Oleh M. Arief Pranoto
MOMENTUM -- Dalam khazanah Jawa, ada ajaran tua “koyo beras diinteri.” Secara harfiah, ujaran ini merujuk pada beras yang sedang diayak dengan tampah atau alat penyaring: diputar-putar, diguncang ke atas, digoyang, hingga beras yang utuh terpisah dari menir, sekam, ataupun kerikil. Gambaran sederhana ini menyimpan makna mendalam. Ia melukiskan situasi yang kacau, tidak menentu, dan penuh guncangan -- sebuah keadaan di mana manusia dan/atau keadaan ekonomi, politik, sosial-budaya terombang-ambing oleh peristiwa besar.
Namun, dalam kekacauan itu ada satu hukum alam bekerja: "proses penyaringan". Yang kuat bertahan, yang rapuh tersingkir. Yang berkualitas terpilah daripada yang tampak seperti berkualitas, padahal aslinya hanya sekam.
Ujaran ini terasa relevan untuk membaca dinamika konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel yang kembali memanas sejak 28 Februari 2026. Ketegangan di Selat Hormuz ---jalur energi paling strategis di dunia--- bukan sekadar persoalan benturan diplomasi-militer antara dua/tiga negara atau lebih. Ia bagian dari proses yang lebih tajam-filosofis: penyaringan geopolitik global. Dan tampaknya, dunia, dalam makna tertentu, sedang “diinteri”.
Dunia Tengah Diayak
Usai Cold War yang ditandai runtuhnya Uni Soviet pada 1991, sistem internasional didominasi oleh satu kekuatan utama: Amerika Serikat. Para ilmuwan politik kerap menyebut fase ini sebagai tatanan unipolar, di mana satu pusat kekuatan mengatur nyaris semua lini terutama kendali atas ekonomi, militer, teknologi dan ideologi global.
Namun, sejarah tak pernah bertahan lama dalam satu kutub. Dalam dua dekade terakhir ini, muncul beberapa kekuatan baru menantang dominasi tersebut. China contohnya, ia bangkit sebagai raksasa ekonomi; atau Rusia kembali merajut pengaruh geopolitik dan militernya, sedang negara-negara lain semacam Iran, Turki, India dst memainkan peran yang semakin independen dalam percaturan global. Para analis geopolitik menyebut, fase ini sebagai pergeseran menuju tatanan multipolar: dunia dengan banyak (kutub) kekuatan.
Jadi, konflik antara Iran-Amerika (dan Israel) ini hari bukanlah konflik bilateral semata. Lebih tepat, ia hanya salah satu gejala dari proses pergeseran sistem dunia dimaksud. Dalam bahasa sederhana: dunia tengah diguncang, sedang diayak, dunia lagi “diinteri”.
Jenis Kumpul Jenis
Salah satu pelajaran menarik dari peribahasa koyo beras diinteri adalah fenomena “jenis kumpul jenis.” Dalam proses pengayakan, beras yang berisi (berkualitas) berkumpul dengan sesama beras; sementara menir, sekam, atau kerikil tersisih ke sudut lain. Memisah secara alami. Nah, fenomena sama terlihat dalam dinamika geopolitik. Negara-negara beraliansi menurut “jenis”-nya.
Negara yang berorientasi pada sistem liberal-kapitalis, misalnya, cenderung merapat ke Blok Barat. Sedang negara yang menginginkan tatanan alternatif ---baik berbasis nasionalisme, sosialisme negara, maupun kedaulatan ekonomi--- mencari blok baru di luar dominasi Barat.
Secara fisik, dunia terbelah menjadi dua poros besar. Tetapi, hal ini bukan poros kapitalis versus komunis sebagaimana Perang Dingin (Cold War) dahulu, bukan! Konflik ideologi sudah dianggap masa lalu. Kecederungan konflik sekarang berbasis paradigma dan nilai. Contoh riil. Poros pertama ialah blok liberal-globalis – mereka masih berpusat pada AS dan sekutu: mempertahankan unipolar. Poros kedua, berdasarkan kedaulatan multipolar. Blok ini diinisiasi oleh kekuatan seperti China, Rusia, jejaring BRICS+ dan kelompok Global South.
Konflik-konflik global yang kini berlangsung ---baik perang Rusia-Ukraina, Pakistan-Taliban, hingga konflik di kawasan Teluk Persia -- kerap kali menjadi simpul pertemuan sekaligus titik tabrak kedua poros tersebut. Di sinilah metafora “beras diinteri” menjadi realitas geopolitik. Berbagai negara mencari posisi, memilah serta memilih aliansi, dan menimbang kepentingan: siapa berdiri di sisi mana.
Selat Hormuz: Nadi Energi Global
Ketegangan yang meningkat sejak akhir Februari 2026 memiliki makna strategis karena berpusat di Selat Hormuz. Selat sempit ini (choke point) menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Sudah barang tentu, setiap gejolak di kawasan ini seketika menggoyang pasar energi global.
Konflik Iran-Amerika bukan sekadar persoalan regional. Niscaya berdampak pada harga energi, stabilitas ekonomi global, bahkan inflasi di pelbagai belahan dunia. Ketika kapal-kapal tanker minyak terancam, ekonomi dunia pasti bergetar. Dalam istilah geopolitik, siapa menguasai jalur energi -- ia memiliki kendali terhadap ekonomi global. Dan muaranya: control oil and you control nations, kata Henry Kissinger.
Dari Materialisme Menuju Tatanan Baru
Berbeda dengan konflik-konflik sebelumnya, peperangan kali ini (Iran vs AS-Israel) mencerminkan sesuatu yang lebih tajam-filosofis. Sejak abad ke-20, dunia didominasi oleh dua ideologi besar: kapitalisme liberal dan sosialisme negara. Dan keduanya, sama-sama berakar pada paradigma materialisme: konsep kebahagiaan yang diukur melalui akumulasi materi dan kekuatan ekonomi. Paradigma kebendaan ini menafikan spiritual, ia menolak hal-hal yang bersifat ukhrawi.
Tatkala memasuki abad ke-21, banyak entitas mulai mempertanyakan paradigma tersebut. Dunia nampak gelisah. Karena ideologi yang berbasis kebendaan (materialisme) kerap berujung pada krisis finansial global, ketimpangan ekonomi, stress massal, hingga konflik geopolitik berlarut. Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar, “Apakah sistem dunia kelak mampu membawa kemaslahatan?”
Sebagian pemikir mulai membahas kemungkinan lahirnya paradigma (dan tatanan) baru -- sebuah tatanan yang tidak semata berorientasi materialisme, tetapi juga memberi ruang yang seimbang bagi dimensi etika, spiritualitas, dan perpetuasi peradaban.
Pertanyaan menarik muncul, “Apakah dunia bergerak menuju sintesis antara liberalisme dan sosialisme? Atau, ia justru tengah menuju pada bentuk baru yang sama sekali berbeda?” Hingga hari ini, sejarah belum memberi jawaban.
Hikmah Dirajut, Nilai Sedang Ditulis
Geopolitik mengajarkan, bahwa setiap tatanan dunia selalu lahir dari guncangan isu besar. Usai Perang Dunia (PD) II, misalnya, ia membidani institusi global seperti IMF, World Bank, PBB, WTO (dahulu GATT), Bretton Wood Agreement, dan aneka instrumen ekonomi lain yang membingkai arsitektur politik ekonomi pasca-PD II.
Hari ini, dunia kembali berada pada fase serupa: era peralihan, masa pergeseran, dan fase pengayakan (diinteri). Baik negara, nilai, paradigma, ideologi, maupun kepentingan nasional masing-masing negara sedang diayak oleh arus perubahan yang kuat lagi besar. Sebagian akan bertahan, sebagian bisa tersingkir, dan sebagian lagi mungkin menemukan ujud tatanan baru yang keren serta lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Lagi-lagi, konflik antara Iran-Amerika tidak sekadar cerita dua negara yang bertikai karena faktor geopolitik (dan geoekonomi). Ia adalah bagian dari narasi yang lebih besar lagi mendalam: proses kelahiran tata dunia baru.
Dan jika peribahasa Jawa itu benar, maka di tengah guncangan yang kini berlangsung, sejatinya tengah berproses penyaringan besar-besaran. Beras yang berisi ---berkualitas--- akan berkumpul dengan sesamanya. Sementara yang ringan, rapuh, dan tanpa isi, ia akan terbang bersama sekam.
Barangkali, nilai-nilai dari tatanan dunia yang akan lahir itu ---secara perlahan--- kini sedang didiskusikan, dirajut, dan ditulis di pojok Selat Hormuz. Entah siapa notulennya.
Selamat Idul Fitri 1447 - 2026. Mohon maaf lahir dan batin. (**)
Oleh M. Arief Pranoto
Editor: Muhammad Furqon
