Menguji Mutu Kulit untuk Produk Berkualitas

img
Aulina Mahardiani. Foto: Ist.

Oleh: Aulina Mahardiani*)

KULIT sapi dan kambing bukan sekadar hasil samping peternakan. Setelah melalui proses pengolahan dan penyamakan, bahan tersebut dapat menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari sepatu, tas, jaket, sarung tangan hingga berbagai kerajinan.

Namun, kualitas kulit tidak cukup dinilai dari tampilan luarnya. Di balik permukaan kulit terdapat sejumlah parameter kimia yang ikut menentukan mutu, keamanan, dan karakteristik produk.

Hal itu saya temui selama menjalani kegiatan magang di Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Karet, Kulit, dan Plastik (BBKKP). Di laboratorium, saya berkesempatan mengenal dan melakukan pengujian terhadap beberapa parameter penting pada kulit sapi dan kambing, yakni krom oksida (Cr₂O₃), kromium heksavalen [Cr(VI)], minyak dan lemak, serta kadar air.

Pengujian tersebut menunjukkan bahwa kualitas kulit tidak berhenti pada persoalan fisik. Ada proses kimia yang harus diperiksa secara cermat untuk memastikan bahan memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan.

Cr₂O₃ dan proses penyamakan

Salah satu parameter yang diuji adalah krom oksida atau Cr₂O₃. Parameter ini berkaitan dengan proses penyamakan kulit yang menggunakan bahan penyamak berbasis krom.

Dalam proses tersebut, kromium berperan membantu meningkatkan kestabilan serat kolagen. Dengan demikian, kulit dapat memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap kondisi lingkungan dan tidak mudah mengalami kerusakan.

Pengujian Cr₂O₃ dilakukan untuk mengetahui kandungan krom oksida pada kulit setelah proses penyamakan. Hasilnya dapat menjadi salah satu informasi untuk melihat karakteristik kulit dan mengevaluasi kesesuaiannya dengan persyaratan atau standar yang digunakan.

Dari sini terlihat bahwa angka hasil pengujian di laboratorium bukan sekadar angka. Di baliknya terdapat informasi mengenai proses yang telah dilalui bahan kulit.

Cr(VI), bukan sekadar soal kadar krom

Jika Cr₂O₃ berkaitan dengan proses penyamakan, maka kromium heksavalen atau Cr(VI) memiliki perhatian tersendiri.

Bentuk kromium ini perlu dikendalikan karena karakteristiknya berbeda dengan bentuk kromium yang digunakan dalam proses penyamakan. Dalam kondisi tertentu, kromium dalam bentuk yang lebih rendah dapat mengalami oksidasi menjadi Cr(VI).

Karena itu, pengujian Cr(VI) menjadi bagian penting dalam pemeriksaan mutu. Analisis dilakukan untuk mengetahui keberadaan kromium heksavalen sekaligus memastikan kadarnya tidak melampaui batas yang dipersyaratkan.

Pengujian ini memperlihatkan bahwa pengendalian mutu produk kulit bukan hanya soal apakah kulit terlihat bagus atau tidak. Aspek keamanan bahan juga harus diperhatikan.

Minyak dan lemak menentukan karakter kulit

Parameter lain yang diperiksa adalah minyak dan lemak.

Komponen ini berkaitan dengan sifat fisik kulit, antara lain kelembutan dan kelenturannya. Dalam proses pengolahan, bahan berlemak dapat membantu menjaga serat kulit agar tidak terlalu kaku sehingga mengurangi risiko kulit mudah retak.

Namun, jumlah minyak dan lemak juga harus sesuai dengan karakteristik produk yang diinginkan. Kandungan yang tidak sesuai dapat memengaruhi sifat akhir kulit.

Karena itu, pengujian terhadap minyak dan lemak diperlukan untuk mengetahui kandungannya pada sampel kulit sapi maupun kambing. Hasilnya dapat menjadi salah satu indikator dalam menilai karakteristik dan mutu kulit.

Kadar air juga menentukan

Parameter berikutnya adalah kadar air.

Air merupakan bagian yang lazim ditemukan dalam bahan kulit. Namun, jumlahnya tetap perlu dikendalikan karena dapat memengaruhi kondisi kulit selama proses pengolahan dan penyimpanan.

Kadar air yang tidak sesuai dapat berpengaruh terhadap kondisi bahan dan kestabilannya. Karena itu, pengujian dilakukan untuk mengetahui persentase air yang terkandung dalam sampel.

Kadar air kemudian dapat dibaca bersama parameter lain seperti Cr₂O₃, Cr(VI), serta minyak dan lemak. Keempat parameter tersebut memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi kimia bahan kulit.

Laboratorium dan kualitas produk

Pengalaman magang di laboratorium BBKKP memberikan pemahaman bahwa pengendalian mutu merupakan rangkaian proses yang membutuhkan ketelitian.

Setiap parameter memiliki fungsi berbeda. Cr₂O₃ berkaitan dengan kandungan krom oksida dan proses penyamakan. Cr(VI) berkaitan dengan pengendalian bentuk kromium yang perlu diperhatikan. Minyak dan lemak berhubungan dengan karakteristik fisik kulit. Sementara kadar air memberikan informasi mengenai kandungan air dalam bahan.

Keempatnya saling melengkapi.

Bagi saya, pengalaman menguji kulit sapi dan kambing tersebut menjadi pembelajaran bahwa teori kimia tidak berhenti di ruang kelas. Ilmu tersebut bekerja di laboratorium, menghasilkan data yang kemudian digunakan untuk memahami mutu suatu bahan.

Pada akhirnya, kualitas kulit tidak hanya ditentukan oleh bagaimana bahan itu terlihat, tetapi juga oleh apa yang terkandung di dalamnya.

Dan untuk mengetahuinya, laboratorium menjadi salah satu tempat penting untuk memastikan bahwa sebuah bahan bukan hanya layak digunakan, tetapi juga memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan.

*) Aulina Mahardiani - Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos