MOMENTUM, Bandarlampung--Sebanyak 42 titik panas (hotspot) terdeteksi di sejumlah wilayah Lampung. BPBD Lampung mencatat lima kejadian kebakaran lahan hingga Juli 2026.
Berdasarkan pemantauan NASA FIRMS per 3 Agustus 2026 pukul 12.22 WIB, dari 42 hotspot tersebut, 34 titik masuk kategori rendah dan delapan titik kategori sedang. Tidak terdapat hotspot kategori tinggi maupun sangat tinggi.
Kepala BPBD Lampung Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan pemantauan hotspot menjadi bagian dari sistem deteksi dini untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Data hotspot ini menjadi salah satu informasi awal yang perlu dipantau. Namun, titik hotspot tidak serta-merta berarti telah terjadi kebakaran. Tetap diperlukan verifikasi di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya,” ujar Rudy.
Delapan hotspot kategori sedang tersebar di empat kabupaten, yakni Tulang Bawang tiga titik, Lampung Tengah tiga titik, Way Kanan satu titik, dan Mesuji satu titik.
Sedangkan 34 hotspot kategori rendah tersebar di sejumlah wilayah. Jumlah terbanyak berada di Way Kanan dengan delapan titik, disusul Tulang Bawang tujuh titik dan Lampung Timur empat titik.
Hotspot kategori rendah lainnya terdeteksi di Mesuji dua titik, Pesisir Barat dua titik, Tanggamus dua titik, Lampung Tengah dua titik, Tulang Bawang Barat dua titik, Pesawaran dua titik, Lampung Utara dua titik, serta Pringsewu satu titik.
Rudy menjelaskan, hotspot merupakan indikasi suhu permukaan bumi yang lebih tinggi dari kondisi normal sehingga tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan lapangan.
“Data satelit berfungsi sebagai salah satu instrumen peringatan dini untuk membantu menentukan wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih,” katanya.
Ancaman karhutla di Lampung diperkirakan meningkat seiring penguatan fenomena El Nino. Fase awal El Nino terindikasi sejak Juni 2026 dan diperkirakan menguat hingga mencapai puncaknya pada September.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan curah hujan sangat rendah, sekitar 0–20 milimeter per bulan, sehingga vegetasi menjadi lebih kering dan mudah terbakar.
Hingga Juli 2026, BPBD Lampung telah menerima lima laporan kebakaran lahan. Sebagian kejadian diduga dipicu aktivitas manusia, seperti membuang puntung rokok sembarangan dan membakar sampah di area terbuka.
BPBD Lampung menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk mengajukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendatangkan hujan serta bantuan air bersih bagi wilayah terdampak kekeringan.(*)
Editor: Muhammad Furqon
