PKK dan Bunda Literasi Kedungwuni Dorong Perpustakaan Desa Lebih Hidup

img
Tim Penggerak PKK Kecamatan Kedungwuni bersama Bunda Literasi Kedungwuni dan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Pekalongan. Foto: Ist.

MOMENTUM, Kedungwuni -- Perpustakaan desa tidak cukup hanya memiliki gedung dan koleksi buku, tetapi juga harus menjadi ruang belajar, berkarya, dan berdaya bagi masyarakat. 

Untuk mendorong hal itu, Tim Penggerak PKK Kecamatan Kedungwuni bersama Bunda Literasi Kedungwuni dan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Pekalongan menggelar bimbingan teknis (bimtek) pengelolaan perpustakaan desa di Pendopo Kecamatan Kedungwuni, Senin (28/9/2026).

Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Kedungwuni sekaligus Bunda Literasi Kedungwuni, Sofi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya bersama untuk meningkatkan peran perpustakaan desa dalam menumbuhkan budaya literasi masyarakat.

Menurutnya, perpustakaan desa harus dikelola secara aktif dan kreatif agar keberadaannya tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi warga.

Ketua FTBM Kabupaten Pekalongan, Yoga Rifai Hamzah, yang menjadi narasumber dalam kegiatan itu, mengingatkan bahwa keberadaan rak dan koleksi buku belum cukup untuk menjadikan perpustakaan berfungsi optimal.

" Mengelola perpustakaan desa itu bukan sekadar menaruh rak dan buku, tetapi bagaimana menghidupkannya menjadi ruang belajar, berkarya, dan berdaya. Kita tidak sedang membangun tempat untuk menyimpan buku, kita sedang membangun tempat agar pengetahuan menemukan manusia," kata Yoga.


Melalui bimtek bertajuk Bukan Sekadar Rak Buku: Menghidupkan Perpustakaan Desa Menjadi Ruang Belajar, Berkarya, dan Berdaya tersebut, para peserta dibekali strategi pengelolaan perpustakaan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Salah satunya dengan membawa buku ke tempat warga berkumpul, seperti posyandu, pendidikan anak usia dini (PAUD), pengajian, dan arisan. Cara ini diharapkan dapat memperluas akses bacaan sekaligus menarik minat masyarakat untuk memanfaatkan perpustakaan.

Pengelola juga didorong mengembangkan program kegiatan rutin, seperti Sabtu Ceria, serta membangun kemitraan dengan pemerintah, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), maupun pihak lain untuk mendukung keberlanjutan program literasi.

Dalam pengembangan koleksi, peserta diajak menerapkan gerakan satu keluarga satu buku. Sementara itu, media sosial diharapkan tidak hanya digunakan untuk mengunggah dokumentasi kegiatan, tetapi juga menyampaikan informasi mengenai program dan manfaat perpustakaan kepada masyarakat.

Pengelolaan perpustakaan desa juga perlu menyesuaikan perkembangan teknologi melalui pemanfaatan internet dan pendampingan literasi digital. Dengan demikian, perpustakaan dapat membantu masyarakat mengakses informasi sekaligus meningkatkan keterampilan digital.

Sebagai tindak lanjut, peserta didorong menyusun rencana aksi selama 30 hari ke depan, mulai dari membentuk tim penggerak, merancang kegiatan rutin, hingga mengaktifkan kembali fungsi perpustakaan desa.

Melalui langkah tersebut, perpustakaan desa diharapkan semakin dekat dengan masyarakat. Sebab, keberhasilan perpustakaan tidak semata-mata ditentukan kemegahan gedung atau banyaknya koleksi buku, tetapi juga oleh aktivitas dan keterlibatan warga di dalamnya.(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos