Dilema Amerika dalam Memerangi Iran di Darat

img
Ilustrasi. Ist.

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

MOMENTUM -- Opsi Perang Darat. Ada satu fakta militer yang jarang didiskusikan secara terbuka dalam geopolitik tentang Iran bahwa serangan udara dan bombardir tidak dapat menyita uranium. Memang, pekan pertama saja sudah menyita biaya miliran dolar AS, makin menggerus legalitas moral AS, dan justru membangun kesadaran baru bagi negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS. Padahal biaya besar itu dominan terpakai dalam serangan udara. Benar, serangan udara mampu merusak bangunan, menghancurkan reaktor, bahkan menunda program nuklir. Tetapi, jika tujuan sebenarnya ialah memastikan uranium Iran tidak lagi berada di tangan Teheran, maka satu langkah yang tak terhindarkan muncul di meja komando: “operasi darat.” Tujuan utamanya, Iran total tidak berpeluang mengembangkan senjata nuklir. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. 

Itulah kenapa, dalam kalkulasi militer Amerika Serikat (AS), isu nuklir Iran selalu berujung pada dilema yang sama. Contohnya, menyerang dari udara dan berharap cepat selesai; atau, mengirim pasukan darat tapi membuka pintu perang lebih besar. Dalam praktik perang militer, hal ini diperhitungkan melalui cuaca, medan dan musuh. Perhitungan ini tetap bermuara pada bagaimana serangan darat memastikan kemenangan, atau malah membuktikan kegagalan mencapai tujuan perang. Karena AS sudah kehilangan kepercayaan global, maka Trump mengatakan kepada publik internasional bahwa AS mampu memukul Iran lebih keras dari sebelumnya. Jika tipikal Trump yang impulsif digunakan sebagai rujukan analisis, maka tidak mustahil AS menggunakan nuklirnya.

Isu Nuklir: Bukan Menghancurkan, Tapi Menguasai

Banyak yang berasumsi bahwa AS bisa menyelesaikan persoalan nuklir Iran hanya dengan serangan udara presisi. Secara teknis, itu mungkin. Namun ia hanya menunda, bukan mengakhiri program tersebut. Kenapa? Bahwa fasilitas nuklir Iran sejak awal dirancang untuk bertahan dari serangan. Lokasinya seperti di Natanz Nuclear Facility contohnya, atau Isfahan Nuclear Technology Center. Bahkan pada terminal minyak di Pulau Kharg, juga dibangun sistem perlindungan berlapis baik dari sisi infrastruktur seperti beton tebal, bunker bawah tanah, jaringan terowongan yang memungkinkan material dipindahkan dengan cepat, dan penjagaan militer super-ketat. 

Menurut berbagai sumber khususnya CNN dan Anadolu Agency, sekitar 200 kilogram uranium yang diperkaya diperkirakan berada di fasilitas Isfahan, sementara stok lain, sekitar 440 kilogram berada di Natanz. Dalam dunia nuklir, jumlah tersebut bukan angka kecil. Jika uranium itu dihancurkan dengan bom, risiko kontaminasi radioaktif akan muncul dan menyebar. Bila fasilitasnya saja yang dihancurkan, uranium tersebut bisa saja sudah dipindahkan atau tetap tersimpan di jaringan bawah tanah. Artinya, serangan udara bisa merusak gedung, tetapi tidak otomatis menghilangkan material nuklirnya. Itu karenanya serangan AS pada Juni 2025 dipandang sebagai omong besar dan ilusi kesuksesan militer AS. Bahkan Iran sebagai pihak yang diserang menolak berdialog dan siap melanjutkan perang. Korps Garda Revolusi Iran menyatakan akan berperang sebagai dengan titik darah penghabisan.

Analisis Tak Nyaman: Uranium Harus Direbut

Tak pelak, sebagian analis geopolitik dan militer di Washington mengakui sesuatu yang tidak nyaman secara (geo) politik. Hipotesanya, jika targetnya adalah uranium, maka target itu harus direbut secara fisik. Dengan kata lain, operasi seperti ini mutlak harus dilakukan oleh pasukan darat untuk menembus pertahanan Iran; menguasai fasilitas nuklir; mengamankan material radioaktif; memindahkannya dengan protokol keselamatan tinggi.

Sudah barang tentu, operasi semacam itu sangat membutuhkan puluhan ribu bahkan ratusan ribu pasukan tempur; perlu unit pengamanan khusus; tim ilmuwan dan teknisi nuklir; perlindungan udara dan logistik skala besar. Nah, begitu operasi darat tersebut dimulai, konflik otomatis berubah menjadi perang konvensional skala besar. Seperti artikel yang lalu, AS diduga akan menurunkan 110 ribu pasukan daratnya. Pasukan ini akan berhadapan dengan 350 ribu personal garda revolusi dari 610 ribu personal militer Iran. Karena ini perang totalitas, serangan darat AS harus memperhitungkan secara dalam, matang, terpadu dan dalam padanan analisis proporsional dan profesional. Tanpa mengurangi sikap prudensial, pemimpin AS menyadari risiko ini. Dari kesadaran ini muncul isu tentang keinginan AS berdialog dengan Iran. Malah ingin menghentikan perang, seperti Trump bilang, “Perang akan berakhir segera mungkin.”

Target Pangkalan Militer dan Iran Tak Mungkin Kalah Cepat

Masalah berikutnya adalah, Iran itu bukan negara yang mudah ditaklukkan. Negara ini memiliki wilayah sekitar 1,6 juta km², populasi lebih dari 85-90 juta jiwa, militer regular, paramiliter ratusan ribu personel dan yang paling pokok ialah jiwa juang pantang menyerah. Ini yang tidak ada pada militer AS. Selain itu, Iran mengembangkan strategi perang asimetris yang cerdas, sistematis dan kerap mengejutkan pihak lawan. Misalnya, alih-alih mengalahkan AS secara langsung, strategi Iran justru mengulur perang menjadi lama, mahal, dan menyakitkan secara politik. AS juga melakukannya dengan menggunakan suku Kurdi di Irak untuk menyerang Iran. Juga Sebagian suku Kurdi di Siria. Tapi dari segi kemampuan mengamplifikasi perang bersamaan dengan serangan ke pangkalan militer di berbagai negara Teluk aliansi AS, Iran lebih unggul. Sementara negara-negara Teluk sudah resah gelisah menghadapi diserangnya fasilitas infrastruktur publik. Ini menyita biaya yang besar. Termasuk biaya pemulihan dan perbaikan sehingga kembali norml.

Dalam ungkapan lain, Iran telah menimbulkan rasa kecemasan  amat sangat pada sekutu AS. Tentu saja, karena Iran menyiapkan perangkat militer. Misalnya, ribuan rudal balistik, drone tempur dan drone kamikaze, armada cepat di Teluk Persia dan Selat Hormuz, jaringan milisi di Irak, Syria, Lebanon, dan Yaman. Konsepnya sederhana, jika AS menyerang Iran baik lewat udara apalagi darat, maka medan tempur tidak akan berhenti di Iran. Cakupan perang diperluas. Musuh menjadi cemas.

Peristiwa ini sudah terjadi dan tengah berlangsung. Bahwa jaringan pangkalan militer di Kawasan Teluk (Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab dll, termasuk Jordania) yang sebelumnya menjad simbol dominasi militer Amerika di Timur Tengah. Dalam perang kali ini (AS-Israel versus Iran) justru negara-negara itu merupakan target yang jelas, karena berada dalam jangkauan rudal Negeri Para Mullah. Dengan serbuan rudal jarak jauh, hasilnya akan merusak hampir seluruh pangkalan militer AS. Padahal biaya membangun pangkalan ini demikian besarnya. Lagi dengan rusaknya pangkalan ini, pesawat tempur AS hanya akan tinggal sebagai “burung logam” tak berdaya.

Uranium 60 Persen: Garis Tipis Menuju Senjata

Tak boleh dipungkiri, selain minyak dan penggunaan dolar AS, akar utama krisis ini juga berada pada program nuklir Iran. Menurut pengawasan dari International Atomic Energy Agency, tingkat pengayaan uranium Iran pernah mencapai sekitar 60 persen. Dalam konteks nuklir global, angka ini sangat sensitive. Mengapa? Sebab, pembangkit listrik nuklir lazimnya hanya menggunakan 3 - 5 persen uranium, sedangkan senjata nuklir membutuhkan sekitar 90 persen. Artinya, Iran berada di zona abu-abu yang sangat dekat dengan ambang militer, meski belum mencapai level senjata.

Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai. Namun, AS dan sekutunya melihat tingkat pengayaan dimaksud sebagai potensi lompatan cepat menuju senjata nuklir. Di sinilah ketegangan geopolitik mencapai titik paling tajam. Tapi ketegangan ini pun muncul karena multiple suitable standard-nya AS

Dilema Strategis Washington dan Garis Merah Perang Besar

Pada akhirnya, persepsi ancaman dan opsi yang dihadapi Washington sama-sama berbahaya. Pada satu sisi, bila tidak bertindak secara militer, dipersepsikan Iran berpotensi memperkuat kemampuan nuklirnya. Di sisi lain, jika memutuskan mengirim pasukan darat, konsekuensinya bisa berupa: perang konvensional dengan skala besar, meningkatnya eskalasi konflik di seluruh Timur Tengah, gangguan besar di jalur energi global, dan lain-lain. Efek berlapisnya terlalu banyak. Ekonomi dunia hampir pasti krisis.

Sejarah memberi peringatan bahwa Invasi darat di Afghanistan (2001) dan Irak (2003) dimulai dengan kemenangan militer secara cepat. Tapi itu berubah menjadi konflik yang berlangsung bertahun-tahun. Khususnya perang di Afghanistan hingga 20 tahun (2001-2021) tanpa kemenangan yang jelas. Bahkan AS dan sekutu dianggap kalah perang. Maka pendaratan di Iran ---wilayah lebih luas dan populasi jauh lebih besar--- berpotensi menghadirkan skenario perlawanan sengit, bahkan lebih kompleks daripada perang di Afghanistan.

Dalam perspektif Barat, krisis di Iran bermuara pada isu nuklir meski realitasnya belum jelas. Lagi-lagi, dari persepsi AS bahwa program nuklir Iran ialah persoalan strategis. Tetapi, uranium yang menjadi inti persoalan tidak bisa sekadar dihancurkan dari udara.

Jika Washington benar-benar ingin memastikan material tersebut tidak lagi berada di tangan Teheran, maka pilihan paling efektif tetap sama sejak awal: menyerbu, menguasai, dan mengambilnya secara langsung. Persoalannya, begitu langkah (invasi darat) itu diambil, ia tidak lagi berbicara tentang operasi militer terbatas. Dunia akan berbicara tentang perang darat besar di Timur Tengah -- sebuah konfliki yang bakal memiliki implikasi melampaui kawasan itu sendiri. 

Penutup: Dunia di Tepi Jurang

Di titik inilah, dunia berdiri di tepi jurang strategi berbahaya. Jika Washington menahan diri, persepsi ancaman Iran akan terus bergerak mendekati ambang kemampuan nuklir yang membuat keseimbangan kekuatan di Timur Tengah berubah permanen. Tetapi, jika AS memutuskan menjejakkan sepatu larasnya di Tanah Para Mullah, konsekuensinya hampir pasti. Yakni perang darat terbesar di kawasan itu sejak invasi Irak dan Afghanistan dahulu. Ini menjadi konflik yang tidak hanya melibatkan dua negara, tetapi berpotensi menyeret seluruh kawasan, lalu mengguncang pasar energi dunia, bahan petro chemical, pasar pupuk dan membuka babak baru konfrontasi global.

Maka, setiap keputusan yang diambil baik oleh Washington, Teheran, maupun ibu kota sekutu para pihak kini bukan lagi sekadar langkah taktis militer, melainkan pertaruhan harga diri, legitimasi kepercayaan dan moralitas serta sejarah. Satu kesalahan kalkulasi saja dapat mengubah krisis ini dari konflik regional menjadi ledakan geopolitik yang dampaknya menjalar jauh melampaui Timur Tengah. Dunia hari ini, tak sedang disuguhi perang militer semata, tetapi ia tengah digiring pada permainan geopolitik berisiko tinggi. Dan dalam permainan seperti ini, kerap kali bukan soal menang-kalah melainkan perang yang tidak lagi bisa dihentikan -- karena para pihak terlalu yakin lawannya akan mundur. Wallahu a’lam bi showab.(**)                                     

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos