Oleh M. Arief Pranoto
Pengantar: “Kegelisahan Washington”
TERNYATA perang bukan soal banyak-banyakan pasukan atau canggih-cangihan mesin perang, ternyata ia tentang kalkulasi. Itu yang utama. Ketika kalkulasi melenceng, perang bisa berubah menjadi beban, jebakan, bahkan bisa berujung kekalahan. Inilah kabut misteri yang sekarang menyelimuti Perang Teluk 2026, sebuah peperangan yang kian hari ---bagi Donald Trump--- nyaris menyerupai buah simalakama: maju kena, mundur kena.
Di Washington, ada kegelisahan yang tidak lagi rumor. Lingkaran dalam Gedung Putih dikabarkan terbelah. Sebagian penasihat keamanan mendorong gencatan senjata. Ini langkah rasional menyelamatkan sisa hegemoni Amerika Serikat (AS) yang terus melorot dari waktu ke waktu. Namun tampaknya, Trump memilih jalur sebaliknya, ia mempertahankan melalui beragam retorika demi menjaga citra diri dan hegemoni superpower: “polisi dunia”.
Kendati baru asumsi, sepertinya Trump berada di ruang gema (echo chamber). Selain songong, ia hanya mendengar lingkaran dalam seperti Menteri Perang Pete Hegseth, yang oleh media Israel digambarkan sebagai sosok yang tak punya kapasitas dan tidak memiliki pengalaman. Pembisik lainnya, juga sosok kontroversial semacam Lindsey Graham, Stephen Miller dll -- yang pertimbangannya cenderung Islamophobia, bukan hitung-hitungan geopolitik.
Lebih lanjut, Hegseth mencoba melembagakan persepsi perang dalam wilayah area religi guna menggelorakan moral prajurit yang mulai luruh. Tapi di luar dugaan, Paus Leo XIV malah mengecam perang Iran versus AS-Israel sebagai “skandal kemanusiaan.” Tuhan menolak doa orang-orang yang mengobarkan perang, kata Paus Leo dikutip dari The Independent, Minggu (22/3/2026).
Dalam politik global, narasi kerap dianggap sama pentingnya dengan fakta. Namun kali ini, fakta di lapangan jauh lebih brutal daripada narasi itu sendiri, karena dinamika lapangan sangat telanjang di ruang digital.
Pada sisi lain, ada tekanan kuat dari Benjamin Netanyahu. Baginya, perang kali ini bukan sekadar konflik lazim. Ini instrumen geopolitik. Tanpa cipta-konflik, Iran berpotensi mengkonsolidasikan pengaruhnya di kawasan -- hal yang secara eksistensial bakal mengganggu ambisi Israel dalam rangka menggapai Israel Raya. Maka tak mengherankan jika Tel Aviv mendorong Washington untuk terus berperang, bahkan tatkala biaya politik dan militer makin tak terkendali.
Asumsi Rapuh
Pokok masalahnya adalah: sejak awal, perang ini berdiri di atas asumsi rapuh. Doktrin decapitation strike (“potong kepala”) ---menebas struktur puncak untuk melumpuhkan sistem lawan--- memang kerap berhasil dalam konteks tertentu. Tapi pada kasus Iran, asumsi itu tidak berlaku, justru berbalik arah. Sosok seperti Ali Khamenei tidak hanya simbol kekuasaan, tetapi bagian dari sistem nilai-ideologis yang jauh lebih dalam. Hal inilah yang mungkin lepas dari kajian para analis dan think tank Barat yang sekuler. Mereka mengira, bahwa dengan “menebas kepala” akan meruntuhkan (sistem) negara. Ternyata, itu asumsi keliru dan ceroboh.
Pasca-Ali Khamenei tewas, alih-alih runtuh, Iran cepat beradaptasi kemudian bangkit. Balasan rudal balistik menunjukkan bahwa kapasitas militernya tidak hanya mampu bertahan, tetapi dapat mengubah ritme pertempuran. Hal ini yang tidak diprediksi Washington. Dalam asumsi perang modern, kemampuan adaptasi kerap kali lebih menentukan daripada kondisi awal. Dan Iran memahami hal itu lebih cerdas ketimbang lawannya.
Realitas versus Narasi
Trump berkali-kali mengklaim keberhasilan menghancurkan sistem pertahanan Iran. Namun realitas di lapangan memperlihatkan kontradiksi tajam. Serangan tetap masif, pangkalan militer dan lokasi strategis AS di Kawasan Teluk dilaporkan lumpuh, dan efektivitas sistem pertahanan yang dibangun ratusan miliar dolar selama puluhan tahun layak dipertanyakan efektivitas (fungsi)-nya. Apalagi, dimulai pada Rabu, 1 April 2026, menurut sumber terpercaya -- Iran menyatakan bahwa perusahaan AS-Israel yang secara aktif terlibat dalam desain teroris akan dikenakan tindakan pembalasan atas tindakan teror apapun.
Jika demikian yang terjadi, ini bukan lagi kegagalan taktis-fungsional, tetapi telah menjelma menjadi kegagalan sistemik-struktural.
Jika menengok lebih dalam lagi, perang ini membuahkan retaknya solidaritas Barat. Uni Eropa ---selama ini menjadi aliansi utama AS--- memilih jaga jarak. Bukan tanpa alasan, sejak Konflik Ukraina 2022 meletus, kapasitas ekonomi dan sosial di Eropa: tertekan. Inflasi energi, krisis biaya hidup, dan kelelahan politik membuat mereka enggan terseret dalam konflik baru yang berisiko jauh lebih besar. Dalam geopolitik, loyalitas pada aliansi kerap berhenti manakala harus membayar risiko politik terlalu tinggi dan kepentingan nasional terancam.
