Dino Patti Djalal, Diplomat Senior yang Mendadak Kembali Jadi Perbincangan

img
Founder dan Chairman FPCI Dino Patti Djalal menerima penghargaan Order of Merit dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: Ist.

MOMENTUM -- Nama Dino Patti Djalal kembali menghiasi ruang publik dalam beberapa hari terakhir. Bukan karena jabatan baru atau penugasan diplomatik, melainkan karena kritik yang disampaikannya terhadap intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto memicu polemik nasional.

Dalam sebuah video yang diunggah melalui media sosial, mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu menyoroti frekuensi lawatan Presiden ke berbagai negara sejak menjabat. 

Menurut Dino, perjalanan luar negeri yang terlalu sering berpotensi menimbulkan persepsi negatif di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan. 

Ia juga mengingatkan bahwa setiap kunjungan presiden membutuhkan biaya besar, mulai dari transportasi, pengamanan, logistik hingga dukungan protokoler.

Dino bahkan menyarankan agar sebagian agenda diplomasi dapat dilakukan melalui konferensi video, memanfaatkan forum internasional yang sudah ada, memperkuat peran Menteri Luar Negeri, serta memperbanyak penerimaan tamu negara di Indonesia dibandingkan melakukan kunjungan ke luar negeri.

Kritik tersebut mendapat tanggapan langsung dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Teddy menjelaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik, namun meminta agar berbagai capaian diplomasi Presiden tidak diabaikan. 

Ia juga menegaskan bahwa biaya tambahan di luar anggaran resmi negara ditanggung secara pribadi oleh Presiden dan jumlah rombongan yang ikut dalam kunjungan luar negeri telah dipangkas dibandingkan periode sebelumnya.

Namun, perhatian publik justru tertuju pada satu kalimat Teddy yang menyebut Dino sebagai "diplomat hebat" yang pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri "walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan". 

Kalimat itu dinilai banyak pihak tidak menyentuh substansi kritik yang disampaikan Dino dan cenderung merujuk pada rekam jejak pribadinya. Akibatnya, perdebatan meluas dan memunculkan gelombang dukungan kepada Dino di media sosial.

Di balik polemik tersebut, Dino Patti Djalal bukanlah sosok baru dalam dunia diplomasi Indonesia.

Pria kelahiran Beograd, Yugoslavia, 10 September 1965 itu merupakan putra diplomat senior Hasjim Djalal, tokoh yang dikenal luas sebagai pakar hukum laut internasional. Sejak kecil, Dino hidup berpindah-pindah negara mengikuti penugasan ayahnya, pengalaman yang kemudian membentuk ketertarikannya pada hubungan internasional.

Karier diplomatik Dino dimulai pada 1987 ketika bergabung dengan Departemen Luar Negeri. Namanya mulai dikenal luas saat menjadi juru bicara pemerintah Indonesia dalam proses referendum Timor Timur pada 1999. 

Setelah itu ia dipercaya menempati berbagai posisi strategis, mulai dari Direktur Amerika Utara dan Tengah, Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Pada 2014, ia menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri. Meski hanya beberapa bulan berada di posisi tersebut, rekam jejaknya di bidang diplomasi telah terbentang selama puluhan tahun.

Setelah tidak lagi berada di pemerintahan, Dino mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah komunitas yang aktif mendorong diskusi kebijakan luar negeri dan diplomasi publik. Ia juga dikenal sebagai penggagas gerakan diaspora Indonesia yang menghubungkan warga negara Indonesia di berbagai belahan dunia.

Kini, di tengah polemik yang berkembang, nama Dino Patti Djalal kembali mengingatkan publik pada sosok diplomat yang selama lebih dari tiga dekade berada di jantung diplomasi Indonesia. 

Kritik yang disampaikannya boleh memicu perdebatan, namun rekam jejak panjangnya membuat suaranya tetap diperhitungkan dalam percakapan mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia. (**)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos