Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
MOMENTUM -- Sepekan Amerika Serikat (AS)-Israel memerangi Iran ditandai dengan kehendak Trump bahwa Iran harus menyerah tanpa syarat. POTUS ke 45 dan 47 ini serius akan menyerang menggunakan kekuatan Angkatan Darat dengan 110 ribu pasukan tempur. Padahal target area pemboman AS berdekatan dengan sekolah sehingga terbuka peluang 1332 korban sipil dan anak-anak makin bertambah.
Trump bermimpi, kata Iran. Faktanya perang memang kejam, sekejam Israel dalam melakukan genosida dan kejahatan kemanusiaan di Gaza dan di berbagai belahan dunia lainnya. Sebaliknya, menurut sejumlah media arus utama Barat, Iran justru meminta maaf pada negara tetangga karena makin meluasnya perang. Tentu, Iran membela diri karena diserang. Iran kemudian menunda penyerangan ke negara tetangganya kecuali ia diserang.
Bersamaan dengan itu AS menghendaki, "boneka"-nya menjadi pemimpin Iran. Terdengar isu santer, anak Reza Pahlevi ialah tokoh yang disetujui Trump. Seperti juga di Venezuela, Delcy Rodriguez sebagai pengganti Nicolas Maduro merupakan pengganti yang memang disiapkan Washington sejak lama.
Terlihat jelas, konflik antara Iran melawan poros AS-Israel di Timur Tengah bukan sekadar eskalasi militer biasa. Ia adalah panggung ujian bagi narasi besar yang selama puluhan tahun didominasi oleh Barat: superioritas teknologi, hegemoni global, sistem ekonomi politik berbasis liberal dan legitimasi moral peradaban modern. Teruji dan besar nyali sangat tergantung pada tinggi redahnya keyakinan hati dan pikiran. Maka persoalannya bukan premium atau mutakhirnya persenjataan.
Baca Juga:
Memelihara Posisi Dominasi Dolar dalam Perang AS-Israel Versus Iran
Liarnya Perang Iran vs Amerika
Bersamaan dengan kehebatan persenjatan yang mendentumankan rudal, perang intelijen, dan propaganda geopolitik itu, muncul tiga fenomena. Antara lain: runtuhnya mitos teknologi militer Barat, memudarnya hegemoni Amerika, dan munculnya kembali kepercayaan diri dunia Islam. Fenomena ini yang jarang diakui oleh Barat justru diam-diam masuk ke relung hati prajurit dan masyarakat AS. Di Pentagon, misalnya, muncul protes kepada Menteri Perang AS Pete B. Hegseth. Kalangan Kristen bahkan menggugat perang ini agar agama tidak menyertai semangat memerangi terhadap Iran. Jelas, saat moral bicara, kemunafikan dan kedustaan pasti lawannya.
Runtuhnya Mitos Kecanggihan Teknologi Barat
Selama beberapa dekade, dunia disuguhi keyakinan bahwa teknologi militer Barat ---terutama milik AS dan Israel--- adalah simbol supremasi yang nyaris tak tertandingi. Tak boleh disangkal, AS adalah negara pemilik hulu ledak nuklir terbanyak, yakni sekitar 5200. Di antara jumlah itu, yang siap tekan tombol diluncurkan sebagai senjata nuklir antar benua (Inter Continental Ballistic Missile/ICBM). Bayangkan, kekuatan bom atom yang menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima hanya lima kilogram. Karena merasa ingin terus menerus menjadi penguasa dunia dan membuktikan kecanggihannya persenjataan militernya, patut diduga perhulu ledak nuklir itu mungkin sudah lebih dari lima kilogram. AS ingin ditakuti sekaligus ingin dienggani, bukan disegani. Bahkan Israel seakan bersedia dibenci.
