MOMENTUM, Jakarta -- Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat mengapresiasi langkah PTPN IV PalmCo dalam mempercepat dekarbonisasi melalui pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) menjadi energi baru terbarukan (EBT).
Menurut Jumhur, pemanfaatan limbah tersebut menunjukkan industri sawit, khususnya yang dikelola BUMN, memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam menekan emisi gas rumah kaca sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.
"Saya harus endorse kebaikan-kebaikan yang dilakukan PTPN IV PalmCo. Dunia saat ini sangat menghargai mereka yang mau menghilangkan emisi gas rumah kaca, seperti yang dilakukan PalmCo," kata Jumhur dalam kegiatan di PTPN IV Regional III, Pekanbaru, Riau, Jumat (21/8/2026).
Saat ini, PTPN IV PalmCo telah mengoperasikan 12 fasilitas methane capture dan EBT di sejumlah wilayah operasional. Energi yang dihasilkan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, co-firing, hingga dikembangkan menjadi compressed biomethane gas (CBG).
PalmCo juga tercatat sebagai perusahaan perkebunan pertama di Indonesia yang aktif dalam perdagangan karbon melalui Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon.
Jumhur mendorong PalmCo memperluas pemanfaatan EBT dan perdagangan karbon. Menurutnya, langkah tersebut dapat meningkatkan kontribusi sektor perkebunan terhadap transisi energi dan penurunan emisi nasional.
"PTPN juga bisa memperluas pemanfaatan carbon trading dengan bekerja sama dengan investor. Manfaat besar akan diterima PTPN, termasuk carbon offset-nya juga bisa didapat. Kita siap memfasilitasi," ujarnya.
Ia menilai perdagangan karbon tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia di pasar global.
Tren perdagangan global, kata Jumhur, semakin memberikan perhatian terhadap produk dengan jejak lingkungan yang lebih baik, termasuk produk minyak sawit berkelanjutan atau sustainable CPO.
"Karena mereka betul-betul bisa mereduksi metan secara luar biasa," katanya.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa mengatakan pengembangan energi terbarukan dan perdagangan karbon merupakan bagian dari strategi perusahaan membangun bisnis perkebunan berkelanjutan.
Menurut Jatmiko, PalmCo terus mengembangkan pemanfaatan limbah sawit agar tidak hanya menjadi residu produksi, tetapi juga dapat diolah menjadi sumber energi yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan lingkungan.
"Kami melihat limbah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dikelola, tetapi juga sebagai sumber daya yang bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan lingkungan," ujar Jatmiko.
Ia mengatakan pengoperasian pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG), pemanfaatan biogas untuk co-firing, CBG, serta perdagangan karbon menjadi bagian dari upaya PalmCo menekan emisi operasional sekaligus mendukung target dekarbonisasi nasional.
PalmCo menargetkan pengoperasian hingga 60 instalasi methane capture pada 2030. Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu menekan emisi perusahaan hingga 71 persen dibandingkan kondisi business as usual.
Target tersebut berada di atas sasaran pemerintah yang ditetapkan sebesar 30 persen pada periode yang sama.
Jatmiko menambahkan, methane capture dan EBT tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui efisiensi operasional dan penjualan produk yang dihasilkan.
"Ini wujud circular economy yang nyata. Mengolah limbah menjadi anugerah dan berkontribusi terhadap kemandirian energi negeri," pungkasnya.(*)
Editor: Muhammad Furqon