Di jajaran NATO, Spanyol memberi contoh menolak memberi izin pesawat tempur AS mendarat di wilayahnya, disusul Prancis, kemudian Italia – semua atas nama kepentingan nasional. Pesannya lantang: ini adalah perang Trump, bukan perang mereka!
Dilansir oleh Fars, Jenderal Michel Yakovleff, senior jenderal Prancis membela strategi negara-negara Eropa yang tidak bergabung dengan koalisi AS. Kritiknya cukup menggelitik terkait kebijakan Washington di Selat Hormuz, bahwa bergabung dengan koalisi Trump sama seperti membeli tiket dansa malam di Titanic. Bekerja sama dengan AS di kawasan tersebut sama saja dengan “bunuh diri politik”.
Api Menjalar ke Bab el-Mandab: Multi-Front Asymmetric Warfare
Dimensi ekonomi global terguncang. Gangguan di Selat Hormuz bukanlah sekadar isu regional – karena ia urat nadi energi dunia. Sekitar 20-30 persen pasokan minyak global melewati jalur ini setiap hari. Gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga minyak, apalagi “ditutup”. Jika gangguan semodel ini meluas hingga ke Selat Bab el-Mandab dan Laut Merah -- dampaknya akan berlipat ganda, khususnya gangguan terhadap rantai pasok energi dari Asia hingga Eropa.
Selain itu, aktor non-negara seperti milisi Houthi ---proxy Iran di Yemen--- melebarkan konflik. Keterlibatan mereka ditandai dengan serangannya terhadap tentara Israel di Palestina Selatan. Dan isu paling aktual adalah: deklarasi keterlibatan Yemen dan Irak dalam koalisi Iran di Perang Teluk 2026. Ini menandakan bahwa konflik telah melampaui antarnegara serta memasuki apa yang disebut multi-front asymmetric warfare. Dalam kondisi seperti ini, kemenangan militer konvensional makin sulit dikalkulasi.
Kontras yang Mencolok
Kondisi internal di masing-masing pihak yang bertikai, kontrasnya sungguh mencolok. Di AS, misalnya, protes anti-perang bertema “No Kings” (tidak ada raja) bergelombang hampir di 50-an Negara Bagian yang memuncak pada 28 Maret 2026 kemarin (sekitar 8 juta massa). Hal ini mencerminkan, selain ketidaksetujuan sebagian publik terhadap perang, memprotes kebijakan otoriter terkait imigran, isu File Epstein, dan nampaknya gerakan No Kings juga dianggap sebagai potret benturan antara Partai Demokrat versus Partai Republik telah tumpah-ruah di jalanan guna merebut opini publik jelang Pemilu Sela November 2026 nanti.
Di Iran berbeda kondisi, konflik malah memunculkan dukungan masif warga terhadap rezim kekuasaaan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa konflik dengan aktor eksternal justru memperkuat kohesi di internal. Pesan tersirat rakyatnya jelas: "jangan layani ajuan perundingan dari pihak lawan". Mudahnya memobilisasi sejuta paramiliter dalam rangka menghadapi invasi darat AS mengindikasikan betapa solidnya kohesi tersebut. Sementara di Israel, tekanan ekonomi dan keamanan domestik mulai terasa nyata. Sepertiga warga Israel, misalnya, dikabarkan tidak punya perlindungan keamanan. Bunker tak memadai. Sementara dua pertiganya hidup dengan penuh ketidakpastian di tengah (bunker) peperangan. Pengungsian warga Israel pun tak terbendung.
Isu lain yang memperburuk citra Israel adalah insiden terhadap tiga jurnalis perang, termasuk korban dari pasukan perdamaian asal Indonesia. “Dunia berduka cita”. Di era informasi kini, legitimasi moral memang sama pentingnya dengan kekuatan militer. Dan di medan ini, nampaknya Israel semakin kehilangan banyak simpati dari publik global.
Penutup: Perang Tanpa Kepastian
Pada gilirannya, Trump menghadapi tekanan tak hanya soal perang, melainkan solidaritas yang mulai retak -- baik NATO yang tak mau terlibat dalam peperangan, maupun perselisihan dengan Israel sendiri soal tiga poin perundingan yang tidak pernah diajukan secara langsung kepada Iran (AS bernegosiasi dengan diri sendiri). Poin dimaksud meliputi: (1) masa depan program rudal balistik; (2) pemindahan uranium yang diperkaya; dan (3) pelonggaran sanksi ekonomi.
Tak boleh dipungkiri, Trump menghadapi dilema akut kekuasaan: antara rasionalitas strategis dan ego politik. Mundur berarti mengakui kegagalan. Maju berisiko mempertaruhkan banyak kerugian tanpa jaminan kemenangan. Itulah buah simalakama.
Manajemen peperangan kerap mengajarkan: konflik yang dimulai tanpa perencanaan matang jarang berakhir dengan kemenangan. Pada kasus ini, tanda-tandanya semakin terang, bahwa langkah yang semula ditujukan sebagai demonstrasi kekuatan (show of force) saja ---semacam shock and awe--- berubah lepas kendali serta berpotensi menjadi simbol kerentanan, bahkan alarm kekalahan. Satu pelajaran bisa dipetik:“dalam intelijen-geopolitik, kesalahan terbesar bukanlah kalah perang, ia dimulai tatkala berangkat perang berbasis ketidakpastian, tanpa penguasaan medan, tanpa kalkulasi yang benar-benar jelas dalam menghitung kemenangan." Kenali dirimu dan kenali lawanmu, maka seratus pertempuran pun dimenangkan, kata Sun Tzu.
Dan agaknya, ego kekuasaan Trump kini berdiri sendirian di tepi jurang ketidakpastian. Entah sampai kapan. (**)
Editor: Muhammad Furqon