Toch “persaudaraan” dua negara ini tidak peduli. Sistem pertahanan udara berlapis, satelit militer, kecanggihan perang siber, hingga drone generasi terbaru mereka sering digambarkan sebagai “perisai tak tertembus”. Narasi ini membentuk persepsi global bahwa konfrontasi langsung dengan Barat identik bunuh diri massal. Namun, konflik yang melibatkan Iran kali ini mulai memperlihatkan retakan mitos tersebut. Seperti juga kekuatan pertahanan militer Hamas di Gaza, Iran mampu membuktikan semangat juang dan mutakhirnya kekuatan persenjataan negeri petarung ini.
Nyaris mendekati lima dekade di bawah sanksi internasional dan embargo ekonomi, Iran dipaksa membangun industri militernya secara mandiri. Sanksi dan embargo itu adalah karunia Allah, kata mereka. Dari rudal balistik hingga drone tempur, dari sistem peperangan elektronik hingga taktik perang asimetris -- semua berkembang di luar ekosistem teknologi Barat. Di sini terlihat paduan keyakinan dan keilmuan mengemuka. Maka pesan terselubung (tacit messages) atas memerangi Iran adalah perang agama (lihat berbagai artikel kami sebelumnya).
Hasilnya adalah paradoks geopolitik. Negara yang selama ini diisolasi justru berhasil menciptakan kemampuan militer yang cukup untuk menantang sistem keamanan regional yang dibangun oleh Amerika dan sekutunya. Menyerah tanpa syarat dan muncul boneka AS di Teheran adalah hancurnya harga diri bangsa. Seribu prosen Iran menolak.
Hal ini, bukan berarti perang narasi dan teknologi Barat runtuh. Tapi satu hal menjadi jelas: keunggulan teknologi tidak identik dengan dominasi mutlak. Strategi desepsi, narasi yang memainkan persepsi, dan perang proksi yang mengaburkan pesan sejati atas perang menunjukkan persenjataan mutakhir perang penting, tapi tidak utama. Di sini terbukti semangat para prajurit perang yang menentukan bagaimana daya juang saling meniadakan.
Pudarnya Hegemoni Amerika
JE Stiglitz menulis, hegemoni AS tamat. Kalangan intelektual lain menyatakan, dengan kekuatan militer dan jargon peace through strength, hegemoni tersisa karena berbasis kekuatan militer disertai semangat agama. Tanpa dua hal ini, AS dan Israel dijauhi. Jelas, memudarnya hegemoni AS di Timur Tengah terlihat nyata saat Trump mengemis negara-negera Teluk berinvestasi di AS dan membeli senjata AS sambil menjadikan beberapa kawasan sebagai basis militer AS di Timteng. Sejak berakhirnya Perang Dunia II, AS menjadi penjamin keamanan utama bagi Monarki Teluk dan sekutu regionalnya. Armada militer, pangkalan permanen, serta aliansi pertahanan dibangun untuk memastikan stabilitas kawasan sekaligus melindungi kepentingan energi global di bawah kendali AS.
Akan tetapi, dalam satu dekade terakhir -- arsitektur keamanan itu mengalami keretakan. Jajaran negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak lagi sepenuhnya menggantungkan keamanannya pada Washington. Mereka membuka jalur diplomasi dengan China serta memperkuat hubungan strategis dengan Rusia. Perubahan dan pergeseran ini mencerminkan satu realitas bahwa dunia tidak lagi unipolar. Arab Saudi pun tergiur dengan BRICS, sekaligus tertarik dengan desain Belt and Road Initiative China. Terdengar isu bagaimana Arab Saudi merancang bangun sistem big data dengan China.
Penarikan pasukan AS dan sekutu dari Afghanistan pada 2021 ---yang berujung pada kembalinya kekuasaan Taliban--- menjadi simbol paling dramatis dari pergeseran tersebut. Setelah dua dekade perang dengan biaya triliunan dolar, koalisi militer Barat akhirnya meninggalkan medan perang tanpa kemenangan yang jelas (kalau tidak boleh menyebut: Barat kalah perang). Bahkan dengan luruhnya modal sosial di AS dan Israel di panggung global, dua negara ini sudah kalah meraih simpati internasional. Dewan keamanan PBB nampaknya akan bersuara agar pemboman terhadap Iran segera dihentikan. Organisasi ini melihat, tombol Perang Dunia III akan dipencet jika perilaku AS dan Israel terus-menerus melanggar hukum internasional dan moral global adalah narasi gombal.
