Itera Hadirkan Pakar Lingkungan dari Jepang

img
Penyerahan cinderamata dari Rektor Itera Prof.Ir. Ofyar Z. Tamin (kiri) kepada Prof. Toru Matsumoto//ist

MOMENTUM, Lampung Selatan--Institut Teknologi Sumatera (Itera) menghadirkan pakar lingkungan hidup asal University of Kitakyushu, Jepang, Prof. Toru Matsumoto.

Dia menjadi pemateri utama dalam studium generale yang diadakan di kampus setempat, Jumat (9-8-2019). 

Rektor Itera, Prof.Ir. Ofyar Z. Tamin mengatakan, topik kajian tentang permasalahan lingkungan dinilai amat penting, terutama bagi Sumatera. 

"Selama ini negara Jepang merupakan salah satu negara di dunia yang dinilai mampu mengatasi permasalahan lingkungannya dengan baik," kata dia dalam sambutannya.

Rektor juga mendorong para dosen dapat berdiskusi lebih lanjut dengan Prof. Matsumoto terkait topik penelitian hingga kesempatan melanjutkan pendidikan S3 di Kampus Kitakyushu, Jepang.

Sementara di hadapan peserta studium generale, Prof. Toru Matsumoto menyampaikan bahwa negara Jepang memiliki sejarah keberhasilan dalam mengatasi polusi udara dari tahun 1960 saat industri tumbuh pesat. 

Namun dalam 30 tahun terakhir, masalah tersebut dapat teratasi dengan program Zero-Emission dan Eco-Town Project yang telah membalikkan negeri penuh polusi di 1960 menjadi langit bersih dalam 30 tahun dan menjadi salah satu negara dengan udara terbersih di dunia.

Prof. Matsumoto juga menjelaskan mengenai Life Cycle Assessment (LCA), sebuah metode yang dapat diterapkan sebagai bahan pertimbangan suatu negara dalam menentukan keputusan teknologi apa yang tepat dibuat untuk meminimalisasi dampak buruk aktivitas industri.  

“Life Cycle Assessment menjadi metode pendekatan untuk menilai seberapa besar atau kecilnya dampak pembuangan dari sebuah proses produksi Industri,”ujar Prof Matsumoto.

Terkait pengendalian sampah, Prof. Matsumoto juga membahas konsep manajemen sampah melalui skema bank sampah. 

Bank sampah merupakan manajemen sampah yang basisnya masyarakat yang memungkinkan orang untuk mendapatkan profit dari sampah yang didaur ulang. 

"Jika sampah dapat diolah secara baik, sebenarnya sampah tidak semua diuraikan tetapi diolah untuk menjadi barang yang memiliki nilai jual," katanya.

Konsep ini sangat potensial jika diterapkan di Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk yang amat besar yakni sekitar 260 juta penduduk dan menghasilkan sampah hingga 65,2 juta ton sampah.

Direktur ITERA International Office, Acep Purqon menambahkan, studium generale tersebut menjadi praktik baik untuk Indonesia yang belajar dengan negara Jepang dalam manajemen lingkungan.  

Karena itu, ITERA dan University of Kitakyushu akan merancang kerjasama dalam bentuk memorandum of understanding (MoU) khususnya dalam pengiriman dosen untuk menempuh program doctoral, pertukaran mahasiswa serta melakukan riset bersama.

“Dengan belajar dari ahlinya, Itera berharap dosen akan fokus untuk menyelesaikan persoalan di Sumatera. Tentunya hal itu tak dapat dilaksanakan sendiri. Jepang punya kisah sukses karena menerapkan kemitraan dengan melibatkan ABGC  yakni Academics, Business, Government, Communities,” tutur Acep.(acw)



Leave a Comment