Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
Runtuhnya Utsmaniyah
MOMENTUM -- Para pengkritik Zionisme kerap menunjuk jatuhnya Kesultanan Utsmaniyah sebagai contoh keberhasilan penetrasi ideologi asing ke dalam sebuah negara. Sebagian kajian bahkan mengaitkannya dengan berbagai jaringan kepentingan internasional yang berkembang pada masa itu.
Selama lebih dari enam abad, Utsmaniyah menjadi simbol kekuatan dunia Islam. Namun, menjelang abad ke-20, kekaisaran tersebut mulai diguncang berbagai persoalan internal. Nasionalisme berkembang di wilayah-wilayah kekuasaannya. Sekularisme dan modernisasi ala Barat masuk ke lingkungan elite. Gerakan separatis muncul di berbagai daerah.
Di saat yang sama, tata kelola pemerintahan melemah, utang meningkat, dan ketergantungan terhadap sistem ekonomi global semakin besar. Kondisi tersebut membuka ruang bagi berbagai bentuk intervensi, infiltrasi, hingga pengaruh politik dari luar. Akibatnya, stabilitas melemah dan kemiskinan struktural semakin mengakar.
Baca Juga: Israel, Bangsa Parasit di Muka Bumi (1)
Ketika fondasi internal melemah, kekuatan asing semakin mudah memengaruhi arah politik kekaisaran. Pada akhirnya, Mustafa Kemal Atatürk tampil sebagai tokoh utama Republik Turki modern yang menggantikan sistem kekhalifahan.
Bagi sebagian umat Islam, peristiwa itu bukan sekadar perubahan sistem pemerintahan, melainkan runtuhnya simbol persatuan dunia Islam. Dalam pandangan tersebut, kejatuhan Utsmaniyah dipandang sebagai kombinasi antara faktor sejarah, siklus peradaban, dan kesalahan manusia dalam mengelola kekuasaan.
Pecahnya Uni Soviet
Pola yang dianggap serupa juga terlihat pada Uni Soviet. Ketika krisis ekonomi melanda, Mikhail Gorbachev memperkenalkan kebijakan glasnost dan perestroika. Reformasi itu dimaksudkan untuk menyelamatkan negara yang mengalami stagnasi ekonomi dan tekanan akibat Perang Dingin.
Namun, reformasi tersebut justru mempercepat proses disintegrasi. Republik-republik anggota Uni Soviet mulai melepaskan diri. Nasionalisme menguat. Struktur negara yang selama puluhan tahun tampak kokoh akhirnya runtuh pada 1991.
Bagi pendukung reformasi, perubahan itu merupakan jalan menuju kebebasan dan demokrasi. Sebaliknya, bagi kalangan komunis garis keras, peristiwa tersebut dipandang sebagai awal kehancuran sebuah negara adidaya.
Demokrasi, HAM, dan Agenda Global
Dalam pandangan yang kritis terhadap dominasi Barat dan Zionisme, berbagai konsep global seperti demokrasi, hak asasi manusia (HAM), liberalisme, sistem keuangan internasional, serta sekularisme kerap dipandang sebagai instrumen pengaruh politik.
Nilai-nilai tersebut dipromosikan sebagai standar universal yang berlaku bagi seluruh dunia. Di satu sisi, konsep-konsep itu telah memberikan kontribusi bagi kemajuan berbagai bidang kehidupan. Namun, di sisi lain, tidak sedikit negara yang menilai penerapannya sering kali bersifat selektif sesuai kepentingan negara-negara besar.
Pandangan tersebut melahirkan kritik terhadap apa yang disebut sebagai standar ganda dalam politik global. Berbagai kalangan menilai bahwa kekuatan politik, ekonomi, dan intelektual dunia terus membangun sistem, regulasi, serta standar internasional yang pada akhirnya memperkuat dominasi mereka dalam tata dunia.
Dari sudut pandang ini, berbagai konsep seperti rules-based order dipandang tidak sepenuhnya netral karena dianggap mengandung kepentingan politik negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan kelompok G7.
Kini dominasi tersebut menghadapi tantangan dari kekuatan baru seperti China dan Rusia, baik dalam bidang ekonomi, teknologi, maupun militer. Persaingan yang muncul tidak lagi berbentuk konfrontasi langsung, melainkan kompetisi yang berjalan berdampingan (competitive coexistence).
Amerika Serikat: Tuan Rumah Berikutnya?
Pertanyaan yang kerap muncul dari para pengkritik Zionisme adalah: jika Utsmaniyah runtuh dan Uni Soviet pecah, apakah Amerika Serikat suatu saat akan mengalami nasib serupa?
Pandangan ini muncul karena dianggap kuatnya pengaruh kelompok lobi pro-Israel dalam politik Amerika, termasuk melalui organisasi seperti AIPAC. Menurut para pengkritik tersebut, semakin besar ketergantungan suatu negara terhadap kepentingan eksternal, semakin besar pula risiko hilangnya kemandirian politik.
Sebagian pengamat bahkan berpendapat bahwa sejumlah kebijakan Amerika lebih mencerminkan kepentingan Israel dibandingkan kepentingan nasional Amerika sendiri.
Apakah Amerika Serikat akan bernasib seperti imperium-imperium sebelumnya? Tidak ada yang dapat menjawabnya dengan pasti. Namun sejarah menunjukkan bahwa setiap kekuatan besar yang gagal menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan pengaruh eksternal pada akhirnya menghadapi ujian yang serupa.
Penutup: Menghitung Mundur Kejatuhan
Menyebut Zionisme sebagai "parasit dunia" merupakan pandangan yang sangat kontroversial dan tentu tidak diterima oleh semua pihak. Istilah tersebut lahir dari perspektif yang meyakini bahwa banyak kekuatan besar dalam sejarah runtuh akibat kombinasi kelemahan internal dan pengaruh eksternal yang bekerja secara perlahan dari dalam.
Benar atau tidaknya tesis tersebut tetap menjadi perdebatan panjang. Yang jelas, sejarah menunjukkan bahwa suatu bangsa dapat kehilangan kekuatannya bukan hanya karena tekanan dari luar, tetapi juga karena kegagalannya mengelola persoalan dari dalam.
Pada akhirnya, persoalan dunia bukan semata-mata tentang Israel, Zionisme, Barat, Timur, atau ideologi tertentu. Persoalan yang lebih mendasar adalah ketika kekuasaan menempatkan dirinya di atas hukum, keadilan, dan kemanusiaan.
Sejarah membuktikan bahwa tidak ada kekuatan yang abadi. Setiap imperium yang membangun dominasinya di atas ketidakadilan pada akhirnya akan berhadapan dengan konsekuensi sejarahnya sendiri.
Karena itu, pelajaran terbesar bagi dunia bukanlah siapa yang menang hari ini, melainkan bagaimana memastikan kekuasaan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan. Sebab, sebuah bangsa lebih sering runtuh akibat kegagalan memperbaiki dirinya sendiri daripada karena serangan dari luar.
Ketika keadilan dikalahkan oleh kepentingan, dan kemanusiaan dikorbankan demi kekuasaan, saat itulah sejarah mulai menghitung mundur kejatuhan sebuah peradaban.(**)
Editor: Muhammad Furqon
