Cara Aman Bersihkan Abu Vulkanis di Tubuh dan Bodi Mobil, Jangan Asal Lap

img

MOMENTUM, Bandarlampung — Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak bisa diperlakukan seperti debu biasa. Partikelnya mengandung silika dan memiliki permukaan tajam sehingga dapat mengiritasi mata, hidung, mulut, kulit, hingga menggores permukaan kendaraan.

Peneliti Keamanan Kesehatan Griffith University, Australia, sekaligus Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI Jakarta, Dicky Budiman, mengingatkan masyarakat agar berhati-hati ketika membersihkan abu vulkanik yang menempel pada tubuh maupun benda di sekitar.

Menurut Dicky, karakter abu vulkanik berbeda dengan debu rumah tangga. Partikel abu dapat bersifat seperti serpihan kaca sehingga tindakan membersihkannya dengan cara digosok justru berisiko menimbulkan luka atau iritasi.

Jika abu mengenai mata, hidung, atau mulut, masyarakat disarankan segera membersihkannya menggunakan air.

“Jangan sekali-kali menggosok, atau mengibas-ngibas pakaian,” jelas Dicky.

Abu yang menempel pada pakaian juga sebaiknya tidak dikibaskan karena dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.

Jangan Langsung Lap Bodi Mobil

Hal serupa berlaku untuk kendaraan. Pemilik mobil yang bodinya tertutup abu vulkanik disarankan tidak langsung mengelap permukaan kendaraan.

Dicky menyarankan abu terlebih dahulu dibilas menggunakan air. Cara terse? bertujuan mengangkat partikel abu dari permukaan tanpa menggeseknya dengan kain.

Jika langsung dilap, partikel abu yang memiliki tekstur tajam berpotensi menggores cat atau permukaan bodi kendaraan.

“Bila abu vulkanik menempel di bodi mobil, pemilik kendaraan sebaiknya juga membilas abu tersebut dengan air. Bodi mobil sebaiknya tidak dilap karena abu vulkanik yang tajam itu bisa bikin lecet,” katanya.

Dicky menjelaskan, kandungan silika membuat abu vulkanik perlu diperlakukan berbeda dibandingkan debu biasa.

“Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan debu biasa, karena ia mengandung silika, yang seperti serpihan kaca, yang tajam dan bisa merusak, khususnya pada organ yang terkena, antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit,” ujarnya.

Partikel Bisa Masuk hingga Paru-paru

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, juga menjelaskan bahwa bahaya abu vulkanik tidak hanya berasal dari bentuk partikelnya yang tajam, tetapi juga karakter kimianya.

Partikel abu vulkanik merupakan pecahan material vulkanik, termasuk kaca silika dan batuan, dengan ukuran sangat kecil. Ukuran tersebut memungkinkan sebagian partikel halus masuk melewati mekanisme penyaringan alami pada saluran pernapasan.

Partikel yang terhirup dapat mencapai bagian dalam saluran pernapasan, bahkan hingga alveolus atau kantong udara di paru-paru.

Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah dengan sebaran abu vulkanik perlu mengurangi paparan langsung, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.

Selain menggunakan pelindung pernapasan, masyarakat juga perlu berhati-hati saat membersihkan rumah, kendaraan, pakaian, maupun bagian tubuh yang terkena abu agar partikel tidak kembali beterbangan dan terhirup.(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos