Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
MOMENTUM -- Kharg adalah nama pulau di mana terminal ekspor minyak utama Iran menghidupi ekonomi republik itu. Dalam peta dunia, pulau kecil itu seperti titik tak berarti, sebuah pulau kecil di Teluk Persia. Luasnya bahkan tidak sampai satu kecamatan di Bogor: “panjang ±8 km, lebar ±4 km.” Tapi Kharg menjadi kunci ekonomi Iran.
Bagi Iran sendiri, pulau ini bukan sekadar titik di peta. Kharg adalah nadi paling vital ekonomi negara. Dari dermaga-dermaga di pulau ini, 90-an persen minyak Iran mengalir menuju pasar dunia. Setiap hari, tanker raksasa datang dan pergi membawa jutaan barel minyak yang menjadi napas ekonomi Negeri Para Mullah. Tanpa Pulau Kharg, ekspor minyak Iran bisa berhenti. Tanpa ekspor minyak, mesin ekonomi bisa tersendat dalam hitungan minggu. Itulah kenapa, keberadaan pulau kecil tersebut tiba-tiba saja muncul dalam diskusi paling sensitif di Washington: "skenario perang darat melawan Iran." Objek pembahasan ini yang membawa keyakinan, Iran akah menyerah tanpa syarat.
Dalam berbagai diskusi strategis yang dilaporkan media Barat, timbul pertanyaan yang eksplosif, “Jika Amerika Serikat (AS) ingin melumpuhkan ekonomi Iran secara cepat, titik mana yang mutlak dipukul terlebih dahulu?”
Banyak analis memberi jawaban hampir sama: Pulau Kharg!
Logikanya sederhana namun jelas. Tidak perlu menyerang seluruh ladang minyak Iran yang tersebar di daratan yang luas. Tak perlu pula menginvasi kota-kota besar, cukup memotong aliran yang menghubungkan minyak Iran dengan pasar dunia. Ini yang disebut memutus mata rantai pasokan dari sumberdaya dan produksi ke distribusi.
Dalam logika perang modern, merebut satu titik krusial pengendali 80-90 persen minyak jauh lebih efektif daripada menyerang ratusan target di daratan lain. Napoleon Bonaparte pernah mengatakan bahwa minyak itu ibarat darah dalam peperangan. Dalam tesa Henry Kissinger, minyak adalah sarana mengendalikan bangsa-bangsa.
Secara geopolitik energi, rencana ini mengandung logika sangat brutal. Tak pelak, Pulau Kharg itu target terkonsentrasi. "Sekali tepuk, dua-tiga lalat mati". Karena di Kharg -- selain berdiri terminal minyak utama, juga terdapat tangki penyimpanan, sekaligus dermaga tanker (berada) di satu pulau. Infrastruktur itu bahkan mampu memuat jutaan barel minyak per hari ke kapal-kapal tanker raksasa. Bayangkan. Sekali gebuk, beberapa aktivitas strategis pulau tersebut yang menopang ekonomi Iran, total lumpuh.
Makanya para analis geopolitik dan perencana militer di Barat, memunculkan ide yang tidak pernah ada sebelumnya: operasi darat Amerika ke wilayah Iran (lihat tulisan kami sebelumnya, "Invasi Darat ke Iran: Potensi Bunuh Diri Massal Militer Amerika"). Serangan darat ini mengikuti serangan udara. Jika fokusnya pada Pulau Kharg, ditambah serangan laut, besar kemungkinan Iran kalah. Tapi, di balik Pulau Kharg itu terdapat kepentingan China dan Rusia. Dua negara ini tidak ingin kepentingan nasional langsung terganggu. Kasus Venezuela menjadi bukti empiris bahwa China yang ingin mendapat pasokan minyak dari Venezuela harus membayar minyak, pengakutan, dan asuransi dalam dolar AS.
Seandainya skenario itu benar-benar digelar, pasukan khusus atau operasi amfibi memang bisa diarahkan untuk menduduki Pulau Kharg -- menguasai terminal minyak utama yang menjadi jantung ekspor energi Iran. Langkah tersebut bisa menjadi pukulan ekonomi super-dahsyat bagi Teheran. Jika serdadu AS mampu menguasai fasilitas ini, ekspor minyak Iran seketika runtuh. Pendapatan negara bisa nyungsep puluhan miliar dolar AS, dan kemampuan Iran membiayai militer serta operasi regional niscaya melemah secara drastis.
Secara (geo) strategi, itu seperti memotong arteri utama ekonomi Iran tanpa harus menginvasi seluruh negara. Bagi Washington, ini operasi kecil namun memiliki dampak ekonomi yang besar lagi luas. Akan tetapi, di situlah paradoks skenario muncul, justru tak kalah dahsyat dibanding skenario asing untuk merebut Pulau Kharg.
Bahwa pulau yang terlihat seperti “target mudah,” ia dapat berubah menjadi jebakan paling mengerikan pada medan tempur di Iran. Mengapa begitu, bahwa secara geografis -- ia hanya berjarak 25-an kilometer dari (pantai) Iran. Dari sisi daratan, militer Iran misalnya, atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), ataupun elemen (milisi) keamanan lainnya bisa menghujani pulau dimaksud dengan rudal balistik, drone, ataupun mesin artileri dalam hitungan menit secara presisi.
Ya. Seandainya serdadu infanteri dan amfibi Amerika benar-benar mendarat di sana, mereka seperti terjebak dalam lingkaran api. Setiap pasukan luar yang mendarat di pulau seperti berada di tengah hujan tembakan karena terlihat jelas oleh radar, satelit, dan sistem pengawasan militer Iran. Artinya, operasi yang dimaksudkan memotong nadi ekonomi Iran -- justru bisa berubah menjadi “neraka konflik” tak terbayangkan bagi pasukan luar.
Memang. Dalam geostrategi modern, suatu pertempuran tidak selalu dimulai dari penguasaan ibu kota, ataupun pangkalan militer besar. Kerap, justru ia dimulai dari terminal minyak di pulau yang tidak diperhatikan oleh publik global. Dan dalam konflik antara Iran versus AS hari ini, pulau kecil itu bernama Kharg: simbol kekuatan sekaligus kerentanan Iran. Kuat, karena selama ini Pulau Kharg mampu menjadi sumber utama berputarnya perekonomian Iran. Rentan, karena kekuatan berlipat-lipat dari AS dan Israel berpeluang menguasai Kharg.
Maka kalkulasi cumemu (cuaca, medan, musuh) pasti dilakukan Iran dengan kekuatan berlapis juga. Keunggulan persenjataan, banyak personel militer, dan kemampuan menggunakan kekuatan secara optimal memang menjadi bekal. Namun pengenalan medan peperangan, kesiapan menghadapai berbagai jenis serangan, dan semangat yang melatarbelakangi perang, adalah modal memenangkan pertarungan hidup dan mati. Hukum alam menjamin keseimbangan. Perusaknya niscaya mendapat imbalan sedahsyat kerusakan yang dilakukannya. Pulau Kharg mungkin diperhitungkan, namun memperhitungkan semangat dan daya juang disertai kelengkapan peralatan, tentu akan menentukan, siapa petarung tangguh yang mengibarkan panji kemenangan utuh. Inilah perang totalitas. (**)
Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
Editor: Muhammad Furqon
