MOMENTUM, Lampung--Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Lampung memfokuskan program peningkatan kapasitas dan keterampilan tenaga kerja guna mengentaskan angka pengangguran di Provinsi Lampung yang diperkirakan mencapai 200 ribu orang.
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan program direktif Presiden yang menyediakan pelatihan kompetensi secara gratis, pendaftaran sertifikasi, bantuan uang saku, hingga pendampingan penempatan Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) ke pasar kerja global.
Kepala BP3MI Lampung, Kombes. Pol. Mulia Nugraha, menyatakan bahwa tingginya jumlah pencari kerja terlatih—khususnya dari lulusan jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)—menjadi alasan utama pentingnya intervensi program pelatihan kompetensi ini.
"Angkatan kerja di Lampung cukup besar dan ada sekitar 200 ribu lulusan yang belum bekerja. Melalui program ini, kita bantu mereka mendapatkan pelatihan kompetensi teknis dan bahasa agar siap diserap industri luar negeri," ujar Kombes. Pol. Mulia Nugraha, Rabu (23-9-2026).
Dalam pelaksanaannya, BP3MI Lampung menjalin sinergi erat dengan berbagai lembaga pendidikan pemerintah dan swasta, salah satunya Politeknik Negeri Lampung (Polinela) untuk program penyiapan Bahasa Turki, Bahasa Inggris, serta keahlian hospitality.
Selain Polinela, BP3MI juga mengandeng Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) untuk sektor agrikultur serta lembaga pelatihan swasta seperti IDEA Indonesia dalam kerangka skema program SMK Go Global.
Mulia menjelaskan bahwa program ini sengaja dirancang untuk mengubah paradigma pekerja migran, dari sektor informal menuju sektor formal yang memiliki keahlian teknis tinggi, pelindungan hukum yang kuat, serta tingkat pendapatan yang jauh lebih baik.
Untuk memastikan efektivitas serta ketepatan sasaran program yang dibiayai negara ini, pihak BP3MI mengerapkan proses seleksi yang ketat mencakup tes tertulis dan wawancara bagi para calon peserta.
Sistem seleksi ketat tersebut diterapkan agar peserta yang terpilih benar-benar memiliki komitmen tinggi untuk bekerja secara profesional di luar negeri, bukan sekadar mengejar insentif uang saku atau sertifikat semata.
Melalui integrasi pelatihan dan kemitraan penempatan ini, BP3MI Lampung optimistis dapat secara bertahap menekan angka pengangguran terbuka sekaligus meningkatkan taraf hidup keluarga pekerja migran asal Bumi Ruwa Jurai.(**)
Editor: Agus Setyawan
