MOMENTUM, Bandar Lampung--Laju inflasi Provinsi Lampung pada bulan September 2026 tetap terjaga dan terkendali pada angka 0,14% secara bulanan atau month-to-month (mtm).
Capaian angka tersebut tercatat melambat apabila dibandingkan dengan inflasi pada bulan Agustus sebelumnya yang sempat menyentuh angka 0,23%, meskipun berada sedikit di atas rata-rata dalam tiga tahun terakhir yang sebesar 0,12%.
Secara tahunan atau year-on-year (yoy), laju inflasi di Provinsi Lampung berada di level 3,51%, yang tercatat sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata nasional pada angka 3,28%.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menjelaskan bahwa tekanan utama terhadap laju inflasi pada periode ini didorong secara signifikan oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.
Sejumlah komoditas pangan utama yang memberikan andil terbesar dalam kenaikan harga antara lain cabai merah sebesar 0,12% (mtm), beras sebesar 0,10% (mtm), cabai rawit sebesar 0,06% (mtm), serta komoditas tomat yang menyumbang 0,02% (mtm).
"Peningkatan harga beras dipicu oleh penurunan produktivitas panen gadu akibat degradasi daya dukung lahan, diperberat oleh intensitas puncak fenomena El Nino," ujar Bimo Epyanto.
Selain faktor pangan, gangguan pasokan air irigasi di wilayah hulu turut mendorong kenaikan harga komoditas hortikultura, sementara harga telepon seluler ikut menyumbang inflasi sebesar 0,03% akibat lonjakan harga komponen cip global serta apresiasi nilai tukar dolar AS.(**)
Editor: Agus Setyawan
