Di Ujung Ramadan

img
Muhammad Furqon. Ist.

MOMENTUM -- Ramadan sudah sampai di hari-hari akhir. Tak lama lagi, takbir akan menggema sebagai penanda, bulan penuh berkah itu pergi. Tapi entah kenapa, Ramadan kali ini terasa datar. Seperti lewat begitu saja, tanpa bekas yang benar-benar menempel di hati.

Dulu, azan magrib adalah klimaks harian: ada harap, ada degup, ada rasa lapar yang semua itu terasa sakral. Semua terasa hidup. Sekarang? Kadang masih sempat ragu, “Itu azan atau nada dering HP?”

Berbuka puasa pun berubah jadi agenda yang terlalu tertib. Kolak hadir tepat waktu, gorengan tak pernah absen. Meja penuh, perut kenyang. Tapi setelah itu, semangat justru meredup. Tarawih dan tadarus Al-Qur’an terasa seperti beban yang ditunda-tunda. Masjid dan musala masih sama: penuh di awal Ramadan, lalu perlahan lengang saat hari-hari akhir yang seharusnya justru menjadi puncak.

Ramadan juga makin “ramah semua pihak”. Meja buka puasa menjadi ruang bersama: yang berpuasa, yang “sedang jeda”, hingga yang memang tidak berpuasa, semua duduk dalam satu lingkaran. Obrolan mengalir, ditemani es teh dingin, kopi hangat, dan tawa yang lepas.

Silaturahmi menjadi kata kunci—dan itu indah. Ramadan tak lagi eksklusif. Ia menjelma jadi peristiwa sosial yang cair, lintas batas, lintas kebiasaan. Kegiatan berbuka besama, berbagi takjil, sampai bantuan sosial, menjadi bagian dari kehidupan masayrakat luas.

Namun di situlah letak ironi kecilnya. Siang hari yang dulu terasa lebih hening dan “menahan diri”, kini menjadi biasa saja. Warung tetap ramai, asap rokok tetap mengepul, percakapan tetap riuh. Mereka yang tidak berpuasa tak lagi merasa perlu bersembunyi.

Ya, itu hak masing-masing. Tapi diam-diam muncul pertanyaan: apakah ini tanda kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, atau justru tanda kita mulai kehilangan rasa sungkan terhadap sesuatu yang dulu kita jaga bersama?

Di sisi lain, yang berpuasa pun tak luput dari refleksi. Jangan-jangan kita hanya menjalankan kewajiban secara administratif. Sahur: jalan. Siang: menahan. Magrib: berbuka. Malam: tarawih. Selesai. Rapi. Tercatat.

Tapi apakah benar-benar ada yang bergerak di dalam?

Jangan-jangan, Ramadan tidak pernah berubah. Ia tetap datang membawa kesempatan yang sama. Yang berubah adalah cara kita menyambutnya—yang dulu penuh harap untuk diperbaiki, kini sekadar ingin dilewati.

Di ujung Ramadan ini, ada jeda yang seharusnya kita pakai untuk menoleh ke dalam. Bukan untuk menghakimi siapa yang kurang, tapi untuk bertanya dengan jujur: kita sendiri sudah sampai mana?

Kalau Ramadan tahun ini terasa asing, tentu bukan Ramadan berubah, melainkan karena kita yang sedikit bergeser.

Karena itu, kita patut berdoa: semoga masih diberi umur, diberi kesempatan, untuk bertemu Ramadan berikutnya. Datang lagi, bukan sekadar untuk menjalani, tapi untuk benar-benar kembali. Kembali merasakan, kembali memperbaiki, kembali menghidupkan yang sempat redup.

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. 

Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.

Tabik!

Muhammad Furqon - Dewan Redaksi Harian Momentum






Editor: Muhammad Furqon





Berita Terkait

Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos