Sastrawan Lampung Elly Dharmawanti Raih Penghargaan Sastra Rancage 2021

img
Elly Dharmawanti, sastrawan Lampung dari Pesisir Barat. Foto. Ist.

MOMENTUM, Bandarlampung--Sastrawan Lampung Elly Dharmawanti dengan karya kumpulan puisinya bertajuk: “Dang Miwang Niku Ading” meraih Anugerah Sastra Rancage 2021. Sastrawan asal Kabupaten Pesisir Barat itu menyisihkan dua kumpulan puisi  lain “Katan rik Kilak” karya Semacca Andanant dan” Setiwang” karya Udo Z Karzi.

Pemenang Anugerah Sastra Rancage 2021 dimumkan Yayasan Kebudayaan Rancage secara virtual yang dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid pada Ahad (31-1-2021).

Juri Lampung Sastra Rancage 2021, Farida Aryani, mengatakan, Dang Miwang Niku Ading yang  diterbitkan Pustaka LaBRAK (2020) berisi 70 judul  puisi yang menggambarkan nasihat kepada adiknya  yang patah hati karna ditinggal kekasih.

Menurut Ketua Prodi Magister Bahasa dan Kebudayaan Lampung FKIP Universitas Lampung ini, judul itu mewakili puisi lainnya yang bertemakan tentang perilaku, tradisi, adat istiadat, dan sikap orang Lampung. 

"Puisi Dang Miwang Niku Ading diungkapkan dalam bentuk puisi pendek dengan menggunakan teknik repetisi dan memiliki kekuatan imajinasi yang tergambar dalam sajak “niku lagi mengura ketutuk mesikop munih” (kamu masih muda juga cantik - pen)," ujarnya.

Tema pada Dang Miwang Niku Ading, kata dia, merepresentasikan rasa empati dan kasih sayang yang sangat diperlukan di era saat ini terlihat  dalam sajak puisi yang berjudul “Jawoh jak Hulun Tuha” yang menggambarkan kebaruan tema di masa pandemi  yang sulit bertemu dengan keluarga dan teman terlihat pada baris “Ajo lagi Corona, mak dacok sesilauan” artinya “ini sedang Corona, tidak dapat saling berkunjung”.

Pemenang Hadiah Sastra Rancage 2021 lainnya, untuk Sastra Sunda adalah Sasalad, novél karya Dadan Sutisna, Penerbit Dunia Pustaka Jaya, 2020; Sastera Jawa untuk Sawiji Dina Sawiji Mangsa, Kumpulan Puisi karya Supali Kasim, Penerbit Rumah Pustaka, 2020; Sastera Bali dimenangkan Nglekadang Mémé, Kumpulan Cerpen karya Komang Berata, Penerbit Pustaka Ekspresi, 2020.

Lalu, Pemenang Hadiah Sastera Rancagé 2021 untuk Sastera Madura, Sagara Aeng Mata Ojan, Kumpulan Puisi karya Lukman Hakim AG, Penerbit Sulur Pustaka, 2020 dan Pemenang Hadiah Samsudi 2021 untuk Cerita Anak-anak Berbahasa Sunda, Pelesir ka Basisir, Cerita Anak-anak karya Risnawati, Penerbit Dunia Pustaka Jaya, 2020.

Penyelenggaraan Anugerah Sastera Rancage kali ini pun untuk kali pertama tanpa dihadiri sosok penggagas acara tersebut, Ajip Rosidi yang sudah tutup usia. Anugerah sastra ini pertama kali digelar pada 1989, dan secara konsisten digelar setiap tahun atau sudah 33 tahun.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Erry Riyana Hardjapamekas  berharap kepada pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, agar Anugerah  Sastera Rancage ini dapat menjadi indikator untuk menempatkan bahasa daerah dalam kurikulum nasional, setidaknya bagi bahasa-bahasa daerah yang hidup secara lisan dan tulisan.

"Selama ini posisi bahasa daerah berada dalam kurikulum lokal yang sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah daerah, padahal bahasa daerah memiliki peran penting sebagai penggali kearifan lokal yang memperkuat kebudayaan nasional," ungkap eks Wakil Ketua KPK tersebut. 

Pada kesempatan itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan, Kemendikbud menempatkan kemajuan bahasa sebagai program  prioritas melalui badan pengembangan dan pembinaan atau badan bahasa.

"Secara konsisten kami menyelenggarakan program pelestarian bahasa daerah. Kami menyadari bahwa bahasa daerah yang selama ini terdata sebanyak 718 bahasa merupakan suatu aset bangsa kita. Kelangsungan hidup bahasa tersebut akan sangat bergantung pada para penutur dan masyarakat tuturnya," ujar Mendikbud.

Menurut Nadiem, tahun ini Kemendikbud menargetkan ratusan karya berbahasa daerah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia, agar khasanah kekayaan nusantara dapat dikenal luas.

"Harapan kami cara seperti ini akan merawat kebhinekaan serta menumbuhkan apresiasi serta gotong royong guna membangun negeri ini," pungkasnya.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid yang turut hadir dalam acara Anugerah Sastera Rancage tersebut melihat bahwa Bahasa daerah menjadi bahan baku peristilahan dalam perkembangannya.

"Mengambil dari bahasa daerah termasuk Bahasa Sunda untuk menjadi bagian dari Bahasa Indonesia, kadang-kadang di tingkat yg lebih kompleks Bahasa daerah juga menjadi pertimbangan dalam menentukan tata bahasa dan tentunya juga sebagai sarana pewarisan Khasanah Budaya, sebagai bagian penting dari bagian budaya nasional kita," terang pria yang akrab disapa Fay tersebut.

Hilmar mengaku antusias terhadap program Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) yang sedang menginisasi kegiatan digitalisasi aksara nusantara.

"Inilah bagian yang menurut saya penting dan memang kita lihat dalam keadaan sekarang, yang sangat pesat perkembangannya. Bahasa Indonesia mulai bersaing dengan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari di berbagai kalangan.

Maka kita membutuhkan solusi yang lebih permanen untuk menempatkan Bahasa daerah di dalam kehidupan kita kembali Bahasa daerah kita," tutup Hilmar.

Pada kesempatan itu,  Ketua PANDI Yudho Giri Sucahyo mengatakan merespons dan mengapresiasi pagelaran acara Anugerah Sastera Rancage kali ini. "PANDI akan terus siap untuk berkolaborasi dengan Yayasan Kebudayaan Rancage karena PANDI juga punya kegiatan MIMDAN (Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara) dan kalo kita bicara aksara tentu tidak bisa dilepaskan dari bahasa dan bahasa tidak bisa dilepaskan dari budaya,"  tandas Yudho. (*)

Editor: M Furqon/Rls.



Leave a Comment