MOMENTUM, Bandar Lampung--Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur selama ini dikenal luas sebagai habitat utama gajah Sumatera.
Namun, kawasan konservasi ini kini perlahan menampilkan wajah baru yang kian beragam melalui pengembangan wisata minat khusus, seperti pengamatan burung (bird watching) dan susur sungai yang digerakkan langsung oleh masyarakat di desa penyangga.
Di Desa Labuhan Ratu IX, misalnya, Koperasi Plangijo Dewi Rasa mengambil inisiatif untuk keluar dari zona nyaman dengan berfokus pada konservasi dan wisata pengamatan burung.
Ketua Koperasi Plangijo Dewi Rasa, Arif Lukman Fauzun, mengungkapkan bahwa pilihan tersebut terbukti tepat sasaran dan berhasil menarik minat komunitas pengamat burung internasional yang rutin berkunjung ke Indonesia pada periode bulan Juni hingga September.
Rute perjalanan para wisatawan mancanegara tersebut biasanya mencakup berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, Bali, hingga Jawa, sebelum akhirnya menutup perjalanan di Sumatera dengan menjadikan Way Kambas sebagai salah satu destinasi utamanya.
Dalam praktiknya, konsep "Desa Ramah Burung" yang diusung tidak hanya menjual paket wisata semata, melainkan turut menjalankan program sosialisasi, penanaman pohon, hingga adopsi sarang burung guna mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi bergantung pada aktivitas ekonomi yang merusak kawasan hutan.
Dampak positif dari ekowisata ini juga diarahkan langsung untuk menggerakkan roda perekonomian para pelaku UMKM lokal.
Setiap paket wisata yang ditawarkan kepada pengunjung sudah mencakup pembelian suvenir khas desa, seperti dodol nanas, kerajinan berbahan sabut kelapa dan kayu, kerajinan rajut berbentuk satwa, kaus, topi, hingga tumbler.
Selain itu, pengelolaan ini melibatkan lintas desa penyangga seperti Waykanan, Waybungur, Labuhan Ratu VII, dan Braja Harjosari, serta mempersiapkan pemandu lokal bersertifikat guna menyambut potensi kolaborasi pengelolaan bersama Balai TNWK ke depan.
Bupati Lampung Timur, Siti Ela Nuryamah, memberikan apresiasi penuh atas keterlibatan aktif masyarakat desa penyangga dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, pengembangan ekowisata menjadi jembatan yang ideal antara kepentingan pelestarian alam dan peningkatan ekonomi warga.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, yang menilai bahwa konservasi tidak cukup hanya mengandalkan pengamanan di dalam kawasan, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat di zona penyangga yang berbatasan langsung dengan habitat satwa.(**)
Editor: Agus Setyawan
