Satu Dekade Mengabdi agar Pendidikan Anak Tak Berhenti

img
Uniroh, pengajar dan penggagas PKBM Pesona Pulau Tegal Pesawaran, saat mengunjungi salah satu Pokjar di Kelurahan Srengsem, Kecamatan Panjang, Bandarlampung. Foto: Rifat.

MOMENTUM, Bandarlampung-- Bangunan dua lantai di Kelurahan Srengsem, Kecamatan Panjang, Kota Bandarlampung itu seolah menyambut kedatangan Uniroh dengan ramah.

Cat dindingnya yang mulai terkelupas di berbagai sudut tak mengurangi keramahan penghuninya. Begitu juga dengan papan nama yang berdiri kokoh bertuliskan sebuah lembaga pendidikan keagamaan: Pondok Pesantren Salafiah II. Nama tersebut masih bisa dibaca dengan jelas, meski sudah luntur dimakan korosi.

Bangunan dua lantai tersebut merupakan kompleks pondok pesantren yang dipimpin Ustaz Asep Hidayatullah. Tempat itu menjadi salah satu kelompok belajar (Pokjar) binaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pesona Pulau Tegal, Pesawaran.

Puluhan santri yang sebelumnya hanya mengenyam pendidikan agama secara tradisional, sejak tiga tahun lalu mulai mendapatkan pelajaran umum sesuai pendidikan formal untuk mengejar ijazah kesetaraan.

Setelah memasuki gerbang kompleks pesantren, sejumlah santri turut menyambut Uniroh beserta rombongan. Mereka mencium tangan dan menunduk takzim. Setelah itu, para santri duduk tertib bersila menunggu dimulainya kegiatan belajar Paket B yang setara dengan jenjang SMP.

Belasan santri duduk berjajar siap belajar. Mereka mengenakan kemeja, berkopiah hitam dan bersarung, dengan buku serta alat tulis di sampingnya. Di antara mereka juga terdapat santriwati yang mengenakan kerudung.

Kegiatan seperti itu sudah ditekuni Uniroh sejak sepuluh tahun silam. Ia memulai debut pengabdiannya dengan mendirikan kelompok belajar PKBM Pesona Pulau Tegal, Pesawaran, pada 2016.

Kini lembaga tersebut memiliki empat kelompok belajar, yakni Pokjar Pulau Tegal, Pondok Kesetaraan Desa Gebang, Pokjar Desa Talangmulya serta Pokjar Kelurahan Srengsem, Kecamatan Panjang, Kota Bandarlampung.

Kepedulian terhadap anak-anak yang putus sekolah tampaknya menjadi modal utama Uniroh untuk mengabdikan diri membangun pendidikan inklusif yang bisa diakses keluarga kurang mampu hingga kini.

Perempuan kelahiran Bandarlampung, 5 Juli 1967, itu memang tak bisa dibilang muda lagi. Usianya menjelang kepala enam. Namun, semangatnya untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan belum surut, bahkan menjelang purnatugasnya.

"Tahun depan saya pensiun, tapi saya berkeyakinan masih bisa mengabdikan diri di dunia yang saya tekuni ini, dengan terus memberikan manfaat kepada anak-anak yang putus sekolah agar bisa melanjutkan mimpi mereka," katanya.

Uniroh meyakini, apa yang ditanamnya sepuluh tahun lalu bisa berbuah manis dan manfaatnya dirasakan generasi muda di kemudian hari.

Hal itu terbukti. Dari puluhan siswa yang menempuh pendidikan Paket A, B dan C, di antaranya ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, bekerja di BUMN, serta mampu bersaing dengan lulusan pendidikan formal.

Dedikasi Berbuah Prestasi

Dedikasi Uniroh untuk mengabdi ternyata bukan isapan jempol atau demi eksistensi semata. Selama lima tahun terakhir, kegiatan pengabdiannya diganjar berbagai penghargaan, baik tingkat nasional maupun provinsi.

Penghargaan tersebut antara lain:

1. Tjindar Boemi Award dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 2019.

2. Top 10 ASN Inspiratif tingkat nasional dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) pada 2021.

3. Apresiasi GTK Dedikatif tingkat Provinsi Lampung pada 2023.

4. Apresiasi GTK Dedikatif tingkat Provinsi Lampung pada 2024.

5. Penghargaan Local Hero PT Bukit Asam di Provinsi Lampung dalam bidang pendidikan.

6. Penggiat pelestarian hutan mangrove melalui kolaborasi dengan KTH Jaya Lestari dan sebuah BUMN di hutan mangrove Cukunyinyi.

7. Menjadi narasumber terkait pendidikan di berbagai media cetak dan elektronik di Provinsi Lampung.

Meski sudah mengantongi berbagai prestasi di tingkat provinsi dan nasional, hal itu tak membuat Uniroh berpuas diri. Proyeksi pengabdiannya kini merambah dunia pendidikan keagamaan untuk mendidik generasi Kartini masa depan.

"Alhamdulillah, hasil dari menabung uang sertifikasi, saat ini kami memiliki lahan seluas 2.000 meter persegi yang sedang kami persiapkan untuk menjadi pesantren khusus anak perempuan," ujarnya.

Menurut Uniroh, pemberdayaan masyarakat harus dimulai dengan memberdayakan perempuan. Sebab, dari sanalah pendidikan paling dini dimulai, sejak anak-anak mengenal bahasa dari ibunya.

"Pendidikan paling dini dimulai sejak para ibu mengenalkan bahasa kepada anaknya," katanya.

Pengabdian Bukan Tanpa Hambatan

Uniroh mengaku niat baiknya untuk mengabdi tidak selalu berjalan mulus. Bahkan, kerap berbenturan dengan berbagai kepentingan. Namun, semua itu bisa diselesaikan dengan membangun komunikasi yang baik.

"Sepuluh tahun lalu saat pertama kali saya akan menginisiasi sekolah informal di Pulau Tegal, penolakan itu juga ada, bahkan dari beberapa warga lokal dan pengusaha," kenangnya.

Namun, Uniroh berkeyakinan niat baik tersebut pasti menemukan jalannya sendiri untuk berkembang dan berbuah manfaat.

Bahkan, dengan keterbatasan dana, tak jarang ia harus merogoh kocek sendiri untuk membiayai operasional kegiatan belajar-mengajar di empat Pokjar yang kini sudah terbentuk.

"Alhamdulillah kini kami punya lahan sendiri meskipun tidak bisa dibilang luas. Namun, cukup untuk menjadi lokasi kompleks pendidikan informal. Sebelumnya kami memang menumpang di lahan warga, di sekolah lain maupun aset desa," ujarnya.

Sepuluh tahun lalu, Uniroh bertekad mengabdi membantu generasi muda yang putus sekolah untuk melanjutkan pendidikan melalui program kesetaraan di PKBM yang dia kelola.

Kini, semangat itu terus diwariskan kepada puluhan relawan yang meneruskan tradisi kebaikan mengajar mereka yang terpinggirkan.(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos