Oleh: Shofia Rahmadhani*)
MENJADI mahasiswa bukan sekadar duduk di bangku kuliah dan memahami teori dari dosen. Ada saatnya ilmu yang dipelajari harus diterapkan secara langsung untuk mengenal dunia kerja. Pengalaman itu saya rasakan ketika menjalani magang di Balai Laboratorium Lingkungan DLHK DIY.
Awalnya, saya membayangkan kegiatan magang hanya akan diisi dengan mengamati analis melakukan pengujian. Namun, saya justru mendapat kesempatan untuk terlibat dalam sejumlah tahapan pemeriksaan sampel air. Sampel yang dianalisis pun beragam, mulai dari air sungai dan air permukaan hingga air limbah. Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami bahwa setiap sampel memiliki karakteristik tersendiri dan memerlukan penanganan sesuai prosedur pengujian.
Salah satu pengujian yang menarik perhatian saya adalah Biochemical Oxygen Demand (BOD). Sebelum magang, saya belum begitu memahami istilah tersebut, apalagi proses pengujiannya. Saya pun harus banyak bertanya dan mengamati setiap tahapan yang dilakukan analis.
Dari situ, saya mengetahui bahwa pengujian BOD tidak sekadar memasukkan sampel ke dalam botol dan membaca hasilnya. Ada serangkaian tahapan yang harus dilakukan dengan cermat, mulai dari persiapan sampel, pengenceran, penyiapan air pengencer, penambahan Polyseed, hingga pengukuran oksigen terlarut sebelum dan sesudah inkubasi.
Saya juga mulai memahami hubungan antara proses pengujian di laboratorium dan teori yang dipelajari di kampus. BOD merupakan parameter yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik dalam air pada kondisi pengujian tertentu. Parameter ini dapat digunakan untuk membantu menilai beban pencemaran organik dalam sampel air.
Dalam praktiknya, saya berkesempatan membantu pengujian beberapa sampel dengan karakteristik berbeda. Sebagian sampel tampak keruh dan berbau sehingga perlu mendapat perlakuan sesuai prosedur sebelum dianalisis.
Salah satu tahapan yang saya pelajari adalah pengenceran 25 kali, yakni dengan mengambil 8 mililiter sampel, kemudian menambahkan 192 mililiter air pengencer hingga volumenya mencapai 200 mililiter. Saya juga belajar menyiapkan botol Winkler untuk blanko, larutan standar glucose-glutamic acid (GGA), dan sampel.
Selanjutnya, Polyseed ditambahkan sesuai prosedur pengujian. Polyseed merupakan bahan yang mengandung mikroorganisme untuk membantu proses penguraian bahan organik. Setelah seluruh tahapan persiapan selesai, sampel diinkubasi selama lima hari sebelum oksigen terlarut diukur kembali.
Bagi saya, pengalaman ini memberikan pemahaman yang lebih konkret dibandingkan sekadar membaca teori atau mengikuti praktikum di kampus. Saya dapat melihat secara langsung bagaimana tahapan pengujian dilakukan dan mengapa setiap prosedur harus dijalankan secara berurutan.
Tantangan lain muncul ketika mengukur oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) menggunakan metode Winkler. Saya belajar mengikuti tahapan analisis, mulai dari penambahan larutan mangan sulfat (MnSO₄), larutan alkali azida, hingga asam sulfat. Larutan kemudian dititrasi menggunakan natrium tiosulfat sampai mencapai perubahan warna pada titik akhir titrasi sesuai prosedur.
Pada awalnya, saya cukup khawatir melakukan kesalahan, terutama ketika harus menentukan perubahan warna sebagai penanda titik akhir titrasi. Saya beberapa kali memastikan kepada analis apakah perubahan warna yang terlihat sudah sesuai.
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa bertanya bukanlah tanda ketidakmampuan. Justru, memastikan setiap tahapan sebelum melanjutkan pekerjaan merupakan bagian penting dari proses belajar. Dalam pengujian laboratorium, ketelitian menjadi hal mendasar karena setiap tahapan, volume larutan, dan hasil pengukuran dapat memengaruhi keandalan hasil analisis.
Selama magang, saya juga mengenal berbagai jenis sampel lingkungan dan terlibat dalam persiapan alat serta bahan, pencatatan hasil, dan kerja sama dengan analis maupun sesama peserta magang. Berbeda dengan praktikum di kampus yang umumnya menggunakan bahan dan alat yang telah disiapkan, pengalaman di laboratorium lingkungan memperkenalkan saya pada proses kerja yang lebih menyeluruh.
Tidak semua pekerjaan langsung dapat saya lakukan dengan lancar. Namun, arahan dari analis membantu saya memahami prosedur secara bertahap. Lingkungan kerja yang mendukung juga membuat saya lebih berani bertanya dan memperbaiki kesalahan. Saya menyadari bahwa keterampilan komunikasi dan kerja sama sama pentingnya dengan kemampuan teknis dalam menjalankan pengujian.
Bagi saya, magang di Balai Laboratorium Lingkungan DLHK DIY bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Pengalaman ini menjadi kesempatan untuk menghubungkan teori dengan praktik, sekaligus mengenal tanggung jawab dalam pekerjaan laboratorium.
Dari pengujian BOD, saya belajar bahwa memahami kualitas air membutuhkan prosedur yang tepat, ketelitian, dan kesabaran. Setiap sampel menyimpan informasi yang perlu diungkap melalui proses analisis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pengalaman ini juga mengingatkan saya bahwa proses belajar tidak berhenti di ruang kelas. Ada banyak pengetahuan yang baru benar-benar dipahami ketika kita berhadapan langsung dengan praktik. Bagi saya, setiap tahapan pengujian, pertanyaan yang diajukan, dan kesalahan yang diperbaiki menjadi bekal berharga untuk menghadapi dunia kerja.()
*) Shofia Rahmadhani - Mahasiwa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Editor: Muhammad Furqon
