Membangun Toleransi dari Makna Konflik Agama

img
Ilustrasi/ist

MOMENTUM, Yogyakarta--Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman. Kemajemukan masyarakat Indonesia, dari agama, ras, suku, dan budaya yang sering kali berpotensi pada munculnya berbagai konflik, seiring semakin dinamisnya masyarakat yang mengelompokkan diri dalam berbagai organisai sosial.

Agama sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang bersifat adikodrati memiliki fungsi sebagai sistem nilai dalam kehidupan. Itulah mengapa, betapa pentingnya untuk memaknai kembali apa itu agama jika disandingkan dengan kemajemukan yang ada di tengah masyarakat.

Sebagai sistem nilai, agama memberikan pedoman, batasan, dan arah kehidupan, yang mana akan mempengaruhi setiap tindakan manusia. 

Agama seringkali dimaknai dalam bentuk kontradiktif. Agama dapat hadir dalam bentuk inspirasi cinta, perdamaian, keharmonisan antarsesama manusia. Akan tetapi terkadang agama juga dihadirkan sebagai motivasi untuk melakukan kebencian, kekerasan bahkan peperangan.

Upaya menafsirkan kembali ajaran agama sangat penting dilakukan, atas kekeliruan cara pandang terhadap agama itu sendiri yakni dengan menempatkan agama sebagai sumber konflik. 

Harapan setelah mendapatkan titik temu dari persoalan tersebut yakni konflik antarumat beragama di Indonesia akan redam jika para pemeluk agama saling toleransi. 

Dari berbagai agama, Islam merupakan agama yang mengajarkan nilai-nilai toleransi agama dalam batas-batas tertentu pada pemeluknya, terutama toleransi terhadap pemeluk agama lain.

Menurut Haidlor Ali Ahmad (2014: 17) konflik keagamaan adalah situasi dimana individu atau kelompok mengalami pertentangan dan dilema terhadap wilayah agama, bersifat manifes dan laten, dapat memberikan kontribusi negatif (kekerasan) dan positif (damai), serta dapat dicegah, dikelola, dan dipecahkan terhadap sumber-sumber konflik. 

Disebutkan di antara sumber konflik itu berkaitan dengan ihwal intern keagamaan, seperti pendirian tempat ibadat, penyiaran agama, bantuan luar negeri, perkawinan berbeda agama, perayaan hari besar keagamaan, penodaan agama, kegiatan aliran sempalan, dan aspek non agama yang mempengaruhi politik-ekonomi.

Konflik agama yang paling mengerikan adalah konflik yang disandarkan pada sebuah “klaim kebenaran." Hal tersebut dapat membawa kerusakan, baik yang bersifat fisik maupun psikis. 

Klaim kebenaran menjerumuskan pelaku konflik agama, pada pemikiran membenarkan tindak kejahatan yang dilakukan dianggap sebagai upaya mencapai kemuliaan spiritual.

Islam telah mengajarkan umatnya untuk senantiasa saling menghargai dan menghormati. Kaitannya dengan pluralitas agama, Islam menetapkan prinsip saling menghormati dan mengakui eksistensi masing-masing agama, seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, pada QS. al-Kaafirun ayat 6 yang artinya, “Untuk kamu agamamu, dan untukku agamaku”. 

Setiap manusia mempunyai hak atas pilihannya serta wajib menjunjung tinggi rasa toleransi. membangun toleransi dalam menghadapi pertikaian ataupun konflik agama dapat dilakukan melalui 3 aspek. 

Pertama, aspek sosial yakni dengan mengaktifkan kegiatan umum kemasyarakatan guna memupuk ukhuwah wathaniyah dan mengembangkan lembaga sosial keagamaan untuk membina kerukunan antarumat beragama. 

Kedua, aspek pendidikan yakni dengan mengintegrasi-interkoneksikan nilai-nilai pendidikan multikultural dalam materi pembelajaran maupun nilai-nilai pendidikan karakter dalam kultur sekolah. 

Ketiga, aspek hukum yakni dengan menegakkan peraturan atau instrumen sebagai alat untuk mewujudkan ketertiban dan perdamaian. (**)

Penulis: Ana Rodhiyatus Sholikhah (Mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fkultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)



Leave a Comment