Gara-Gara Suket

img
Muhammad Furqon

ZAMAN sekarang, mencari bahan lawakan tidak perlu lagi datang ke panggung komedi. Cukup membaca berita dan mengikuti berbagai peristiwa penting. Banyak kejadian serius yang justru lucu, meskipun tidak ada yang sedang melawak.

Dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, terungkap persoalan dokumen pendidikan Gibran Rakabuming Raka saat mencalonkan diri sebagai wakil presiden. Salah satunya adalah suket, alias surat keterangan penyetaraan pendidikan. 

Di sinilah suket mulai bikin pusing. Bagaimana mungkin persyaratan pendidikan untuk jabatan strategis nomor dua di negeri berpenduduk sekitar 280 juta jiwa bisa sampai diperdebatkan? Padahal, aturannya jelas: ijazah, bukan suket. Ini bukan lagi sekadar soal selembar dokumen, tetapi soal bagaimana sebuah persyaratan diperiksa, diverifikasi, lalu dinyatakan memenuhi ketentuan.

Namun, ternyata suket bukan hanya bikin pusing di ruang sidang. Di tempat lain, peternak juga sedang dibuat pusing gara-gara suket.

Belakangan ini, banyak peternak kesulitan mendapatkan suket. Kemarau panjang membuat suket mengering, menguning, bahkan mati. Akibatnya, peternak harus membeli suket alternatif agar ternaknya tidak mati. Bagi peternak kecil, keadaan seperti ini bisa menjadi persoalan hidup-mati usaha. Bahkan, gara-gara suket alias rumput—dalam bahasa Jawa—sulit diperoleh, banyak peternak akhirnya memilih melego ternaknya dengan harga murah.

Sama-sama suket, tetapi akibatnya berbeda. Yang satu, suket bisa bikin tertawa dan mengantarkan orang ke puncak kekuasaan, bahkan menjadi jalan menuju kemakmuran. Sementara suket yang satu lagi bikin pusing dan menderita peternak.

Yang satu bisa bikin tertawa, berkuasa, dan kaya. Yang satu lagi bikin ternak mati dan peternak menangis.

Tabik.

Muhammad Furqon 






Editor: Agus Setyawan





Berita Terkait

Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos