Hormuz: Kuburan Ambisi Perang

img
Ilustrasi. AI.

Oleh M. Arief Pranoto

MOMENTUM -- Jika perang darat antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran benar-benar meletus, maka satu hal yang hampir pasti: ini bukan perang cepat, bukan pula peperangan konvensional lazimnya. Skenario akan berubah menjadi perang panjang alias tempo lama, sangat mahal, penuh ketidakpastian, juga bertebar ilusi kemenangan. Dan pusat ilusi itu bernama: Selat Hormuz.

Selama ini, doktrin militer Barat (decapitation strike) bertumpu pada satu keyakinan: kuasai dan bombardir dari udara, lumpuhkan target, kemudian masuk pasukan darat untuk pendudukan. Pola ini tergolong sukses pada Perang Teluk 1991. Tapi itu dulu. Bagi AS, pokok permasalahan sekarang: “Iran itu bukan Irak.” Ia bukan medan terbuka yang dapat dibombardir hingga lumpuh. Iran adalah negara yang sejak lama bersiap-diri untuk diserang, lalu menjebak penyerangnya dalam killing ground (medan pembantaian). Buktinya, sudah lima jet tempur AS-Israel ---salah satunya F-35--- meledak dirudal ketika mencoba masuk di langit Negeri Para Mullah. Dalam hal ini, faktor "cumemu" (cuaca, medan, musuh) dalam pertempuran juga dalam genggaman militer Iran.

Strategi Iran: Membuat Musuh Bangkrut (Pyrrhic Victory)

Bayangkan sebuah selat sempit, hanya puluhan kilometer (33-an km) lebarnya, tapi ia dilintasi hampir seperlima energi dunia. Kemudian bayangkan lagi, jika selat itu ditanami ranjau laut, dikelilingi rudal anti-kapal, drone siap serang, kapal-kapal kecil yang bergerak bak kawanan serigala lapar, dan kapal selam kecil pengganggu dari sisi dalam perairan. Itulah Selat Hormuz hari ini. Di situ nanti, kapal induk bukan lagi simbol kedigdayaan, ia bisa berubah menjadi target sasaran melalui swarm attact (serangan keroyokan). Model serangan yang kerap dilatihkan oleh militer Iran di selat tersebut.

Iran tidak perlu mengalahkan lawan. Mereka hanya perlu melakukan satu hal yakni membuat perang menjadi terlalu mahal untuk dimenangkan. Pelajaran dari Perang Vietnam dan Perang Afghanistan seharusnya masih jelas dalam catatan para analis militer-geopolitik di Barat, bahwa kekuatan besar bisa balik kandang bukan karena kalah total, tetapi tidak sanggup menanggung beban baik politik, biaya ekonomi, luka-luka sosial maupun beban moral. Itulah yang disebut pyrrhic victory. Boleh “menang” tapi Anda bangkrut, sehingga tak mampu meneruskan pertempuran. Itu eufemisme dari istilah kalah perang. 

Agaknya, di jantung ekonomi global, Selat Hormuz memberi panggung bagi Iran untuk menulis ulang skenario pyrrhic victory dimaksud. 

Perang atau Bisnis?

Di balik retorika geopolitik, ada pertanyaan sinis lagi tajam: apakah realitas ini benar-benar soal politik-keamanan, atau bisnis berkedok konflik?

Cermati secara dalam. Setiap Donald Trump melempar retorika -- -mencla-mencle --- di publik, maka tren saham bereaksi di pasar modal. Naik-turun. Lalu, siapa yang diuntungkan? Ini yang perlu dicermati secara tajam. Trump sepertinya menghindari kata perang, ia lebih memilih istilah konflik. "Konflik Iran" (IN, 2026). Hal ini bukan tanpa maksud, jelas terselip hidden agenda . Dalam politik AS, satu kata bisa menentukan legalitas, anggaran, termasuk dukungan publik. 

Di sisi lain, konsep Military-Industrial Complex bekerja senyap di balik layar: mengubah ketegangan menjadi kontrak, menyulap konflik jadi keuntungan segelintir orang. Dari perspektif ini, konflik adalah komoditas. Sekali lagi, ternyata perang bukan hanya tentang operasi militer. Ia adalah industri.

Antara Menang atau Ilusi Kemenangan

Yang paling berbahaya dari semua ini adalah ilusi: bahwa perang bisa dikendalikan, cepat diselesaikan, lalu ditutup rapi sebab-akibatnya dengan propaganda dan citra. Realitas semu. Lakon semacam Rambo, misalnya, akan diproduksi ulang, atau film Kolonel Braddock dst bakal digebyarkan guna menutup kelemahan sebagaimana kekalahan AS tempo lalu di Perang Vietnam. 

Tapi sepertinya, Selat Hormuz bakal menghancurkan ilusi itu. Begitu tembakan pertama dilepas, dampaknya tidak akan berhenti di Kawasan Teluk. Harga energi semakin melonjak, ekonomi global keras terguncang, inflasi berantai, dan konflik bisa meluas kemana-mana. 

Ya. Jika perang darat jadi pecah di Iran, mungkin tidak ada yang benar-benar tampil sebagai pemenang. Menang jadi abu, kalah seperti debu. Iran bisa saja hancur, meski tidak mudah ditaklukkan, karena histori-kronologi Ras Arya ---Iran--- adalah bangsa petarung. AS dan sekutunya boleh saja unggul secara fisik-militer, namun terkuras anggaran dan luruh berbagai sumber dayanya. Bahasa ekstremnya: “Amerika bunuh diri massal”. Dunia turut menanggung dampaknya. Niscaya terdapat domino effect akibat tumbangnya "raksasa" (AS). Sedangkan taburan debunya saja membuat mata kelilipan, apalagi yang tertindas tubuhnya?

Selat Hormuz nantinya bukan sekadar jalur energi, ia bisa menjadi monumen bersejarah sekaligus kuburan bagi ambisi perang. Hormuz bakal dikenang sebagai area di mana dunia pernah belajar tentang hikmah, bahwa entitas dan kekuatan besar, modern, serta didukung mesin-perang canggih -- tidak selalu memenangkan peperangan. 

Wait and see!






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos