalurkan,” katanya.
Pada Selasa, 3 Maret 2026, menu yang diterima sedikit bertambah dengan isi dua bungkus biskuit Regal, dua butir telur rebus, satu buah jeruk, dan satu bolu kukus.
Sementara pada Rabu, 4 Maret 2026, paket MBG berisi tiga bungkus Malkist Roma, satu butir telur rebus, dan satu cup puding.
Menu yang dibagikan pada Kamis, 5 Maret 2026, bahkan dinilai lebih minim, yakni hanya satu kotak susu, satu bolu kukus, dan satu bungkus buah kelengkeng yang berisi sekitar tujuh butir.
Menurutnya, variasi menu yang diberikan juga terkesan monoton karena tidak banyak berubah dari hari ke hari.
“Ini kan namanya makanan bergizi gratis, tapi menunya hampir sama setiap hari. Variasinya sangat sedikit,” keluhnya.
Untuk pembagian Jumat, 6 Maret 2026 dan Sabtu, 7 Maret 2026, menu MBG dibagikan secara dirapel pada hari Jumat. Namun anaknya tidak menerima paket tersebut karena tidak masuk sekolah pada hari pembagian.
Sementara pada penyaluran terbaru Senin, 9 Maret 2026, menu yang diterima dinilai sedikit lebih baik karena terdapat tambahan lauk.
“Kalau hari ini ada ayam dan tahu, jeruknya juga dua, ditambah satu kotak susu,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan sangat mendukung program MBG yang digagas pemerintah karena dinilai memiliki tujuan baik untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak.
“Program ini bagus dan sangat kami dukung. Tapi penyalurannya harus benar dan transparan. Jangan sampai ada penyalahgunaan atau keuntungan pribadi,” ujarnya.
Kepala SPPG Pasar Liwa Riki Sofyan, terkesan tertutup terkait informasi penyaluran MBG tersebut. Upaya wartawan untuk meminta klarifikasi mengenai menu, kandungan gizi, serta rincian biaya dalam setiap porsi belum mendapat penjelasan lengkap.
Pada Kamis, 5 Maret, Riki sempat merespons pertanyaan wartawan melalui pesan singkat. Namun ia hanya menyampaikan perkiraan harga beberapa komponen makanan tanpa menjelaskan kandungan gizi paket MBG. “Indomilk 3.500, kelengkeng 2.500, bolu sama mikanya 2.000. Total 8.000,” tulisnya.
Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada Ketua Satgas MBG Lampung Barat Ahmad Hikami, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi terkait keluhan masyarakat terhadap penyaluran MBG di wilayah tersebut. (**)
Editor: Munizar
