MOMENTUM, Pringsewu – Produksi padi di Kabupaten Pringsewu terus menunjukkan tren meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi naik dari 128.638 ton pada 2023 menjadi 154.782 ton pada 2025 atau bertambah rata-rata 13.072 ton per tahun.
Untuk menjaga tren tersebut sekaligus mempercepat musim tanam, Pemerintah Kabupaten Pringsewu bersama Polres Pringsewu menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani.
Bantuan alsintan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas bersama Kapolres Pringsewu AKBP M. Yunnus Saputra di Pekon Panjerejo, Kecamatan Gadingrejo, Senin (29/6/2026).
Alsintan tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian dan Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya mendukung percepatan tanam dan pengendalian inflasi daerah.
Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas mengapresiasi dukungan Kementerian Pertanian dan Polri yang dinilai memberikan perhatian nyata kepada petani melalui bantuan sarana produksi pertanian.
Menurutnya, sinergi tersebut menjadi bagian dari program nasional untuk mempercepat swasembada pangan, khususnya melalui pengembangan areal tanam, peningkatan produktivitas, serta penguatan sarana dan prasarana pertanian.
Ia mengatakan sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Pringsewu. Karena itu, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan produksi komoditas strategis, terutama padi dan jagung.
Riyanto menjelaskan, selain produksi yang meningkat, luas panen padi sawah juga mengalami kenaikan dari 21.753 hektare pada 2023 menjadi 24.882 hektare pada 2025. Artinya, dalam dua tahun terakhir terjadi penambahan rata-rata 1.565 hektare per tahun atau tumbuh sekitar 7 persen setiap tahun.
"Produksi padi juga meningkat dari 128.638 ton menjadi 154.782 ton dengan rata-rata kenaikan 13.072 ton per tahun atau tumbuh sekitar 10 persen per tahun," ujarnya.
Sementara itu, produktivitas jagung juga mengalami peningkatan dari 5,33 ton per hektare pada 2023 menjadi 7,57 ton per hektare pada 2025.
Menurut Riyanto, capaian tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi budidaya, penggunaan benih unggul, serta dukungan sarana dan prasarana pertanian mampu meningkatkan efisiensi dan hasil usaha tani.
Karena itu, bantuan alsintan dinilai sangat strategis untuk mempercepat pengolahan lahan, meningkatkan efisiensi usaha tani, serta mendukung target swasembada pangan.
Ia juga meminta kelompok tani penerima bantuan memanfaatkan dan merawat alsintan secara optimal agar dapat digunakan bersama dan memberi manfaat bagi seluruh anggota kelompok.
Selain itu, para penyuluh pertanian diminta terus mendampingi petani dalam penerapan teknologi budidaya, penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta pemanfaatan alsintan secara efektif dan efisien.(*)
Editor: Muhammad Furqon
