PADA Selasa, 18 Agustus 2026, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela bicara soal sampah pasar. Pemerintah kabupaten dan kota diminta mengolah sampah pasar menjadi pupuk organik.
Bagus. Sangat bagus.
Hanya saja, agak aneh jika mengurus sampah masih terdengar seperti menemukan gagasan baru. Pasar dan sampah sudah hidup berdampingan sejak manusia mengenal jual beli. Bahkan, pasar desa pun kini tak luput dari persoalan sampah.
Manusia berkembang. Pasar berkembang. Sampah berkembang. Tetapi cara mengurusnya seperti jalan di tempat.
Padahal, sampah pasar, terutama sisa sayuran, buah, dan bahan organik lainnya, bukan semata barang buangan. Ia bisa menjadi bahan baku pupuk organik. Tidak perlu pabrik besar. Dengan pemilahan, pencacahan, dan pengomposan sederhana, sampah bisa diubah menjadi kompos.
Manfaatnya jelas. Kompos menambah bahan organik, memperbaiki struktur tanah, membantu mempertahankan kelembapan, sekaligus menyediakan unsur hara bagi tanaman. Sampah yang semula dibuang dan membusuk justru bisa kembali menyuburkan tanah.
Jadi, sebenarnya tidak diperlukan teknologi dari langit ketujuh. Yang diperlukan hanya kemauan, sistem, tempat pengolahan, dan sedikit keseriusan.
Pertanyaannya: mengapa urusan yang sederhana ini selalu terasa rumit?
Jangan-jangan karena sampah lebih menguntungkan ketika menjadi masalah.
Ketika sampah diangkut dan dibuang, ada kendaraan yang harus dibeli, ada tempat pembuangan yang harus disediakan, ada lahan yang harus diurus. Banyak urusan. Banyak anggaran.
Sebaliknya, jika sampah diolah menjadi pupuk, manfaatnya kembali kepada rakyat. Petani mendapat pupuk, tanah lebih sehat, lingkungan lebih bersih, dan volume sampah berkurang.
Nah, jangan-jangan di sinilah masalahnya. Jangan-jangan kita terlalu terbiasa memikirkan bagaimana anggaran bergerak, bukan bagaimana sampah berhenti menggunung.
Tentu bukan tuduhan kepada siapa pun. Tetapi rakyat berhak bertanya: mengapa persoalan sampah terus berulang, sementara solusinya sebenarnya tidak terlalu rumit?
Lihat saja kendaraan pengangkut sampah. Tidak sedikit yang tua, kusam, dan kondisinya memprihatinkan. Bahkan penampilannya sudah seperti sampah yang diangkutnya.
Mungkin memang sampah itu bau. Karena itu tidak banyak yang mau menyentuhnya.
Tetapi jika sampah terus dibiarkan menjadi masalah, sementara ada peluang mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat, mungkin yang perlu dibersihkan bukan hanya sampahnya.
Mungkin juga cara berpikir para pejabatnya.
Sebab, kalau sampah sudah tidak berguna, gampang: dibuang.
Yang sulit adalah menentukan, kalau pejabatnya yang sudah tidak berguna, dibuang ke mana?
Tabik.
Muhammad Furqon - Pemimpin Redaksi Harian Momentum / harianmomentum.com
Editor: Muhammad Furqon