Bagi dunia geopolitik global -- terutama banyak negara di Timur Tengah, pesan dari peristiwa itu sangat terang: kekuatan militer terbesar di dunia pun memiliki batas. Dan memang, segala sesuatu ada ukuran dan timbangannya, segala sesuatu tunduk pada hukum Bejana Berhubungan dan Archimedes. Saat keseimbangan global terganggu, pasti ada daya yang menyeimbangkan. Entah bagaimana dan dari mana daya penyeimbang itu mengemuka. Entah dari China yang membantu satelit navigasi real time kepada Iran guna mengunci posisi USS Abraham Lincoln dan USS Geral R Ford. Yang jelas kemampuan AS dan Mitra Teluk sirna dalam melakukan operasi siluman. Mungkin juga dari Rusia yang membantu informasi tentang sasaran rudal Iran secara presisi sehingga Haifa berhasil dirudal secara telak. Kemenangan total serangan AS dan Israel atas Iran akhirnya menjadi kebohongan publik. Melalui timbulnya rasa takut rakyat Israel, tanpa invasi darat Iran terbukti mampu menghancurkan struktur soal Israel.
Berbaliknya Narasi Dunia Islam
Fenomena ketiga adalah perubahan persepsi terhadap dunia Islam dalam geopolitik global. Ya, selama dua abad terakhir, sebagian narasi Barat kerap memotret dunia muslim sebagai entitas tertinggal, irasional, teroris, rentan radikalisme dan lainnya. Stereotip ini menjadi justifikasi kultural bagi intervensi baik politik, ekonomi maupun militer di berbagai kawasan. Dalam ketertinggalan itu, dunia Islam, sebagaimana rumusan Samuel P Huntington adalah musuh peradaban potensial Barat. Lagi-lagi, Barat berhasil memecah belah, mengadu domba mereka.
Namun, realitas geopolitik belakangan justru menunjukkan dinamika yang berbeda. Iran, misalnya, mampu bertahan menghadapi sanksi ekonomi paling berat selama 49 tahun tanpa runtuh secara struktural. Negara itu bahkan mengembangkan kemampuan teknologi strategis ---mulai dari program nuklir sipil hingga industri drone--- yang membuatnya tetap relevan dalam peta kekuatan regional. Berkali-kali demonstrasi di Teheran yang bertujuan mengganggu stabilitas politik nasional selalu berhasil dilumpuhkan. Isu HAM dan demokrasi tidak mempan. Kebebasan yang dijual AS dicerna sebagian masyarakat dan tokoh Iran, tapi sirna ditelan rezim kepemimpinan berbasis Islam.
Lebih daripada itu, konflik-konflik panjang di Timur Tengah memperlihatkan bahwa faktor moral, jiwa juang, identitas, dan keyakinan kerap menjadi energi perlawanan yang jauh lebih kuat daripada kalkulasi fisik-militer semata. Di titik ini, perang tidak lagi sekadar pertarungan senjata. Ia berubah jadi pertarungan makna, suatu pertarungan yang menunjukkan kokoh atau lembeknya makna keyakinan memegang pedoman kehidupan. Sistem perwakilan kepemimpinan di Iran sangat memahami serta sesuai dengan pengalaman peradaban dan pertarungan kehidupan, bahwa kebatilan dan kedzaliman tidak akan mendapatkan makna kehidupan hakiki kecuali kesementaraan dan kedangkalan. Kebatilan pasti terkalahkan dan penindasan hakikat kemanusiaan pasti sirna. Subjektivitas kaum bahwa mereka lebih mulia dari manusia lain telah hapus dari struktur global justru karena dusta dan dzalim AS dan Israel sendiri.
Dimensi yang Dilupakan: Metafisika Geopolitik
Di sini letak titik rabun pada banyak analisis geopolitik Barat: kegagalan memahami dimensi hakikat kebenaran sejati dalam konflik global. Daya Financial-Military Industrial Complex niscaya menumbuhkan kebanggaan. Kekuatan militer, teknologi, dan ekonomi memang menentukan. Namun sejarah menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut bukan modal utama untuk memenangkan perang. Seperti pada peristiwa perang Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Panglima Perang Malahayati yang menang melawan Belanda. Padahal Belanda bersekutu dengan Inggris dan Portugal. Ini suatu peperangan yang memalukan karena puncak petarungan perempuan melawan lelaki, dan lelaki yang curang itu pun kalah. Lelaki itu adalah panglima perang Belanda Cornelis de Houtman.
Begitu juga saat rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaannya dalam Pertempuran Surabaya pada 10 Nopember 1945, mereka tidak memiliki persenjataan modern setara Sekutu. Tetapi semangat kolektif, jihad dan keyakinan moral mampu menciptakan perlawanan yang mengejutkan dunia. Dua jenderalnya mati. Sekutu balik kandang. Dua kali Barat dikalahkan di tanah Nusantara yang daya juangnya berbasis pada keyakinan iman dan keilmuan.
Hal serupa terlihat dalam perang dua puluh tahun (2001-2021) di Afghanistan yang akhirnya memaksa mundur koalisi militer Barat (43 negara -- NATO dan ISAF) pimpinan AS. Juga kekalahan dalam lingkup perang industri manufaktur, perang nilai tukar, perang teknologi dan perang sistem ekonomi politik. AS dipaksa melanggar komitmen moral globalnya sendiri. Lalu, AS memaksa bahwa sistemnya yang prima dibanding sistem yang lain. Padahal pemaksaan ini yang membuktikan kekalahan.
Fenomena seperti inilah yang boleh disebut sebagai metafisika geopolitik: dimensi kekuatan yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh kalkulasi material. Ia berhubungan dengan moral kolektif, identitas peradaban, dan keyakinan spiritual yang membentuk daya tahan suatu bangsa. Ditambah lagi dengan sikap dusta berkesinambungan dan kemunafikan struktural yang pasti akan berbuah kebusukan baik dari dalam maupun luar.
Dalam perspektif ini, inti peperangan bukan semata siapa yang memiliki senjata paling canggih. Namun, siapa yang memiliki daya tahan moral paling kuat untuk bertahan. Kekuasaan berbasis kekuatan, kekayaan dan ketenaran niscaya lenyap dimakan zaman. Kebenaran memang bisa disingkirkan tapi ia tidak bisa dikalahkan. Lagi, kesejatian hidup tidak hanya tergantung pada materi (kebendaan, fisik jasmani). Kemampuan memberi manfaat positif bagi kemanusiaan akan membimbing bagaimana kesejahteraan, kedamaian dan keadilan manusia yang memanusiakan dicapai melalui pedoman baku tak terkalahkan sepanjang kehidupan.
Karena pada akhirnya, sejarah berkali-kali menunjukkan satu hal sederhana bahwa teknologi bisa memenangkan pertempuran. Tetapi keyakinan sering kali menentukan arah sejarah. Dan Timur Tengah hari ini, sedang menjadi panggung terbaru bagi pelajaran lama (metafisika geopolitik) tersebut disebabkan kebenaran hakiki selalu memenuhi dahaga ketenteraman dan keadilan. Lagi, segala sesuatu memang dipergilirkan. Tak ada yang mampu menunda atau menghentikan. Jelas, ini bukan cuma invasi militer dan invasi kedaulatan bangsa. Tapi juga intervensi keyakinan dan sistem kehidupan. Mau nonton dan sekadar menjadi saksi atau mau ikut menegakkan kebenaran, silakan tentukan. (**)
Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
Editor: Muhammad Furqon
