MOMENTUM -- Pada Ramadan kemarin, pemerintah tetap menyalurkan Makan Bergizi Gratis (MBG). Pagi itu, saat cucu saya pulang, saya tanya: “Menu MBG hari ini apa?”
Si kecil, Albiruni, menjawab sambil tertawa, “Kurma geprek.”
Ia menunjukkan beberapa butir kurma kecil yang tak lagi bulat. Di sampingnya ada roti seribuan dan susu kotak kecil. Saya ambil satu kurma. Manis, memang. Tapi bentuk dan jumlahnya, seperti tak tega untuk melihatnya sebagai menu perbaikan gizi anak.
Kalau ini lelucon, mestinya kita tertawa. Tapi ini kebijakan.
Program makan bergizi gratis atau MBG, yang dielu-elukan sebagai jawaban atas persoalan gizi anak, pada praktiknya lebih mirip jajanan anak. Bedanya, ini bukan dibeli dengan uang receh, melainkan uang rakyat dalam jumlah besar. Ironinya, yang sampai ke tangan anak-anak justru versi “geprek”.
Publik sudah ramai mengkritik. Menu yang jauh dari standar gizi, itu satu soal. Tapi yang lebih mengusik adalah siapa yang mengelola dapur-dapur penyedia makanan itu. Katanya untuk menggerakkan UMKM desa. Nyatanya? Dikuasai kelompok tertentu. Lingkaran yang itu-itu saja. Menjadikan program MBG sebagai proyek bancakan.
UMKM hanya jadi jargon manis dalam pidato pejabat. Selebihnya, yang menikmati tetap mereka yang punya akses, punya jaringan, ke elite kekuasaan. Dari pusat hingga daerah, dari dapur sampai menu yang tersaji di piring anak-anak, rantainya tampak rapi untuk mengalirkan keuntungan ke atas, bukan nutrisi ke bawah.
Maka jangan heran jika yang sampai ke tangan anak-anak adalah “kurma geprek”. Gizinya sudah habis di tengah jalan. Yang tersisa hanya menu serpihan dan sisa yang tak lagi bergizi.
Lebih ironis lagi, program ini dijual dengan narasi besar: masa depan generasi, investasi sumber daya manusia, Indonesia Emas. Tapi bagaimana mungkin bicara masa depan cerah jika sarapan anak-anak saja seperti itu? Antara tujuan program dan realitas, jurangnya terlalu lebar. Terlalu banyak tangan sibuk meraup.
Mereka yang seharusnya mengawasi justru ikut bermain. Yang seharusnya memberi contoh yang baik, justru memanfaatkan celah untuk mengumbar keserakahan demi meraup keuntungan pribadi dan menumpuk kekayaan.
Dan kita diminta percaya bahwa semua itu demi kebaikan bersama.
Pada akhirnya, mungkin yang tersisa hanya doa. Doa agar mereka yang rakus itu suatu hari tersadar. Atau setidaknya, mau melihat ke bawah dan menyadari: anak-anak sedang makan “kurma geprek” dari keputusan mereka. Dan semoga mereka masih punya nurani untuk memperbaiki diri.
Tabik.
Muhammad Furqon - Anggota Dewan Redaksi Harian Momentum
Editor: Muhammad Furqon
