Rohani Risnauli Nababan Lulusan Terbaik S-1 Unila

img
Prosesi wisuda lulusan kampus Unila./ist

MOMENTUM, Bandarlampung--Di balik toga dan senyum di hari kelulusan, ada perjalanan panjang yang dilalui oleh Rohani Risnauli Nababan. Mahasiswi Program Studi S-1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila) ini berhasil menorehkan prestasi sebagai Lulusan Terbaik S-1 dengan masa studi tiga tahun empat bulan empat hari.

Akan tetapi bagi Rohani, pencapaian itu bukan semata soal angka atau predikat. “Makna pencapaian ini adalah keberhasilan orang-orang di sekitar saya yang mendukung saya dengan penuh cinta selama menjalani perkuliahan,” ujarnya.

Secara akademik, ia memaknainya sebagai bukti kerja keras dalam menuntut ilmu tak pernah sia-sia. Sejak awal menyandang status mahasiswa baru, Rohani sudah memasang target yang tinggi sebab menurutnya predikat lulusan terbaik adalah peraihan paling akhir sebelum resmi menjadi alumnus Unila.

Target itu tetap ia jaga, meskipun perjalanan perkuliahan kerap menghadirkan tantangan dan tuntutan penyesuaian diri. Perjalanan Rohani tak lepas dari peran keluarga. Kedua orang tua, kakak, dan abang menjadi sumber motivasi terbesarnya.

“Saya sangat mengingat peranan dan bantuan serta dukungan yang mereka berikan. Itu yang membuat saya terus berjuang dan berkembang,” ujarnya.

Di lingkungan pertemanan yang sama-sama memiliki motivasi kuat, Rohani menemukan ruang tumbuh. Ia aktif mengikuti organisasi, pelatihan keterampilan, kepanitiaan, hingga perlombaan karya tulis.

Baginya, kegiatan nonakademik adalah hak istimewa mahasiswa. “Belajar akademik adalah hak, sementara nonakademik adalah hak istimewa bagi mereka yang ingin mencoba,” tuturnya.

Meski dari banyak perlombaan hanya satu yang berbuah juara nasional, hal itu tak memadamkan semangat belajarnya. Soal manajemen waktu, Rohani memilih disiplin dan realistis. Jadwal mingguan menjadi pegangan, prioritas menjadi kunci.

Tantangan terberat justru datang saat beberapa kegiatan penting harus berbenturan dengan jadwal kelas. Tak jarang, ia harus merelakan sesuatu yang sangat ingin diikuti. “Itu berat, tapi perlu,” ujarnya.

Fase skripsi pun menjadi ujian tersendiri, terutama saat mengerjakan bab IV. Ia sempat berhenti sejenak. Namun, target yang sudah ditetapkan sejak awal kembali menguatkannya.

Dari proses itulah Rohani belajar tentang empati. “Saya jadi sadar untuk tidak mudah menilai teman yang kesulitan dalam belajar atau skripsi,” tuturnya. Kini, ia tak segan membantu teman yang sedang berjuang.

Prinsip hidup yang ia anut sejak SMP menjadi fondasi dalam setiap langkah akademiknya. “Do the best and let God do the rest,” prinsip tersebut mendorongnya untuk menjalani perkuliahan dengan komitmen penuh dan kesungguhan, tanpa bergantung pada sorotan.

Rohani juga menekankan besarnya peran dosen, program studi, dan fasilitas kampus dalam pencapaiannya. Ia menilai Unila sebagai kampus yang memberi ruang luas bagi mahasiswa untuk bertumbuh tanpa memaksa di luar batas kemampuan.

Selepas lulus, Rohani berencana mengimplementasikan ilmunya melalui pekerjaan sesuai bidang, mengajar, hingga berbagi wawasan lewat media sosial, baik ilmu akademik maupun nonakademik.

Pesannya untuk mahasiswa Unila sederhana namun mengena. “Jatuh boleh, tapi bangkit adalah keputusan paling awal dan satu-satunya yang harus diambil. Lakukan yang terbaik, maka hasil akan mengikuti,” ujarnya.

Jika perjalanan kuliahnya harus dirangkum dalam satu kalimat, Rohani memilih kerendahan hati sebagai penutup kisahnya, yakni “Tidak harus selalu tampil di mata khalayak untuk menjadi menarik, lakukan secara senyap namun maksimal, maka banyak mata akan terpikat,” pungkasnya.(**)






Editor: Agus Setyawan





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos