PABSI-PABERSI Layangkan Surat Terbuka, Kritik Minimnya Dukungan KONI Lampung Jelang PON 2028

img
Ketua Harian PABSI Lampung, Edi Santoso. Foto: Ist.

MOMENTUM, Bandarlampung – Pengurus Provinsi Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) dan Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABERSI) Lampung melayangkan surat terbuka kepada Ketua Umum KONI Provinsi Lampung beserta jajaran. 

Surat yang ditandatangani Ketua Harian PABSI Lampung, Edi Santoso, itu berisi kritik terhadap minimnya dukungan anggaran pembinaan atlet menjelang PON 2028.

Surat terbuka tersebut disampaikan bertepatan dengan pelaksanaan Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Lampung. PABSI dan PABERSI menilai perhatian Pemerintah Provinsi Lampung terhadap dunia olahraga, khususnya cabang olahraga unggulan, terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam suratnya, Edi Santoso menyebut sejak persiapan PON XX Papua 2021, dukungan anggaran pembinaan bagi cabang angkat besi dan angkat berat mengalami penurunan drastis. Menurutnya, pembinaan atlet yang sebelumnya berjalan berkelanjutan kini tidak lagi mendapat dukungan memadai.

"Kami prihatin karena cabor angkat besi dan angkat berat seolah bukan lagi menjadi ikon olahraga Lampung sehingga perhatian dalam hal anggaran semakin berkurang," tulis Edi, Selasa (21/7/2026).

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa persiapan PON 2008 di Kalimantan Timur. Saat itu, kata dia, PABSI memperoleh dukungan pembinaan sekitar Rp4 miliar selama periode 2004-2007 yang digunakan untuk program latihan dan mengikuti berbagai kejuaraan internasional.

Hasilnya, Lampung meraih 18 medali emas pada PON 2008, dengan 14 medali emas di antaranya disumbangkan cabang angkat besi dan angkat berat.

Menurut Edi, capaian tersebut membuktikan bahwa investasi pembinaan atlet berbanding lurus dengan prestasi yang diraih. Namun, kondisi saat ini dinilai jauh berbeda.

Ia mengungkapkan proposal pembinaan senilai sekitar Rp1,5 miliar untuk mengejar empat hingga lima medali emas hanya disetujui sebesar Rp50 juta.

"Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum atlet selama dua bulan," katanya.

Dalam surat tersebut, PABSI juga mempertanyakan komitmen KONI Lampung terhadap cabang olahraga unggulan. Mereka menilai penetapan target prestasi tanpa diimbangi dukungan anggaran merupakan kebijakan yang tidak realistis.

PABSI mengibaratkan kondisi tersebut seperti mengirim atlet ke medan perang tanpa menyediakan senjata, logistik, maupun sarana pendukung.

Selain itu, mereka menyoroti belum adanya bantuan pembinaan yang diterima cabang olahraga hingga saat ini, sementara target membawa Lampung masuk lima besar pada PON 2028 tetap dicanangkan.

Atas kondisi tersebut, Edi mengaku pihaknya bahkan mempertimbangkan menghentikan sementara program latihan atlet agar beban pembinaan tidak semakin berat.

Dalam bagian akhir suratnya, PABSI juga meminta KONI Lampung memprioritaskan pembinaan menuju PON 2028 dibandingkan kegiatan persiapan PON 2032.

Menurut mereka, status Lampung sebagai tuan rumah PON 2032 sudah ditetapkan sehingga fokus utama saat ini seharusnya diarahkan pada pembinaan atlet yang akan berlaga pada PON 2028.

PABSI juga mengingatkan agar penggunaan anggaran pembinaan cabang olahraga tidak dialihkan untuk kegiatan terkait PON 2032. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan hukum apabila tidak sesuai dengan peruntukan anggaran.

Surat terbuka tersebut ditutup dengan harapan agar KONI Lampung merespons aspirasi cabang olahraga secara positif demi menjaga prestasi olahraga Lampung di tingkat nasional.(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos