JUMAT depan mungkin jalanan akan sedikit lengang. Bukan karena kesadaran kolektif menghemat energi, melainkan karena aparatur sipil negara diminta bekerja dari rumah. Sebuah solusi yang terdengar modern, praktis, dan, sayangnya, terlalu sederhana untuk persoalan yang rumit.
Kritik datang dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla. Ia menilai kebijakan work from home (WFH) setiap Jumat tidak akan signifikan menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, ada potensi layanan publik justru terganggu. Kritik itu bukan tanpa dasar. Mengurangi mobilitas satu hari dalam sepekan memang terdengar logis, tapi dampaknya terhadap konsumsi energi nasional? Nyaris tak terbayangkan.
Jusuf Kalla lalu mengajukan ide yang jauh lebih “membumi”: Mewajibkan aparatur negara menggunakan sepeda atau transportasi umum. Sebuah gagasan lama yang kembali dihidupkan. Lama, karena sudah berkali-kali digaungkan. Dan ironisnya, berkali-kali pula menguap tanpa bekas.
Kita tentu ingat, wacana bersepeda ke kantor pernah dielu-elukan, terutama saat isu polusi dan kemacetan mencapai puncaknya. Jalur sepeda dibangun, kampanye digaungkan, bahkan sesekali pejabat tampil bersepeda di depan kamera. Namun setelah itu? Sepeda kembali jadi properti akhir pekan, bukan alat transportasi harian.
Masalahnya sederhana, tapi tampaknya terlalu “berat” untuk dijalankan: Kenyamanan. Sulit membayangkan pejabat, yang terbiasa dengan mobil dinas ber-AC, rela menukar kursi empuk dengan sadel sepeda di bawah terik matahari dan debu jalanan. Di atas kertas, semua tampak heroik. Di lapangan, realitasnya jauh lebih jujur.
Padahal, jika kebijakan penggunaan sepeda atau transportasi umum benar-benar diterapkan secara serius dan menyeluruh, dampaknya bisa signifikan. Penghematan BBM jelas terasa. Kemacetan bisa ditekan. Polusi berkurang. Bahkan, bonus kesehatan bagi masyarakat bukan hal yang sepele. Apalagi jika kewajiban ini diperluas. Tidak hanya untuk ASN. Tetapi juga sektor swasta dan lingkungan pendidikan.
Namun di negeri ini, persoalannya jarang pada ide. Kita tidak kekurangan gagasan brilian. Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk konsisten menjalankan. Wacana sering berhenti di seremoni. Sementara implementasi tersandung pada hal-hal yang sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal: Budaya, kebiasaan, dan tentu saja, kenyamanan.
WFH setiap Jumat mungkin akan tetap berjalan. Laporan bisa tetap dikirim, rapat bisa tetap digelar secara daring. Tapi jika tujuannya menghemat energi, kebijakan ini terasa seperti menambal ban bocor dengan plester.
Sementara itu, ide bersepeda dan menggunakan transportasi umum akan kembali masuk laci. Menunggu momen krisis berikutnya untuk diangkat lagi. Begitulah siklusnya: Ide bagus, tepuk tangan, lalu pelan-pelan dilupakan. Diulang, lagi dan lagi.
Tabik!
Muhammad Furqon - Dewan Redaksi Harian Momentum.
Editor: Muhammad Furqon
