Permainan Bendera Palsu di Negara-Negara Teluk

img
Ilustrasi. Ist.

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

MOMENTUM -- Dalam setiap perang, kebenaran kerap menjadi korban pertama. “Ia ditumbalkan”. Di ruang publik -- yang muncul bukanlah kenyataan di medan tempur, melainkan narasi yang sengaja dibingkai oleh para aktor yang berkepentingan. Dalam konteks konfrontasi antara Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel, pertarungan narasi ini menjadi sama pentingnya dengan pertempuran militer itu sendiri. Ini ciri perang kontemporer.

Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, istilah operasi bendera palsu (false flag operation) kembali mencuat. Operasi semacam ini merupakan praktik yang telah tercatat dalam sejarah geopolitik. Salah satu contoh adalah Gleiwitz Incident (31 desember 1939) yang dipakai oleh rezim Adolf Hitler untuk menciptakan dalih invasi terhadap Polandia dan memicu Perang Dunia II; atau, tragedi 9/11 di New York yang berujung keroyokan militer Barat (NATO) pimpinan AS ke Afghanistan (2001-2021) atas nama war on terror.

Sejarah mengajarkan satu hal penting: negara butuh alasan dan dalih ideologis sebelum ia memulai sebuah peperangan. Contohnya, kepentingan nasional terancam, atau terorisme, isu nuklir, pelanggaran HAM berat, senjata pemusnah massal, atau penolakan menggunakan dolar AS, dan sebagainya. Alasan ideologisnya adalah mereka yang menolak gagas hidup pola Barat pantas dipenetrasi secara halus, terbuka, atau terselubung. 

Sejak kemenangan AS dalam Perang Dunia (PD) II, alasan ideologi sekuler, misalnya, ia dikemas dengan doktrin pembangunan ekonomi. Padahal hal itu bertujuan agar AS menjadi penata dunia dengan segala perangkat yang dimilikinya.

Penyesatan Ketimpangan Kekuatan

Catatan terpenting atas taktik bendera palsu adalah tentang cara menyesatkan lawan. Pelaku menyamar dengan beridentitas pelaku. Pelaku memanipulasi persepsi. Misalnya, saat AS menyerang Iran pada 22 Juni lalu. Argumentasi AS adalah Iran telah melakukan pengayaan uranium untuk senjata nuklir. Karena itu serangan dilakukan pada fasilitas dan instalasi nuklir Iran. AS berpendapat, serangannya sukses. Tapi Iran menyampaikan, sebelum serangan terjadi fasilitas dan instalasi itu telah dipindahkan. Dan faktanya, berbagai drone buatan Iran memang menggetarkan Israel dan AS. Penyesatan lainnya bagaimana Iran membuat balon-balon berwarna menyerupai helikopter dan pesawat tempur yang dibaca salah oleh satelit AS dan Israel. Penyesatan yang paling memukul adalah ketika sejumlah intelijen AS dan Israel berhasil tampil sebagai sosok yang bersahabat dengan petinggi Iran. Kunjungan Ismail Haniyah, pemimpin tertinggi Hamas ke Teheran pada Juli 2024 justru membawa kematiannya. Juga bagaimana hasil pemetaan tempat-tempat atau lokasi strategis sehingga serangan AS-Israel tepat sasaran.

Operasi bendera palsu adalah bagian dari desepsi. Tapi, desepsi tidak hanya operasi bendera palsu. Desepsi bisa berbentuk disinformasi, kamuflase, propaganda, smokescreen, atau seperti menyamarkan alamat palsu di dunia digital. Ungkapan sederhananya, operasi bendera palsu adalah pekerjaan menipu sebagai bagian dari cara menyesatkan. Tindakan seperti ini sudah berjalan sepanjang peradaban manusia. Hakikatnya sama, cuma caranya berbeda sesuai dengan kemajuan pemikiran dan teknologi. 

Begitulah penyesatan, penipuan dan perang narasi adalah bagian dari perang AS-Israel versus Iran. Secara kasat mata, perbandingan kekuatan antara Iran dan AS tampak tidak seimbang. Anggaran pertahanan Washington mendekati USD 900 miliar per tahun, sementara Iran diperkirakan hanya USD 20 miliar. Namun di lapangan, angka-angka itu menipu. Tidak absolut. Selain itu, yang terjadi adalah perang asimetri.

Iran tidak pernah berniat menandingi AS secara konvensional. Sebaliknya, strategi militer Negeri Para Mullah -- sejak lama dirancang untuk memanfaatkan kerentanan struktur kekuatan Amerika di Teluk. Yakni menciptakan biaya perang yang mahal dan ketergantungan pada logistik lokal di kawasan. Dalam bahasa manajemen, Iran telah berpikir global bertindak lokal (think globally act locally) . Inilah sasaran antara yang tengah dimainkan oleh Iran tatkala menghadapi sistem perang dari AS-Israel. Iran bahkan telah melakukan tekanan simpul-simpul syaraf AS di Teluk. Tekanan ini membuat Trump menghadapai kenyataan: maju kena mundur kena. 

Maju, biaya perang yang besar belum tentu sebanding dengan keuntungan, kecuali dalam jangka menengah. Mundur, reputasi dan citra kuatnya AS dengan primanya keunggulan militer AS luruh. Trump bahkan harus berpikir, bagaimana perang ini memberi keuntungan pada keluarga dan kerabatnya di saat negara-negara Teluk menyadari dukungan AS pada mereka justru merugikan.

Konfigurasi militer global mengabarkan, Iran memiliki lebih dari 3.000 rudal balistik. Rudal ini mampu menjangkau hingga 2.000 kilometer. Kemampuan ini cukup untuk menutup seluruh kawasan Teluk. Iran juga mengembangkan produksi drone dalam skala industri. Prakiraan terbaru menyebut, negara ini memiliki sekitar 10.000 drone tipe Shahed dengan biaya produksi hanya puluhan ribu dolar per unit. Biaya ini jauh lebih murah dibanding dengan drone buatan korporasi swasta yang memasok ke Departemen Perang AS.

Fakta di medan tempur -- perbandingan matematisnya ternyata sangat brutal. Misalnya, satu drone murah Iran dapat memancing peluncuran rudal pencegat bernilai jutaan dolar milik AS. Atau, satu serangan kecil bisa memicu operasi militer bernilai miliaran dolar, dan seterusnya. Itulah strategi asimetri yang dikembangkan oleh Iran. Artinya, strategi Iran bukan untuk memenangkan perang secara cepat, melainkan menguras sumber daya, membuat perang menjadi sangat mahal bagi lawan-lawannya, termasuk membangun kecemasan musuh, serta membangun kesadaran personel militer tentang alasan rasional dan spiritual perang.

Infrastruktur Energi sebagai Titik Tekan

Kawasan Teluk adalah pusat gravitasi energi dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. Bukan hanya minyak mentah dan olahan. Bahan kimia, LNG dan produk turunan dari energi fosil juga membutuhkan akses Selat Hormuz. Artinya, stabilitas kawasan ini tidak hanya penting bagi negara-negara Timur Tengah, tapi juga bagi ekonomi global. Makanya AS mempertahankan kehadiran militer besar di kawasan tersebut. Saat ini terdapat sekitar 40.000–50.000 personel militernya tersebar di berbagai pangkalan, seperti pangkalan Al Udeid Air Base di Qatar, Naval Support Activity Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Amerika, pangkalan militer di Kuwait, pangkalan Al Dhafra Air Base di Uni Emirat Arab (UEA), pangkalan militer di Irak, di Arab Saudi, dan lain-lain. 

Kini, dalam rangka menghadapi kekuatan Iran di selat tersebut sekaligus mengamankan tanker-tanker yang melintas, AS merencanakan mengirim kekuatan marinir dan amfibinya menyertai kapal induk. Tentu biaya yang dibutuhkan lebih besar. Untuk dua pekan ini, perang sudah menyita biaya lebih dari 20 miliar dolar AS. Gedung putih memperkirakan, biaya akan mencapai 50 miliar dolar AS. Khusus untuk pengamanan dan ketahanan jaringan pangkalan, AS akan menagihnya kepada negara-negara yang mempunyai pangkalan militer AS melalui transaksi persenjataan dan layanan pengamanan.

Memang, jaringan pangkalan ini membentuk sabuk proyeksi kekuatan AS di Teluk. Tentu saja jejaring ini menjadi target strategis bagi Iran. Dan hal itu sudah terjadi dan terbukti. Gelombang serangan drone dan rudal Iran pada minggu pertama telah menghancurkan jaringan pangkalan militer AS hingga lumpuh, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan Iran menyerang fasilitas publik guna menciptakan suasana kecemasan sosial politik ekonomi.

Serangan terhadap Fasilitas Sipil dan Logika Provokasi

Dalam konflik konvensional, target militer biasanya jelas: pangkalan, radar, gudang senjata, atau sistem pertahanan udara. Akan tetapi, dalam konflik Timur Tengah, targetnya terlihat berbeda: fasilitas energi, pelabuhan, atau infrastruktur sipil dan lainnya.

Serangan terhadap fasilitas energi milik Saudi Aramco kemarin misalnya, memperlihatkan dampak strategisnya. Serangan drone tersebut sempat mengurangi jutaan barel produksi minyak per hari, hampir 5 persen pasokan global. Efeknya langsung terasa, harga minyak melonjak, pasar keuangan terguncang, inflasi berantai di pelbagai belahan dunia, dan ketegangan geopolitik semakin tajam. Apalagi setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur energi paling vital di Timur Tengah. Stabilitas harga-harga pun makin jauh panggang dari api. Iran menyerang secara sistematik struktural sehingga eskalasi ketidakpastian ekonomi politik global meningkat. Dampaknya, merugikan AS sendiri.

Dalam konteks inilah operasi bendera palsu menjadi suatu keniscayaan. Jika serangan terhadap fasilitas sipil dapat digiring untuk menyalahkan Iran, arahnya menyasar kepada jajaran Monarki Teluk ---seperti Arab Saudi dan UEA--- agar berada di bawah tekanan untuk ikut masuk ke dalam lingkaran konflik di Timur Tengah. Dengan kata lain, serangan “misterius” (false flag) terhadap infrastruktur sipil bisa menjadi pintu masuk agar terjadi perang regional antara Iran melawan negara-negara Teluk. Pada titik ini, Iran menunjukkan posisi determinannya di Kawasan Teluk. Menurut Israel, Iran adalah negara penghambat terbentuknya Israel Raya. Sedangkan menurut AS, Iran adalah penghalang bagi terdiktenya perekonomian negara-negara Teluk. Di balik itu, baik AS maupun Israel memposisikan Iran sebagai lawan spiritual.

Timur Tengah: Papan Catur yang Tidak Pernah Sepi

Sejak belasan abad lalu, Timur Tengah kini dan ke depan bukan cuma arena konflik lokal. Ia adalah papan catur geopolitik global karena faktor energi dan agama. Bagi AS, menjaga stabilitas Teluk berarti menjaga aliran energi global sekaligus mempertahankan kredibilitas sebagai pelindung sekutu, selaku “polisi dunia”. Tapi eksistensi ini juga bertujuan membuktikan negara mayoritas Kristen ini lebih unggul dibanding negara-negara Monarki Islam. Namun sebagai bangsa dengan peradaban lebih dari 25 abad, Iran menolak. Bangsa Aria ini menantang dominasi Amerika di kawasan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mematahkan sistem unipolar yang telah mengurungnya sejak Revolusi 1979. Dalam konstruksi multipolar pun, Iran menghendaki kesetaraan dan penghormatan kedaulatan utuh.

Di tengah pertarungan dua strategi besar inilah, negara-negara Teluk berada dalam posisi rapuh. Mereka adalah sekutu AS di satu sisi, tetapi sekaligus tetangga Iran. Kerentanan itu juga menggambarkan operasi bendera palsu adalah keniscayaan bagi terlaksananya pola penyesatan. Itulah perang yang memakan korban. Saat korban perang itu dikonversi dengan keuntungan materi, maka kemenangan itu semu. Di sana masyarakat global menghendaki hadirnya prinsip kesejahteraan, kedamaian dan keadilan manusia yang memanusiakan manusia.

Narasi Kini Menjadi Senjata

Dalam perang modern, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menghancurkan lebih banyak target. Ia juga ditentukan oleh siapa yang berhasil mengendalikan cerita tentang perang itu sendiri. Contoh, bila dunia percaya Iran adalah agresor, maka koalisi militer pihak lawan lebih mudah dibangun oleh AS. Jika dunia melihat konflik itu sebagai eskalasi yang dipicu kesewenangan AS dan Israel, maka dukungan internasional niscaya berubah arah. Nah, di sinilah operasi bendera palsu menjadi alat politik yang sangat cerdik, licik namun efektif untuk jangka pendek. Untuk jangka panjang, perang untuk menegakkan kemunafikan, keserakahan, dan kedengkian tidak akan pernah meraih kesejatian hidup, kecuali kecemasan dan kebusukan.

Selain konflik militer, konfrontasi Iran-AS juga merupakan pertarungan strategi jangka panjang antara kekuatan global dan kekuatan regional yang menolak tunduk pada tatanan selama ini yang dianggap tidak adil. Dalam konteks ini, rudal dan drone hanyalah sebagian dari permainan -- sisanya adalah perang persepsi, manipulasi narasi, dan permainan provokasi. Maka perang militer boleh usai. Tapi perang non militer akan terus berlangsung. Itu karena manusia menjadikan materi sebagai petunjuk kehidupan.

Dan dalam sejarah geopolitik, perang besar sering tidak dimulai oleh serangan besar, melainkan oleh insiden kecil yang dimanfaatkan secara maksimal. Dan insiden kecil dimaksud, salah satunya adalah false flag operation. (**)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos