Oleh: Majid Lintang
ADA tempat-tempat yang didatangi karena keindahannya. Ada pula tempat yang membuat orang rela menempuh perjalanan panjang hanya untuk menunggu sesuatu yang belum tentu datang.
Tanjung Setia yang terletak di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung termasuk yang kedua.
Di pantai yang menghadap Samudra Hindia itu, orang datang bukan semata-mata untuk melihat laut. Mereka datang untuk menunggu ombak.
Menunggu adalah kata kerja yang penting di Tanjung Setia.
Para peselancar duduk di atas papan mereka, menghadap cakrawala. Mata mereka seperti nelayan yang sedang membaca tanda-tanda langit. Mereka tidak tergesa. Laut tidak bisa diperintah. Ombak tidak bisa dipanggil dengan telepon. Ia datang menurut hukumnya sendiri.
Maka di sini manusia belajar satu perkara yang sering dilupakan kehidupan modern: tidak semua yang kita inginkan bisa dipaksa datang lebih cepat.
Perjalanan menuju Tanjung Setia dari arah Bandarlampung membawa kita menembus lanskap Lampung yang perlahan berubah.
Kota tertinggal di belakang.
Jalan mulai berkelok. Bukit-bukit muncul. Hutan dan lembah bergantian mengisi pandangan. Sesekali kampung-kampung kecil tampak di balik pepohonan.
Semakin ke barat, perjalanan terasa seperti meninggalkan satu dunia dan memasuki dunia yang lain.
Pesisir Barat memang memiliki karakter geografis yang khas. Di satu sisi ada jajaran Bukit Barisan. Di sisi lain, Samudra Hindia membentang tanpa pagar.
Di antara keduanya, manusia hidup.
Tanjung Setia tumbuh dari ruang semacam itu.
Sebuah kampung yang dahulu lebih dekat dengan kehidupan pesisir, kemudian perlahan dikenal dunia karena sesuatu yang bagi penduduk setempat sebenarnya sudah lama mereka kenal: ombak.
Bagi orang biasa, ombak mungkin hanya air yang bergerak.
Bagi peselancar, ombak adalah bahasa.
Ia memiliki tinggi, kecepatan, arah, bentuk, dan watak.
Ada ombak yang bersahabat. Ada yang pemarah. Ada yang datang perlahan lalu pecah dengan anggun. Ada pula yang menggulung seperti binatang besar yang baru terbangun.
Tanjung Setia terkenal karena karakter gelombangnya.
Posisinya yang berhadapan dengan Samudra Hindia membuat kawasan ini menjadi salah satu tujuan surfing yang dikenal hingga mancanegara. Pada musim tertentu, gelombang dapat mencapai beberapa meter dengan lintasan yang panjang.
Di atas papan selancar, seorang manusia tampak kecil.
Sangat kecil.
Laut seperti ingin mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar menjadi penguasa alam.
Ia hanya diberi kesempatan sebentar untuk menumpang.
Di kawasan ini terdapat sejumlah titik surfing yang namanya sudah akrab bagi para pemburu ombak.
Salah satunya Ujung Bocur, atau yang juga dikenal sebagai Karang Nimbor.
Nama itu mungkin terdengar sederhana bagi orang kampung. Tetapi bagi sebagian peselancar, tempat ini memiliki reputasi yang jauh lebih besar.
Kemudian ada Way Jambu.
Di kalangan surfer, tempat ini dikenal dengan julukan yang terdengar seperti peringatan: Pipeline. Sebagian menyebutnya dengan nama yang lebih keras lagi—Setan Sejati.
Nama-nama itu tidak lahir tanpa alasan.
Di laut, keindahan dan bahaya sering berdiri hanya beberapa meter satu sama lain.
Ombak yang terlihat indah dari pantai bisa menjadi persoalan serius bagi orang yang tidak memahami arus dan karakter laut.
Karena itu Tanjung Setia bukan tempat untuk bermain-main dengan kesombongan.
Laut tidak pernah peduli apakah seseorang datang sebagai wisatawan, juara surfing atau manusia yang merasa paling berani.
---
Namun Tanjung Setia tidak hanya milik para surfer.
Ada orang yang datang membawa kamera.
Ada pasangan yang duduk diam di bawah pohon kelapa.
Ada keluarga yang ingin melihat laut.
Ada pelancong yang hanya ingin menghirup udara asin setelah berjam-jam berada di jalan.
Ada pula orang-orang yang datang tanpa agenda.
Mereka hanya ingin duduk.
Dan mungkin justru mereka yang paling mengerti Tanjung Setia.
Sebab pantai ini memiliki sesuatu yang tidak tercantum dalam brosur wisata: ruang untuk diam.
Di zaman ketika hampir semua tempat ingin berbicara—melalui papan reklame, telepon genggam, media sosial, dan notifikasi—pantai menyediakan kemungkinan untuk tidak mengatakan apa-apa.
Cukup duduk.
Memandang laut.
Mendengarkan ombak.
Lalu membiarkan pikiran pulang kepada dirinya sendiri.
---
Menjelang sore, warna langit mulai berubah.
Matahari perlahan turun menuju cakrawala. Cahaya yang tadinya keras menjadi lembut. Bayangan pohon kelapa memanjang di pasir.
Para surfer satu demi satu meninggalkan laut.
Papan-papan selancar disandarkan.
Pantai mulai lebih sunyi.
Tetapi laut tidak pernah benar-benar diam.
Ia terus bergerak.
Seperti napas raksasa.
Gelombang datang, pecah, kemudian menghilang. Gelombang berikutnya menyusul. Begitu seterusnya.
Barangkali di situlah daya pikat Tanjung Setia yang sesungguhnya.
Bukan karena ia sempurna.
Tetapi karena ia mengingatkan manusia pada sesuatu yang sederhana: segala sesuatu mempunyai waktunya.
Ombak mempunyai waktunya.
Matahari mempunyai waktunya.
Perjalanan mempunyai waktunya.
Bahkan manusia pun mempunyai waktunya.
---
Bagi masyarakat setempat, berkembangnya wisata Tanjung Setia membawa perubahan.
Penginapan tumbuh. Rumah-rumah menerima tamu. Warung dan tempat makan ikut bergerak. Nama kampung yang dahulu mungkin hanya dikenal di sekitar Pesisir Barat mulai disebut oleh orang-orang dari berbagai negara.
Pariwisata mengubah cara sebuah tempat memandang dirinya sendiri.
Tanjung Setia tidak lagi sekadar sebuah titik di garis pantai Lampung.
Ia menjadi bagian dari peta surfing dunia.
Tetapi di balik reputasi itu, kehidupan sehari-hari tetap berjalan seperti biasa.
Orang pergi ke kebun.
Orang melaut.
Anak-anak tumbuh.
Warung buka.
Motor melintas.
Dan laut tetap berada di sana.
Seolah-olah ketenaran adalah urusan manusia, sedangkan laut tidak pernah merasa perlu menjadi terkenal.
---
Ada ironi yang indah di Tanjung Setia.
Orang-orang dari negeri jauh datang untuk mencari sesuatu yang selama bertahun-tahun berada di depan mata penduduk setempat.
Mereka datang membawa papan selancar, kamera, uang, bahasa yang berbeda, dan mimpi masing-masing.
Mereka datang mengejar ombak.
Sementara bagi masyarakat yang tinggal di sana, ombak adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Barangkali begitulah cara sebuah tempat menjadi destinasi wisata.
Sesuatu yang biasa bagi penduduk lokal tiba-tiba menjadi luar biasa bagi orang yang datang dari jauh.
Tetapi setelah beberapa hari tinggal di sana, pelancong biasanya menemukan sesuatu yang lebih penting daripada ombak.
Ia menemukan manusia.
Menemukan kampung.
Menemukan makanan.
Menemukan percakapan.
Menemukan senja.
Dan mungkin, tanpa disadari, menemukan dirinya sendiri.
---
Malam di Tanjung Setia datang dengan cara yang berbeda dari kota.
Tidak ada gedung tinggi yang mengejar langit.
Tidak ada bunyi kendaraan yang terus-menerus.
Yang terdengar lebih banyak adalah laut.
Ombak datang dari kegelapan.
Pecah.
Kemudian mundur.
Datang lagi.
Pecah lagi.
Seperti seseorang yang mengetuk pintu rumah berkali-kali, tetapi tidak pernah masuk.
Di dalam penginapan, seorang pelancong mungkin sedang memeriksa foto-foto yang diambilnya sepanjang hari.
Di layar telepon genggamnya ada gambar seorang surfer berdiri di atas gelombang.
Tubuh manusia itu hanya sebuah titik kecil di antara biru laut dan putih buih.
Foto itu mungkin akan dibawa pulang.
Dibagikan.
Disimpan.
Kelak mungkin dilupakan.
Tetapi laut tetap berada di sana.
Menunggu pagi.
---
Pagi di Tanjung Setia memiliki cahaya yang berbeda.
Langit perlahan terang.
Pantai kembali menemukan bentuknya.
Papan selancar kembali dibawa ke laut.
Orang-orang kembali menunggu.
Mungkin hari itu ombak bagus.
Mungkin tidak.
Tidak ada yang bisa memastikan.
Tetapi justru ketidakpastian itulah yang membuat mereka kembali.
Sebab bagi seorang pemburu ombak, kesempurnaan bukan sesuatu yang tersedia setiap saat.
Ia harus dicari.
Dan ketika akhirnya datang, ia hanya berlangsung beberapa detik.
Lalu selesai.
Begitulah mungkin cara laut mengajari manusia tentang kebahagiaan.
Bahwa sesuatu tidak harus berlangsung lama untuk menjadi berarti.
---
Tanjung Setia pada akhirnya bukan hanya tentang pantai.
Ia tentang hubungan manusia dengan laut.
Tentang keberanian dan kerendahan hati.
Tentang perjalanan dan penantian.
Tentang orang-orang yang datang dari jauh untuk mengejar gelombang, sementara penduduk setempat terus menjalani hidup di samping laut yang sama.
Dan tentang sebuah kampung di ujung barat Lampung yang perlahan menjadi terkenal tanpa pernah meminta laut untuk mengubah wataknya.
Di sana, Samudra Hindia terus mengirimkan ombak.
Satu demi satu.
Tak pernah habis.
Seperti surat yang tidak pernah selesai ditulis.
Dan manusia datang membacanya dengan cara masing-masing.
Sebagian membacanya dari pantai.
Sebagian dari atas papan selancar.
Sebagian dari balik kamera.
Sebagian lagi hanya duduk diam, membiarkan angin asin menyentuh wajah.
Sebab mungkin, pada akhirnya, Tanjung Setia tidak sedang mengajarkan kita bagaimana menaklukkan ombak.
Ia sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih tua:
bahwa laut tidak pernah bisa ditaklukkan.
Kita hanya perlu belajar kapan harus maju, kapan harus mundur, dan kapan harus duduk diam menunggu gelombang berikutnya.(*)
Editor: Muhammad Furqon
