Ketika Kurikulum Tertinggal dari Dunia Kerja

img
Nova Aulia, Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Foto: Ist.

Oleh: Nova Aulia*)

ADA sebuah ironi dalam dunia pendidikan: seseorang bisa menghabiskan belasan tahun belajar, memperoleh ijazah, bahkan meraih nilai akademik yang baik, tetapi ketika memasuki dunia kerja justru dianggap belum siap.

Di sisi lain, perusahaan mengeluhkan sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan. Lulusan tersedia, tetapi keterampilan yang dibutuhkan tidak selalu tersedia. Pendidikan berjalan, dunia kerja bergerak, tetapi keduanya tidak selalu berjalan dalam irama yang sama.

Di sinilah persoalan kurikulum menjadi penting.

Kurikulum seharusnya tidak sekadar menjawab pertanyaan tentang apa yang harus dipelajari siswa atau mahasiswa. Kurikulum juga harus menjawab pertanyaan yang lebih besar: untuk menghadapi dunia seperti apa peserta didik sedang dipersiapkan?

Jika dunia berubah cepat sementara kurikulum bergerak lambat, pendidikan berisiko menghasilkan lulusan untuk kebutuhan masa lalu.

Terlalu Banyak Belajar, Kurang Berlatih

Salah satu persoalan pendidikan kita adalah masih kuatnya orientasi pada penguasaan materi dan pencapaian nilai.

Peserta didik dibiasakan menghafal konsep, mengerjakan soal, mengejar nilai ujian, dan menyelesaikan tugas. Semua itu memang penting. Namun, dunia kerja tidak datang dengan soal pilihan ganda yang memiliki empat pilihan jawaban.

Di tempat kerja, seseorang bisa menghadapi masalah yang jawabannya tidak tersedia di buku. Ia harus mencari informasi, berdiskusi, mengambil keputusan, bekerja dalam tim, menghadapi tekanan, dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Karena itu, lulusan yang memiliki nilai akademik tinggi belum tentu otomatis menjadi pekerja yang baik.

Bukan berarti teori tidak penting. Justru teori adalah fondasi. Masalahnya, teori sering berhenti sebagai pengetahuan, bukan berubah menjadi kemampuan.

Pendidikan perlu memperbanyak ruang untuk praktik, proyek, simulasi, studi kasus, pemecahan masalah, presentasi, kerja kelompok, dan pengalaman lapangan. Peserta didik harus dibiasakan menghadapi persoalan nyata sejak masih berada di bangku pendidikan.

Dunia Kerja Berubah, Kurikulum Harus Beradaptasi

Tantangan berikutnya adalah perkembangan teknologi.

Transformasi digital telah mengubah cara manusia bekerja. Kecerdasan buatan, otomatisasi, analisis data, pemasaran digital, komputasi awan, hingga berbagai profesi baru berkembang dengan cepat.

Pekerjaan yang hari ini dianggap biasa bisa saja berubah beberapa tahun kemudian. Sebaliknya, pekerjaan yang sebelumnya tidak dikenal kini menjadi profesi yang dibutuhkan.

Persoalannya, perubahan kurikulum tidak bisa berlangsung secepat perubahan teknologi. Kurikulum membutuhkan perencanaan, pengkajian, implementasi, dan evaluasi. Sementara teknologi dapat berubah dalam hitungan bulan.

Lalu, apakah setiap teknologi baru harus langsung dimasukkan ke dalam kurikulum?

Tidak selalu.

Yang lebih penting adalah membangun kemampuan peserta didik untuk terus belajar dan beradaptasi.

Pendidikan tidak mungkin mengajarkan seluruh teknologi yang akan digunakan seseorang sepanjang hidupnya. Tetapi pendidikan harus membekali seseorang dengan kemampuan belajar, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan beradaptasi ketika teknologi baru datang.

Dengan demikian, kurikulum tidak sekadar mempersiapkan lulusan untuk pekerjaan hari ini, tetapi juga untuk pekerjaan yang mungkin belum ada saat mereka lulus.

Industri Jangan Hanya Datang Saat Merekrut

Persoalan lain adalah jarak antara lembaga pendidikan dan dunia industri.

Sering kali dunia pendidikan berjalan dengan sistemnya sendiri, sementara industri bergerak dengan kebutuhan yang berbeda. Keduanya baru bertemu ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja.

Pola seperti ini sudah seharusnya berubah.

Industri perlu terlibat sejak proses pendidikan berlangsung. Sekolah dan perguruan tinggi dapat menggandeng perusahaan melalui program magang, praktik kerja, kuliah praktisi, kunjungan industri, proyek bersama, sertifikasi, hingga penyusunan kompetensi yang dibutuhkan.

Dengan cara tersebut, peserta didik tidak hanya mengetahui bagaimana pekerjaan dijelaskan di dalam buku, tetapi juga melihat bagaimana pekerjaan itu dilakukan di lapangan.

Namun, ada satu hal yang perlu digarisbawahi: pendidikan tidak boleh berubah menjadi sekadar pabrik tenaga kerja.

Sekolah dan perguruan tinggi bukan hanya bertugas menghasilkan pekerja yang sesuai pesanan industri. Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki karakter, memahami persoalan sosial, dan mampu menentukan masa depannya sendiri.

Artinya, hubungan pendidikan dan industri harus dibangun sebagai kemitraan, bukan subordinasi.

Jangan Jadikan Nilai sebagai Satu-satunya Ukuran

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: cara kita mengukur keberhasilan belajar.

Selama nilai akademik menjadi ukuran utama, peserta didik akan cenderung mengejar angka. Mereka belajar untuk ujian, bukan selalu untuk memahami persoalan.

Padahal, dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar nilai.

Perusahaan membutuhkan orang yang mampu berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, memimpin, mengelola waktu, menyelesaikan konflik, bernegosiasi, dan mengambil keputusan.

Semua kemampuan tersebut tidak cukup diukur melalui ujian tertulis.

Karena itu, sistem evaluasi juga perlu berubah. Penilaian seharusnya tidak hanya melihat seberapa banyak informasi yang dapat diingat peserta didik, tetapi juga bagaimana mereka menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan persoalan.

Di sinilah pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman menjadi penting.

Seorang siswa yang mampu menyelesaikan sebuah proyek, mempresentasikan hasilnya, bekerja dalam kelompok, menghadapi kritik, dan memperbaiki kesalahan sesungguhnya sedang mempelajari sesuatu yang sangat berharga untuk kehidupannya kelak.

Soft Skills Bukan Pelengkap

Kita juga sering membicarakan soft skills seolah-olah ia hanya pelengkap dari kemampuan akademik.

Padahal, dalam banyak situasi kerja, kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi justru menentukan apakah seseorang mampu berkembang atau tidak.

Seorang pegawai bisa saja sangat pintar secara teknis. Tetapi jika tidak mampu bekerja sama, tidak bisa menerima kritik, sulit berkomunikasi, atau tidak mampu beradaptasi, kemampuan teknisnya tidak akan berkembang secara maksimal.

Karena itu, soft skills seharusnya tidak diajarkan melalui teori semata. Peserta didik harus diberi ruang untuk mempraktikkannya.

Organisasi siswa, kegiatan kampus, diskusi, presentasi, debat, proyek sosial, kerja kelompok, dan kegiatan lainnya sebenarnya dapat menjadi laboratorium untuk membangun kemampuan tersebut.

Pendidikan bukan hanya tentang membuat seseorang tahu, tetapi juga membuatnya mampu melakukan dan bekerja bersama orang lain.

Jangan Hanya Bertanya, “Lulus Mau Jadi Apa?”

Persoalan pendidikan juga berkaitan dengan ketidaksesuaian antara jumlah lulusan dan kebutuhan tenaga kerja.

Ada bidang pendidikan yang menghasilkan lulusan dalam jumlah besar, tetapi peluang kerjanya terbatas. Sebaliknya, sektor tertentu membutuhkan tenaga terampil, tetapi kesulitan mendapatkan sumber daya manusia yang sesuai.

Ini menunjukkan pentingnya hubungan antara perencanaan pendidikan dan perkembangan dunia kerja.

Namun, sekali lagi, solusinya bukan membuat semua orang belajar hanya berdasarkan pekerjaan yang sedang populer.

Jika pendidikan hanya mengikuti tren pasar, lulusan bisa kembali tertinggal ketika tren tersebut berubah.

Yang harus dibangun adalah kemampuan yang bersifat lebih mendasar dan tahan terhadap perubahan: kemampuan berpikir, belajar, berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi, dan memecahkan masalah.

Dengan kemampuan tersebut, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain ketika dunia berubah.

Kurikulum Harus Menyiapkan Manusia, Bukan Sekadar Tenaga Kerja

Pada akhirnya, kegagalan kurikulum menjawab kebutuhan dunia kerja bukan disebabkan satu persoalan.

Ada jarak antara teori dan praktik. Ada perubahan teknologi yang sangat cepat. Ada hubungan pendidikan dan industri yang belum optimal. Ada sistem evaluasi yang masih terlalu berorientasi pada nilai. Ada pula pengembangan soft skills yang belum menjadi bagian utama pembelajaran.

Semua persoalan tersebut saling berkaitan.

Karena itu, pembenahan kurikulum tidak cukup hanya dengan mengganti buku, menambah mata pelajaran, atau mengubah istilah dalam dokumen pendidikan.

Yang lebih penting adalah mengubah cara pandang.

Kurikulum harus dipandang sebagai alat untuk menyiapkan manusia menghadapi perubahan.

Pertanyaannya bukan hanya, “Pekerjaan apa yang tersedia ketika mereka lulus?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah mereka memiliki kemampuan untuk tetap relevan ketika dunia kerja berubah?”

Jika jawabannya ya, maka pendidikan telah menjalankan fungsinya.

Sebab lulusan yang ideal bukan sekadar orang yang siap menerima pekerjaan. Ia juga harus mampu menciptakan peluang, memecahkan persoalan, beradaptasi dengan perubahan, dan terus belajar sepanjang hidup.

Pada akhirnya, kurikulum yang baik bukanlah kurikulum yang paling banyak materinya. Bukan pula yang paling sering berganti.

Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang mampu membuat manusia tetap mampu belajar ketika dunia di sekelilingnya terus berubah.(*)

*Nova Aulia, Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos